Wednesday, September 1, 2021

Proses Kreatif | Obral Buku

Oleh Encep Abdullah 




"Sepuluh buku dua ratus lima puluh ribu. Dua puluh buku empat ratus ribu, sini transfer."


"Anjir, ogah."


"Ya Allah, aku baik loh. Miris banget lihat ini. Ini nggak mungkin terjadi pada buku bekenmu."


"Itu (bukuku yang diobral di toko buku besar) buat promosi nama aja."


"Nggak mau kau borong? Harga murah loh. Aku masih di rumah istri. Besok pulang. Kalo mau, besok aku ke toko buku lagi."


"Males ah, ngapain beli buku sendiri."


"Ya udah, aku tawarin ke orang-orang aja ya (lumayan)."


"Mangga."


"Tapi, aku malas balik lagi ke toko bukunya. Males nawarin ke orang-orang. Nggak jelas pembelinya. Kalau kau yang borong kan jelas siapa yang beli (penulisnya gitu loh)."


"Idih."


"Harga dirimu merasa dijatuhkan nggak sih digituin sama penerbit besar itu?"


"Nggak. Biasa aja. Itu buku cuma bertahan setahun kayaknya. Terbit 2017. Dan 2018 sudah reture. Tahun 2019 sudah obral."


"Itu dicetak awal berapa eksemplar sih? Sampe segitunya. Karena nggak laku apa gimana?"


"Cetak tiga ribu eksemplar. Aku kan nggak sengaja ngirim. Tapi, diminta editor. Kebetulan, tahun itu, ada banyak penulis yang bukunya diterbitkan penerbit besar ini, di antaranya si penulis asal Solo itu."


"Standarnya cetak dua-tiga ribu eksemplar memang di penerbit besar ini. Buku adikku juga gitu. Oh ya, orang-orang yang karyanya diterbitkan di penerbit besar ini tercukupi nggak sih secara finansial?"


"Kalau laku ya cukup. Kalau nggak ya sudah."


"Aku mau borong bukumu sebenarnya (karena banyak banget, harga asli lima puluh lima ribu kalau tidak salah dan diobral sepuluh ribu). Pasti bukumu laku karena namanya sedang naik daun. Tapi, aku malas bawanya ke rumah. Muatanku udah banyak di motor. Bawa anak, istri, tas, beras, titit, dan seterusnya. Belum buku-buku yang sudah aku beli."


"Hahaha."


____


Penulis beken yang saya ajak ngobrol itu salah satu penulis favoritku setelah Dody Kristianto yang kini sudah jadi penyair makalah. Jarang sekali ada penulis semaknyus ini. Ada sebagian penulis yang merasa kecewa karyanya diterbitkan di penerbit besar, "Bangsat, proyek mereka itu gila!" ujar seorang kawan.


Om, kau kan sudah tahu royalti penulis di penerbit anu itu 10% dari harga penjualan. Tapi, kau selalu saja mengeluh "jangan ngarep penghasilan dari penerbit buku". Loh, kalau sudah tahu royalti kecil kenapa masih terus ngirim tulisan ke penerbit itu? "Karena itu penerbit besar, Mas." 


Kau sendiri yang ngirim, kau sendiri yang ngeluh. Awalnya kau bahagia karena namamu terangkat oleh penerbit besar itu. Lama-lama, di tengah jalan, kau merasa mereka menjatuhkan martabatmu. Bukumu dijual dan diobral.


"Namanya juga penulis kecil Mas," bacotmu.


____


Penerbit menjual buku stok lama dengan harga murah itu ada dalam perjanjian. Bahkan kalau akhirnya tak laku ya dimusnahkan. Penerbit juga rugi. Dan pasti tak mau melakukan itu. Tapi kertas numpuk mau diapain? Encep, intinya jika ada di perjanjian maka tindakan itu sah. (Hasan Aspahani)


Padahal dikasih gratis saja ke penulisnya. Pengalamanku, aku beli bukuku sendiri harga 5.000. Lalu, kujual lagi dengan bonus tanda tangan 25.000, dan selalu habis. (Bamby Cahyadi)


Saya membeli sisa stok buku puisi saya di salah satu penerbit dengan diskon gede. Saya ditawari oleh penerbit karena mereka berhenti menerbitkan dan menjual buku. (Hasan Aspahani)


____

Dulu, saya juga pernah memborong buku karya teman saya, novel. Diterbitkan oleh penerbit besar. Kawan saya itu langsung mengiyakan, "Borong aja Cep!" Tanpa ada basa-basi. Nah, kalau ini kan enak. Saya untung, dia untung. Saya jual ke dia 25.000 per buku, dia jual lagi ke orang lain 35.000--50.000. Masih untung dia. Saya beli obral 15.000. Respons kawan saya ini cekatan. Entah dia punya uang atau tidak. Kalau tidak salah saya beli 20 eks. Dia bayari 500.000. Uhuy, rezeki nomplok. 


Hal semacam itu kerap kali saya lakukan. Itu pun kalau saya pegang uang. Kalau tidak ada pun bisa saya cari-cari kalau penulisnya mau. Namun, ada juga buku kawan saya yang diobral, tapi saya cuek tidak mau memborong bukunya. Saya cuma bilang, "ada obral bukumu di sini (sambil menunjukkan foto lokasi)". Katanya "kok nggak diborongin?" Saya bilang dan nyuruh  dia langsung datang ke TKP saja. Saya tahu kalau saya beli, orang ini pasti tidak punya uang. Dan, karyanya juga tidak bagus-bagus amat, jadi saya seperti sinis dan punya dendam kesumat sama dia, padahal tidak. 


Ada sebagian lagi yang tetap saya beli meskipun si penulis menolak saya tawari bukunya. Karena bukunya berkualitas, saya tetap membeli banyak. Bisa untuk saya jual lagi atau saya kasih gratis ke barisan para mantan. Anjiiiiir! Wekawekaweka.


Nah, kembali kepada dialog awal. Kok, ada ya orang macam itu. Dia itu memang penulis sok-kul. Merasa tidak butuh duit. Padahal, terima saja ya tawaran saya. Terus dia beli semua bukunya melalui saya dengan harga yang miring. Dan, dia bisa jual lagi dengan harga mahal. Tapi, dia memang tetap tangguh dengan pendiriannya. Dia memang butuh uang, tapi tidak asal mencari uang. Dia penulis, tapi tidak norak seperti Sul Ikhsan Rvln  dan Bayhaki . Dia menulis, tapi tidak sembarang menulis. Dia pernah bilang "bukan masalah uangnya, tapi apa efek tulisanku terhadap pembacanya". Bagaimana saya tidak lope-lope sama penulis macam ini.


Biar bagaimanapun, saya tetap menghargai harga buku asli daripada yang diobral. Tapi, kalau kebetulan melihat atau ada pameran buku bagus yang diobral, itu lebih utama daripada nemenin emak-emak yang maksain beli banyak taperwer mahal, dipake kagak, dipajang dilemari iya, digembok pula.


Nauzubillah.


Kiara, 8 Mei 2021