Friday, October 8, 2021

Dakwah | Mencintai dan Dicintai Allah

  Oleh Izzatullah Abduh, M.Pd.




Mencintai Allah merupakan tanda keimanan. Bahkan keimanan seseorang tidak dianggap sempurna sehingga ia mencintai Allah lebih daripada apa pun. 


 

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ


“Dan orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS Al Baqarah : 165)


Dan berbicara tentang cinta, maka tidak ada cinta yang lebih hebat daripada cinta Allah subhanahu wata’ala kepada hambaNya. Seorang ahli hikmah pernah berkata,


“Bukanlah hal yang hebat ketika engkau mencintaiNya, tapi hal yang hebat adalah ketika Dia yang mencintaimu.”


Cinta hamba kepada Tuhan itu hal yang lumrah, yang memang seharusnya. Dan setiap hamba pasti mengaku cinta kepada Tuhannya. Tapi pertanyaannya adalah apakah Dia juga cinta kepada kita selaku hamba?


Di antara aqidah ahlus sunnah adalah menetapkan untuk Allah nama-nama dan sifat-sifat yang telah Allah tetapkan untuk diriNya dan yang telah ditetapkan pula oleh RasulNya. Adapun yang akan dikaji pada tulisan ini adalah mengenai salah satu sifat Allah subhanahu wata’ala, yaitu sifat fi’liyahNya : Al Mahabbah.


Al Mahabbah artinya adalah cinta. Bahwa Allah mencintai apa yang Allah kehendaki dan siapa yang Allah kehendaki. Allah subhanahu wata’ala sendiri berfirman di dalam Al Qur’an pada banyak ayat:


إن الله يحب المحسنين (البقرة : ١٩٥)


“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Al Baqarah : 195)


إن الله يحب المتقين (التوبة : ٤)


“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (QS At Taubah : 4)


إن الله يحب المتوكلين (ال عمران : ١٥٩)


“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS Ali Imran : 159)


إن الله يحب المقسطين (المائدة : ٤٢)


Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS Al Maidah : 42)


Bahkan Allah subhanahu wata’ala pun membuka pintu cintaNya untuk orang-orang yang berdosa. Kapan? Yaitu ketika mereka bertobat kepadaNya.


إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين ( البقرة : ٢٢٢)


“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang mensucikan dirinya.” (QS Al Baqarah : 222)


Dan di dalam hadits riwayat Imam Bukhari dari jalur sahabat Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa Beliau bersabda,


إن الله تعالى إذا أحب عبدا دعا جبريل، فقال: إني أحب فلانا فأحببه، فيحبه جبريل، ثم ينادي في السماء، فيقول: إن الله يحب فلانا فأحبوه، فيحبه أهل السماء، ثم يوضع له القبول في الأرض 


“Sesungguhnya Allah ta’ala apabila mencintai seorang hamba, Allah memanggil Jibril, kemudian berkata, 'sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia,' maka Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyeru kepada para penghuni langit, 'sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia,' maka seluruh penghuni langit pun mencintainya. Kemudian setelah itu ia menjadi orang yang keberadaannya diterima di bumi.” (HR Bukhari)


Dr. Khalid ibn Utsman ats Tsabit hafizhahullah menjelaskan bahwa ketika seorang hamba mendapatkan cinta Allah dan cinta seluruh penghuni langit, maka tidak akan ada kerugian yang menimpanya setelah itu (kelak di akhirat), meski di dunia ia hidup sederhana, penuh keterbatasan materi dan harta benda. Dan Allah jadikan keberadaannya di bumi dicintai oleh orang-orang yang beriman.


Masyaallah! Lihatlah begitu istimewanya ketika Allah mencintai seorang hamba. Bahwa Allah mengumumkan cintaNya itu di hadapan para Malaikat, bahkan memerintahkan mereka untuk juga mencintai hamba tersebut.


Dan ketahuilah, bahwa sejatinya cinta Allah bisa diraih dengan hal-hal yang sederhana. Maka ini menunjukkan bahwa rahmat Allah itu amatlah luas, tidak terbatas untuk perorangan. Tapi siapa saja, siapa pun yang ingin mendapatkan kemuliaan cinta Allah, maka dia bisa meraihnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, 


قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِی یُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّه


Katakanlah (wahai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (yakni Nabi Muhammad), maka niscaya Allah akan mencintai kalian.” (QS Ali Imran : 31)


Kuncinya adalah fattabi'uni, yaitu kita mengikuti sunnah-sunnah Nabi shallallahu alaih wasallam, kita praktikkan dalam aktivitas keseharian hidup kita, contoh seperti aktivitas makan/minum, kita mulai dengan bismillah, lalu kita gunakan tangan kanan.


سم الله وكل بيمينك


“Ucaplah bismillah dan makanlah dengan tangan kanan.” (Muttafaq ‘alaih)


Contoh yang lain adalah menebar salam atau menyapa dengan penuh kedamaian dan kelembutan, baik kepada orang yang kita kenal, maupun kepada orang yang tidak kita kenal.


وَتَقْرَأ السَّلامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ


“Engkau mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan kepada orang yang tidak engkau kenal.” (Muttafaq ‘alaih)


Dan contoh yang lainnya adalah menjadi pribadi yang pandai menyenangkan hati orang lain, meringankan bebannya, dan atau membantu memenuhi hajat kebutuhannya.


لا تحقرن من المعروف شيئا ولو أن تلقى أخاك بوجه طليق


“Janganlah sekali-kali meremehkan kebaikan sekecil apa pun, meskipun sekadar menampakkan wajah ceria ketika berjumpa saudaramu.” (HR Muslim)


أحب الناس إلى الله تعالى أنفعهم للناس، وأحب الأعمال إلى الله، عز وجل، سرور تدخله على مسلم، أو تكشف عنه كربه، أو تقضي عنه ديناً، أو تطرد عنه جوعاً


“Manusia yang paling dicintai Allah adalah manusia yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya, dan amalan yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan ke dalam hati seorang Muslim, atau meringankan bebannya, atau melunasi hutangnya, atau mengusir rasa lapar di perutnya.” (Shahih al Jami’)


Dan banyak lagi contoh-contoh lainnya yang bisa kita praktikkan. Sejatinya setiap hari selalu ada peluang untuk kita bisa meraih cinta Allah subhanahu wata'ala.


Namun tetap, hal yang paling menjadi prioritas kita sebagai Muslim adalah ibadah-ibadah yang wajib, seperti shalat lima waktu, zakat (bagi yang hartanya sudah mencapai nishob), puasa Ramadhan, haji bagi yang mampu, berbakti kepada kedua orang tua, memuliakan tetangga, tamu, memberi nafkah kepada istri, anak dan orang-orang yang menjadi tanggung jawab kita, dsb. Di samping itu kita tambah juga dengan ibadah-ibadah atau amalan-amalan sunnah.


وَمَا تقرَّبَ إِلَيَ عبْدِي بِشْيءٍ أَحبَّ إِلَيَ مِمَّا افْتَرَضْت عليْهِ: وَمَا يَزالُ عَبْدِي يتقرَّبُ إِلى بالنَّوافِل حَتَّى أُحِبَّه


“Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang paling Aku cintai selain daripada dengan apa yang telah Aku wajibkan atasnya, dan ia terus mendekatkan diri kepadaKu dengan yang sunnah, sehingga Aku benar-benar mencintainya.” (HR Bukhari)


Kemudian terakhir, selain kita melakukan amal-amalan yang telah disebut di atas, maka seyogiyanya kita juga tidak lupa untuk memohon cintaNya di dalam setiap doa kita.


Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan sebuah doa,


اللهم اني اسالك حبك وحب من يحبك والعمل الذي يبلغني حبك اللهم اجعل حبك احب الي من نفسي واهلي ومن الماء البارد


Allohumma innii as-aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wal ‘amalal ladzii yuballighunii hubbaka. Allohummaj’al hubbaka ahabba ilayya min nafsii wa ahlii wa minal maa-il baarid.


“Ya Allah, saya memohon kepadaMu cintaMu, dan cinta orang yang mencintaiMu, dan amal yang menyampaikanku kepada kecintaanMu. Ya Allah, jadikan cinta kepadaMu lebih aku cintai dibanding cintaku kepada diriku sendiri, keluargaku, dan dari air yang dingin.” (HR Tirmidzi)


Demikian, semoga bermanfaat. Barakallahu fikum.