Jumat, 08 Oktober 2021

Puisi Muhammad Asqalani eNeSTe | Katakan Aku Ikan Sungai | Mencintai Ingatan, Saat Hutan-Hutan Dijaga Jiwa Kanak-kanak

 Puisi Muhammad Asqalani eNeSTe




Katakan Aku Ikan Sungai

: Piki Adria


atau seperti ini, ikan tumbuk banir masuk ke lubang bangir hidungku,

sejenak tertidur, dalam waktu lama bertelur. ikan rappangrappang 

seperti membawa pedang untuk buncahkan lengang ke bidang dadaku.

ikan-ikan kerapu mengelilingi pendengaranku. toman sekadar menyentuh

pangkal lenganku. ikan gabus membuat pandanganku kabus. ikan-ikan tilan 

kawin di tenggorokanku yang tiba-tiba susah menelan. ikan-ikan sulum 

tak ubah kulum-kulum di pangkal mulutku. lalu ikan timah hanya melintasi

depan bibirku. anak gamak menggerogoti rambutku, aduhai menghitam.

ikan juara menyuruk ke antara paha. sudah pasti ikan-ikan bilis menyulam

alisku, serta ikan-ikan selais menyusuri bulu betisku. ikan inggit-inggit 

serasa membuat tumitku sakit. Tuhan, ternyata aku ikanmu yang mampu

berair di daratan. kafirkah aku?


Kubang Raya, 2015 – September 2021




Mencintai Ingatan, Saat Hutan-Hutan Dijaga Jiwa Kanak-kanak


kau mampu mengingat likat matahari yang tenggelam di belikat ayah, 

saat ia tinggalkan ibu, engkau dan ayam-ayammu yang baru menetas?


ayah lebih memilih hutan perawan, menebang batang-batang, 

menghayutkannya bersama diri yang terapung di sungai, 

lalu membawakanmu setangkai dua tangkai kelubi 

seolah-olah kau anak lelaki yang ngidam.


kau ingat ibu yang memeluk labu di hari-hari kelabu? 

saat ladang hanya ada lengang, kau yang cengeng 

dan lengking rusa menakutkan. 


ibumu menangis, mengiris labu dalam kelambu, mencium baju dalam ayah, 

mendesah racau, mengigau igau, pikiran pun kacau hantu belau.


masih ingatkan, bebatang tebu teman-temanmu, 

pakis merah semerah matamu yang berendam, 

burung puyuh yang meringkuk seperti burung dalam celanamu 

yang unyu-unyu?


kau rindu semuanya, rindu ayah yang enyah, ibu yang entah, 

hutan yang alah, serta merta yang membuatmu isak beriba-iba. 


kau tahu, kau telah terusir ke kota-kota, ke luar doa, 

Tuhan yang hilang semena-mena, sebab kau dan alam saling tikam. 

kaukah yang kalah atau alam benar-benar rebah?


ya ya ya, bacakan puisi ini di tengah malam di jantung hutan, 

hutan pikiranmu yang liar rimba. menimba bayangan ayah, ibu, 

dan batu-batu licin yang luncas dari genggaman.


Kubang Raya, 3 & 5 Agustus 2021





____

Penulis

Muhammad Asqalani eNeSTe, kelahiran Paringgonan, 25 Mei 1988. Alumnus Pendidikan B. Inggris – Universitas Islam Riau (UIR). Menulis sejak 2006. Belajar otodidak Bahasa Esperanto. Buku puisinya yang kesebelas dan akan terbit adalah Lappidung. Mendirikan Community Pena Terbang (COMPETER). Mengajar puisi di kelas online Asqa Imagination School (AIS). 

IG: @muhammadasqalanie
Youtube: Dunia Asqa








Kirim naskahmu ke
redaksingewiyak@gmail.com