Jumat, 15 Oktober 2021

Dakwah | Islam Mengajak Kepada Kedamaian dan Perdamaian

  Oleh Izzatullah Abduh, M.Pd.



Setiap manusia tentu merindukan adanya kedamaian di dalam hidupnya, baik yang skalanya kecil maupun yang skalanya besar. Sebab kedamaian merupakan bagian daripada nikmat kehidupan yang sangat bernilai bagi kerukunan antar hidup umat manusia. Sehingga tak heran jika kemudian Islam menjunjung tinggi asas-asas kedamaian dan perdamaian, serta mengajak para pemeluknya untuk bisa mensyiarkan kedamaian dan perdamaian di tengah-tengah umat manusia.


Bahkan dalam hal ini, seseorang tidaklah dianggap baik keislamannya sehingga ia memiliki peran di dalam menebar pesona kedamaian bagi orang lain. 


‘Abdullah ibn ‘Amr ibn al ‘Ash radiyallahu ‘anhuma berkata bahwa seseorang pernah datang kepada Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia bertanya, “Islam seperti apakah yang baik itu?”


Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda,


تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ 


“Yaitu kamu senang memberi makanan (kepada orang lain), dan senang menebarkan pesona salam kepada orang yang kamu kenal, maupun kepada orang yang tidak kamu kenal.” (Muttafaq ‘alaih)


Islam merupakan agama yang sangat menganjurkan pemeluknya untuk senang menegur sapa orang lain yang ia jumpai baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Tentu dengan tegur sapa yang paling utama yaitu ucapan salam “Assalamu ‘alaikum”. Yang mana mengandung arti keselamatan, kedamaian, kesejahteraan, dsb. Dan dengan tegur sapa ini lah, maka perasaan cinta akan timbul dan tumbuh di dalam hati setiap orang yang dijumpai, dan juga hati yang mengucapkannya.


Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,


لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ 


“Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman. Dan kalian tidak dianggap beriman sehingga kalian bisa saling mencintai. Maka maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu amalan, yang apabila kalian kerjakan, niscaya kalian akan saling mencintai. Yaitu tebarkanlah pesona salam di antara kalian.” (HR Muslim)


Dan tidak berhenti sampai pada ucapan salam saja. Islam juga mengajak pemeluknya supaya tidak menyakiti orang lain dengan lisan maupun dengan tangannya. Maka ini menunjukkan bahwa Islam sangatlah perhatian terhadap kedamaian hidup umat manusia.


عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الْمُسْلِمِينَ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ


Dari Abu Musa al Asy'ari bahwa Nabi ﷺ ditanya, "Orang Muslim yang manakah yang lebih afdhal?" Beliau menjawab, "Seseorang yang mana Muslim lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya." (HR Tirmidzi dengan derajat shahih menurut Al Albani)


Islam selain mengajak kepada kedamaian, ia juga mengajak kepada perdamaian. Apabila suatu waktu terdapat pertikaian atau perselisihan di antara 2 orang atau 2 kelompok, maka Islam mengajak pemeluknya untuk bisa menjadi penengah yang mendamaikan dan meleraikan pertikaian atau perselisihan 2 orang atau 2 kelompok tsb.


إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ


“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat : 10)


Mendamaikan 2 orang atau 2 kelompok yang sedang bertikai dan berselisih memiliki potensi pahala yang besar, bahkan tergolong sebagai bagian dari sedekah terbaik di sisi Allah subhanahu wata’ala.


قال الواحدي: هذا مما حثَّ عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال لأبي أيُّوب الأنصاري: ((ألاَ أَدُلُّك على صدقة هي خير لك من حمر النعم)). قال: نعم يَا رسول الله. قال: ((تصلح بين الناس إذا فسدوا، وتقرَّب بينهم إذا تباعدوا)).


Al Wahidi berkata: Inilah yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau pernah bersabda kepada Abu Ayyub al Anshari,


“Maukah aku tunjukkan kepada sedekah yang lebih baik dari onta merah (harta yang paling berharga)?”


Abu Ayyub berkata, “Mau ya Rasulullah.”


Rasulullah bersabda, “Kamu mendamaikan antara manusia apabila mereka berbuat kerusakan (permusuhan, pertikaian, dsb), dan kamu mendekati mereka apabila mereka saling berjauhan.” 


Dan dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


كُلُّ سُلَامَى مِنْ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ يَعْدِلُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ وَيُعِينُ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ فَيَحْمِلُ عَلَيْهَا أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ وَكُلُّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ وَيُمِيطُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ


"Setiap ruas persendian tulang pada manusia baginya ada hak untuk disedekahi setiap hari disaat terbitnya matahari; seseorang yang mendamaikan antara dua orang yang bertikai adalah sedekah dan menolong seseorang untuk menaiki hewan tunggangannya lalu mengangkat barang-barangnya ke atas hewan tunggangannya adalah sedekah dan ucapan yang baik adalah sedekah dan setiap langkah yang ditujukan untuk shalat adalah sedekah dan menyingkirkan sesuatu yang bisa menyakiti atau menghalangi orang di jalanan adalah sedekah". (HR Bukhari)


Saking pentingnya menjadi penengah mendamaikan 2 orang atau 2 kelompok yang sedang berselisih, Islam memberikan udzur bolehnya berbohong dalam rangka mendamaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيَنْمِي خَيْرًا أَوْ يَقُولُ خَيْرًا


"Tidak dikatakan pendusta seseorang yang ingin mendamaikan antara manusia, kemudian ia menyampaikan kabar dengan baik atau berkata baik." (HR Bukhari)


Dan dalam riwayat Muslim dikatakan oleh Ibnu Syihab,


وَلَمْ أَسْمَعْ يُرَخَّصُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ كَذِبٌ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ الْحَرْبُ وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا


“Saya tidak pernah mendengar diperbolehkannya dusta yang diucapkan oleh manusia kecuali dalam tiga hal, yaitu dusta dalam peperangan, dusta untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, dan dusta suami terhadap istri atau istri terhadap suami (untuk meraih kebahagiaan atau menghindari keburukan).” 


Dan apabila kita yang sedang bertikai dan berselisih dengan orang, maka hendaknya kita bergegas mengadakan perdamaian dengannya. Tidak membiarkan pertikaian dan perselisihan itu berlarut-larut apalagi hingga melebihi 3 hari. Tapi jadilah orang terbaik yang memulai mengajak berdamai.


Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ


"Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya melebihi tiga malam, (jika bertemu) yang ini berpaling dan yang ini juga berpaling, dan sebaik-baik dari keduanya adalah ia yang memulai mengucapkan salam (mengajak berdamai)." (HR Bukhari)


Demikian, semoga bermanfaat dan semoga Allah subhanahu wata’ala selalu memberikan taufiqNya kepada kita semua. Aamiin.


Barakallahu fikum jami’an.




____

Penulis 

Ust. Izzatullah Abduh adalah Imam Masjid Andara, Cinere.






Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com