Jumat, 19 November 2021

Cerpen Bulan Nurguna | Cybrog

 Cerpen Bulan Nurguna




Ketika membersihkan pantai di pagi hari, saya menemukan snorkel berwarna hijau milik Tuan Bruce. Aneh sekali, benda itu bisa tertinggal sedangkan fin dan maskernya tidak. Snorkel itu saya temukan tepat di bawah sunbed nomor tiga, tempat Tuan Bruce biasa minum jus pepaya setelah berenang.



Saya simpan snorkel itu untuknya. Ia tidak selalu berkunjung, meski sering melewati restoran ini dengan sepeda jangkungnya. Restoran ini terletak di jalan utama yang melingkari pulau, jadi saat ia bersepeda keliling pulau untuk olahraga, ia pasti melewatinya.


Kemarin Tuan Bruce pergi dari restoran ini sekitar jam empat sore. Tanpa memberi tip, setelah membayar belanjaanya, ia membawa ransel kecilnya yang berbahan parasut. Ia kayuh sepedanya lalu menghilang di ujung jalan.


Walaupun Tuan Bruce adalah orang kulit putih, tetapi ia lebih dulu tinggal di pulau ini dibanding saya. Ia begitu akrab dengan orang-orang di pulau ini dan tidak jarang menyuarakan pendapatnya tentang sesuatu.


“Tadi mereka membunuh sahabat baik saya,” ucapnya suatu hari ketika restoran masih sepi.


“Wah, membunuh? Siapa yang dibunuh?”


“Nelayan-nelayan itu. Mereka membunuhnya.”


“Nelayan?” saya masih bingung.


“Ya, dengan bangganya mereka membawa gurita paling besar yang pernah saya lihat di pulau ini.”


“Mereka hanya mencari makan, Tuan Bruce. Bukan membunuh. Memancing kan hal biasa.”


“Mereka seharusnya berpikir, gurita itu lebih baik bila hidup bebas di lautan. Bermain ke sana kemari, dilihat oleh para wisatawan. Bukan malah dipanggang lalu mereka cuma dapat kenyang sesaat. Lebih baik orang-orang membeli gurita di pasar kota, bukan langsung menangkap dari laut pulau ini.”


Dengan pakaiannya yang masih basah dan sepedanya yang jangkung, Tuan Bruce berlalu tanpa menunggu respons saya. Memang waktu itu ia hanya berenang di depan restoran, jadi tidak perlu membayar apa-apa.


Pertama kali saya bertemu Tuan Bruce adalah ketika ia mengunjungi restoran. Setelah menyebutkan apa yang mau diminumnya, ia berkomentar: “Rambut kamu bagus. Jangan dipotong, wanita lebih baik berambut panjang.”


“Terima kasih Tuan,” jawab saya. Tetapi saya jadi bingung sendiri. Kenapa pula harus mengucapkan terima kasih? 


Saya membawa secarik kertas pesanan menuju dapur. Mara, yang juga sedang mengantar kertas pesanan berkata: “Kamu saja, ya, yang melayani Tuan Bruce sampai selesai, dia suka dengan wanita muda, apa lagi yang berambut panjang.” Sebagai anak baru, saya hanya mengiyakan saja.


Namun, setelah beberapa kali Tuan Bruce datang dengan pola yang sama—memesan jus pepaya, banyak mengajak ngobrol, berlama-lama di restoran, dan tidak pernah memberi tip—saya pun mulai bosan. Walaupun penampilannya nyentrik, dengan topi jerami, satu anting panjang, dan baju olahraga berbahan spandex yang serba ketat, ia tetap saja orang tua yang membosankan. 


Seakan tahu bahwa saya mulai bosan dengannya, ia mulai mempertahankan martabatnya.


 “Sewaktu saya masih muda sepertimu, pekerjaan saya adalah arsitek. Bukan sekadar arsitek, melainkan arsitek yang sukses. Setiap hari setelah bekerja, saya akan makan di restoran-restoran paling mahal di kota saya. Oh ya, itu bukan kota sembarangan, itu kota paling mahal di negara saya. Tidak ada restoran yang tidak pernah saya kunjungi, tidak ada wine terbaik yang pernah saya lewatkan.”


Saya sungguh tak paham apa maksud perkataannya. Padahal, saya tak pernah sedikit pun merendahkannya. Hanya jumlah pertanyaan saya saja yang berangsur-angsur berkurang tiap kali kami bertemu, dan menurut saya itu wajar, karena semua yang ingin saya tanyakan sudah terjawab. Lagi pula jawaban-jawaban yang diberikannya kebanyakan tidak memancing saya bertanya hal-hal lain. Ditambah lagi, ia datang tak selalu ketika restoran sedang sepi, sehingga saya juga harus melayani tamu lainnya. Bisa saja bos kami malah mengira saya sengaja berlama-lama melayani Tuan Bruce karena saya malas bergerak melayani tamu lainnya. Kalau semua tamu sudah saya layani, saya harus berdiri di samping papan menu di pinggir jalan, untuk menarik para tamu baru.


Sudah seminggu sejak tertinggalnya snorkel itu, saya tidak pernah melihat Tuan Bruce. Saya sedikit khawatir, sebab ia tinggal sendiri dan ke mana-mana selalu seorang diri. Bagaimana kalau ia mati dan tidak ada yang mengetahuinya? Bisa saja malaikat maut menjemputnya di kamar mandi dengan shower masih bekerja. Malaikat punya kemampuan mencabut nyawa, tetapi tidak punya kemauan bahkan kemampuan sedikit pun untuk memberitahu tetangga Tuan Bruce, bukan? Atau bisa saja Tuan Bruce mati di tengah laut ketika berenang, bukankah banyak orang kulit putih yang mahir berenang dan telah berenang beribu-ribu kali dalam hidupnya, tetapi malah mati di sore yang tenang di sebuah pantai tropis? Pada awalnya mereka suka meremehkan orang lokal, lalu meremehkan alamnya, tapi pada akhirnya mereka mati di dalamnya. Mereka tidak sadar bahwa ada jin-jin yang menjaga setiap wilayah asing.


Tiba-tiba dari jauh saya lihat Tuan Bruce mengendarai sepedanya. Tubuhnya yang tinggi terlihat kecil lalu perlahan-lahan membesar dan sekarang ia sudah ada di depan saya. Namun, tunggu dulu, ada yang sedikit aneh pada tubuhnya. Ah, lama-lama kesadaran akan keanehan itu membesar, dan sekarang saya benar-benar dalam kesadaran sempurna tentang keadaan Tuan Bruce.


Pori-pori Tuan Bruce membesar, merata di seluruh tubuhnya, dengan diameter sekitar setengah sentimeter. Karena telah mempersiapkan diri akan memberi Tuan Bruce snorkelnya ketika ia datang, tubuh saya otomatis pergi mengambil benda itu di salah satu laci di loker dekat meja kasir.


Saya memberikannya ke Tuan Bruce, tetapi ia berkata: “Siapa butuh snorkel bila kita bisa bernapas di dalam air?” Astaga, selain tubuhnya bolong-bolong, sekarang saya baru sadar kalau ia memiliki insang di punggungnya. Insang itu terpasang menyerupai sayap, ukurannya sungguh proporsional dengan tubuh Tuan Bruce yang kurus tinggi, sebab insang-sayap itu juga kurus dan tinggi, seakan Tuan Bruce memang terlahir lengkap dengan insang-sayap itu.


Kadang pantai di depan restoran memang sepi, tetapi sebelumnya sungguh tidak pernah sesepi ini, seakan peristiwa ini hanya boleh disaksikan oleh orang terpilih. Mara, teman saya yang biasa bekerja pada jam yang sama dengan saya, entah kenapa, tidak ada di sekitar saya. Mungkin dia sedang ke toilet untuk merokok dan senang berlama-lama di sana untuk mengulur-ulur waktu kerja. Memang bos kami menjaga kasir di jam-jam sibuk, tetapi menjaga kasir pada jam sepi seperti sekarang ini biasanya menjadi bagian dari pekerjaan kami.


“Inilah yang selama ini saya cari dari pulau tropis ini. Sebuah keajaiban yang tidak lagi dipercaya oleh banyak orang bahkan orang yang berasal dari tempat yang sama dengan sumber keajaiban tersebut,” ucap Tuan Bruce. Dari tempat parkir sepeda ia berjalan menuju pantai berpasir putih kebanggaan pulau ini. “Sahabat-sahabat saya yang telah memberikan keajaiban ini. Gurita, tuna, kuda laut, kerang, kepiting, penyu, semuanya. Mereka memberikan sesuatu yang tidak pernah diberikan oleh satu pun manusia yang pernah singgah di sini.”


Kaki Tuan Bruce mulai menapak ke air, lalu buih-buih udara keluar dari kakinya yang berpori lebar. Saya yang mengikutinya, entah kenapa, bersedia basah demi menyaksikan suatu mukjizat yang diberikan kepadanya. Saya meninggalkan restoran, berjalan dan terus berjalan demi melihat semuanya.


Air telah setinggi dada saya dan perut Tuan Bruce. Air telah menyentuh bagian bawah insangnya. Insang itu berkedut-kedut, seperti mesin yang mulai dipanaskan, seolah tahu bahwa sekaranglah saatnya perannya dimainkan. Tak lama kemudian insang itu mengepak-ngepak, awalnya pelan seperti wiper mobil, lama-lama berubah cepat dan super cepat seperti pengendara yang menghadapi hujan deras. 


Tuan Bruce mengatupkan dan menaikkan kedua tangannya, seperti meminta berkat kepada yang lebih tinggi derajatnya. Tanpa mengucap atau memberi pesan apa pun, ia menjatuhkan dirinya ke depan dengan insang yang berkedut cepat, membawanya menjauh dari saya.


Mungkin saya tidak akan sadar kalau saja tidak merasa bahaya kematian akan mendekat sebab walaupun saya bisa berenang, ombak mungkin akan membuat saya panik, lalu mempercepat napas saya dan mengosongkan banyak udara di dalam diafragma, membuat saya lebih berat dari massa air laut, dan karenanya bisa tenggelam.


Saya cepat-cepat kembali ke tepi. 


Saya lihat Mara sedikit marah. Saya tidak peduli dengan senior saya itu. Saya kembali ke mes tanpa berkata apa-apa, lalu membuka semua pakaian, dan hanya memakai kain pantai. Tiba-tiba saya mendengar sekelebat bunyi radio dari kamar di samping saya: “Selamat datang di Tasmania, Mr.Bruce. Lelaki tertua dan satu-satunya pencetak rekor melintas samudera dengan insang-sayap cyborg ciptaannya sendiri.”


Belencong-Gang Metro, 21 November 2020--29 Agustus 2021





____

Penulis


Bulan Nurguna, lahir di Mataram, Lombok, 4 Juni 1990. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Pernah memimpin Teater Koin di almamaternya. Cerpen-cerpennya terbit di pelbagai media, baik cetak maupun digital. Kini ikut bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.  












Kirim naskahmu ke
redaksingewiyak@gmail.com