Kamis, 04 November 2021

Esai Bahasa Husnol Akib | Khusnul Khotimah

Esai Husnol Akib



Beberapa hari yang lalu teman saya memberi kabar di grup WA bahwa salah satu keluarganya meninggal dunia. Kami pun berbelasungkawa dengan versi masing-masing. Ada yang mengucapkan "innaalillaahi wa innaa ilaihi roojiuun, semoga di ampuni segala dosa-dosanya dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran", ada yang hanya sekadar "turut berbelasungkawa ya", ada yang menuliskan "innaalillaahi wa innaa ilaihi roojiuun semoga husnul khotimah", dan salah satunya ada yang mengucapkan "semoga khusnul khotimah". 


Lalu ada yang bertanya, sebenarnya mana tulisan yang benar, kusnul khatimah atau khusnul khotimah? Dua kalimat inilah yang menjadi perdebatan besar kami sehingga grup menjadi ramai dan sengit layaknya pertandingan derbi El Clasico, derbi Milano, atau derbi Manchester.


Ada yang mengatakan husnul khatimah yang benar. Ada juga yang mengatakan khusnul khotimah yang benar karena mengacu pada ejaan lama, seperti tj dibaca c,  dibaca y, dj dibaca j, sementara kh dibaca h. Lalu, ada pula yang bertanya-tanya kepada Mbah Google sehingga perbincangan ini menjadi sangat serius dan tegang, lupa pada inti persoalan pertama tentang kematian si mbahnya teman kami.


Teman yang mencari jawaban di Google melemparkan pernyataan bahwa selama ini kalau kita mendoakan dengan kata khusnul ternyata artinya bukan 'baik'. Setelah baca-baca dari referensi yang benar itu husnul. Namun, ia masih menyelipkan kata "mungkin", seolah-olah tidak yakin dengan jawaban yang ia temukan di Google.


Saya pun berpendapat jika merujuk pada bahasa Arab, kalimat ini berarti 'semoga mendapatkan tempat yang terbaik'. Kata husnul artinya 'kebaikan' tanpa k atau c di depannya berarti diawali dengan huruf ح , tapi jika dia menggunakan kh atau ch berarti tulisan arabnya خ artinya akan berbeda dan bahkan tak mempunyai arti apa-apa. Jika kita merujuk pada ejaan yang tidak baku berarti kita tak menggunakan kalimat yang benar, bukankah begitu? 


Di tengah perdebatan itu, tak disangka ada yang mengajukan pertanyaan. 


"Kalo ها pake "h atau pake "hh"?"


Pertanyaan ini pun tak ada yang menjawab. Jika dijawab, pembahasan akan lebih panjang dan sengit layaknya pertarungan Nurmagedov dan Connor di dalam ring.


Ada salah satu yang menyatakan bahwa kalau mengacu KBBI, yang benar adalah husnulkhatimah, bukan khusnul khotimah atau chusnul chotimah, apalagi husnol seperti nama saya. Tapi, teman saya yang membenarkan itu lupa memberi jarak spasi pada tulisannya sehingga tulisannya pun belum bisa dibenarkan.


Saya pikir sudah selesai sampai di situ. Ternyata ada yang nyeletuk pada hal yang lebih spesifik.


"Kalau mengacu pada tujuan komunikasi, tulisan menjadi tidak penting, yang penting pesan tersampaikan". 


Nah!


Lalu seorang teman yang merasa dirinya ustaz pun menjawab. 


"Setahuku huruf kha dalam bahasa Arab kalau ditulis bahasa Indonesia itu dengan huruf h (dengan satu titik di bawah). Seperti hasan, kalau ditulis bahasa Arab pake kha (gimana nulisnya, HP-ku nggak bisa nulis Arab), tapi ejaan itu pun berubah-ubah. Jadi, mengikuti update terbaru. Kadang nggak banyak berubah juga, kadang cuma satu dua huruf yang berubah."


Nah, saya pun tambah bingung. Tiba-tiba ada lagi yang mengajukan pertanyaan.


"Ini yang benar yang mana, Insya Allah atau Insha Allah?"


Duh!




___

Penulis


Husnol Akib, pernah belajar di Kelas Esai Bahasa.







Kirim tulisanmu ke

redaksingewiyak@gmail.com