Friday, November 19, 2021

Puisi Joe Hasan | Terucap Doa | Senja | Sajak di Mimpimu | Rakaat Pertama | Puisi Kosong

 Puisi-Puisi Joe Hasan





Terucap Doa 


tiba-tiba pada bibir kelu

doa itu terucap

di pagi yang sunyi

untuk keselamatan orang tua

pulanglah mamak

datanglah bapak

sampai di mana perjalanan kalian


angin membawa detak

hujan rintik satu per satu

bersama langkahmu


dan “sudah sarapan?”

suaramu bertanya

di luar mimpi

alhamdulillah

rupa-rupanya

bibirku yang penuh dosa 

bisa juga mengucap doa


(Baubau, Maret 2021)





Senja 


belakangan aku tidak menyukai senja

seindah apa pun jingga langit

burung-burung berkepak pulang

setelah lelah mencari makan seharian

ia membungkus hari

yang tiada terjadi apa-apa

harap-harap yang terus jadi harap

dan mengapa harus menyeberangi senja

untuk sampai pada rumah malam


kemerduan yang menampung rindu

para daun enggan jatuh saat ini

penat yang berlipat-lipat

seakan tak kenal henti mematut

belakangan aku tidak ingin melewati senja

hari-hari yang terjadi begitu saja

kerap mulutku mencari jawab

mengapa waktu terus memburu

tak bisakah ia istirahat sejenak

biarkan alam berdoa sementara

untuk kembali menyatu dengan pemiliknya

namun senja kali ini

tak begitu menyenangkan 


(Baubau, Mei 2020)





Sajak di Mimpimu


aku hanya berusaha menjadi sajak

di mimpimu

menjalari segala ronggamu

memainkannya dalam-dalam

aku tak berharap pagi lagi

agar kau tak bangun

janganlah pernah


pagi ini sedang gerimis dan mendung

biarlah denganku dulu

nikmati mimpimu kekalkan aku

dan ceritalah pada anak-anak kelak

dalam mimpimu terdapat sajak hidup

bernapas seperti biasa

bermain ayunan

menciptakan lagu

menciptakan lagu

dan terus membuat lelap


dan lelap

hingga kau turuti harapnya

untuk tak lagi bertemu pagi

meski burung-burung kerap sibuk

berkicau

bersalam menyapa pagi


(Baubau, April 2021)





Rakaat Pertama 


pada rakaat pertama

ucapanmu menetes

merasakan dosa dari segala angin

lalu kau sujud

dengan doa pertama

tak bangun-bangun

lunglai kaki lurus sendiri

sungguh ini mati yang dirindukan


setelah berucap asma

lidahmu kalut tak menyebut apa-apa lagi

kecuali nama-Nya

dan aliran air mata di desir tubuhmu

pada rakaat pertama

kau bertemu seluruh pulangmu yang teduh

entah bagaimana kediaman di sana

jika sempat, baliklah bercerita

tentang bagaimana di sana

yang selalu tak mampu ditulis dan digambarkan

aku selalu menginginkan

jalan riuhmu

tapi dosa terlalu nikmat tuk dilewati

berkirim salam saja

sambil menanti untuk sepertimu

di rakaat pertama


(Baubau, Juli 2021)





Puisi Kosong 


kata-katanya sudah hilang

ia tulis kata-kata yang ditemukan saja

semacam buku berserakan

tergelatak menatap angin

ingatan mimpi tadi

namanya yang tak timbul di media

letihnya menunggu kamar mandi kosong

bisingnya lagu di beberapa pengeras suara


lalu apa lagi

berusaha mengingat

melewati batas wajar

membaca pencuri di mana-mana

melirik kata-kata mutiara untuk syair

tak ada

biarkan semua mengalir mengikuti nalar

kata beberapa penasihat

dan puisi itu terlalu kosong

untuk dikatakan indah


(Baubau, Januari 2021)







____

Penulis


Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Pecinta Olahraga Taekwondo. Cerpen dan puisinya pernah dimuat di media cetak dan online.









Kirim naskahmu ke

redaksingewiyak@gmail.com