Sabtu, 04 Desember 2021

Berita | Guru SMK Muhammadiyah Pontang Hadiri Undangan Gala Tayang Film "Yuni" di Cinepolis MoS


NGEWIYAK.com, KOTA SERANG-- Lima guru SMK Muhammadiyah Pontang hadiri undangan penayangan perdana film "Yuni" di bioskop Cinepolis Mall of Serang (MoS), Panancangan, Jalan Lingkar Selatan, Kemang, Kotabaru, Cipocok Jaya, Kota Serang (4/12). 


Kepala SMK Muhamamdiyah Pontang, Shodikin, S.Pd., mengatakan bahwa undangan khusus ini merupakan suatu kehormatan bagi sekolah.


"Tidak semua sekolah, khususnya guru, mendapat kesempatan berharga ini. Kami menerimanya dengan gembira. Apalagi film ini bermuatan bahasa daerah, perlu diapresiasi," ujarnya. 


SMK Muhammadiyah Pontang pernah menjadi salah satu tempat casting pemain film "Yuni". Bahkan, sebagian guru juga ikut casting. Namun, belum ada yang memenuhi kriteria dewan juri. Alhasil, tidak ada satu pun guru yang masuk menjadi bagian dari Fourcolour Production.


Film "Yuni" bercerita tentang seorang gadis remaja cerdas dengan impian besar untuk kuliah. Ketika dua pria yang hampir tidak dikenalnya datang melamar, ia menolak lamaran mereka. Penolakan itu memicu gosip tentang mitos bahwa seorang perempuan yang menolak tiga lamaran tidak akan pernah menikah. Tekanan semakin meningkat ketika pria ketiga melamarnya, dan Yuni harus memilih antara mempercayai mitos atau mengejar impiannya.


Penayangan perdana film "Yuni" juga dihadiri oleh Toto ST Radik dan Rambo Banten, selaku pemain, mewakili aktor lain yang tidak bisa hadir, juga dihadiri para aktivis literasi, penulis, dan jurnalis. Keseluruhan yang hadir dalam ruangan kurang lebih 50-an penonton dengan tempat duduk sesuai protokol kesehatan.


Film yang disutradarai Kamila Andini ini berdurasi 122 menit. Sebagian penonton terlihat serius sepanjang penayangan. 


Menurut Siti Z Hanuf, guru BK, film ini sangat bagus karena menceritakan kehidupan remaja saat ini.


"Film ini menceritakan kehidupan remaja yang sekarang, mulai dari permasalahan yang tampak maupun tak tampak. Bagaimana ia bertindak dalam masalah, rasa ingin tahu tentang kebebasan. Dan apa yang kita anggap baik, itu belum tentu, karena masing-masing orang memiliki kekurangannya. Namun, menurut saya film ini kurang pas jika di pertontonkan untuk kalangan anak-anak dan remaja. Alangkah lebih baiknya untuk kalangan dewasa dan orang tua biar kita bisa belajar dari film ini," ujar ibu guru BK yang mungil ini.


Begitu juga dengan Riska, guru muda yang baru menikah ini, juga mengatakan bahwa banyak pelajaran yang bisa diambil dari film "Yuni".


"Salah satunya hidup itu harus punya prinsip. Jalani hidup sesuai dengan apa yang kita inginkan. Jangan dengarkan apa kata orang lain.  Itu sih yang saya tangkep," tambahnya.


Sedangkan menurut Neti, guru Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial, film "Yuni" berkaitan dengan aktivitas pergaulan bebas remaja. 


"Dari film ini kita belajar, jangan terlalu memberikan kebebasan kepada anak. Pemahaman tentang seks perlu diajarkan sesuai kebutuhan. Antara orang tua dan anak harus ada komunikasi yang baik," ujarnya lagi.


Film yang mendapatkan Platform Prize di Toronto International Film Festival (TIFF) 2021 ini serempak mulai ditayangkan di seluruh bioskop Indonesia pada 9 Desember 2021.  Tentunya "Yuni" menjadi tontonan film akhir tahun yang sangat direkomendasikan.


Sesi foto bersama usai nobar film "Yuni" di Cinepolis MoS (4/12).
Film ini diputar pukul 16.00 s.d. 18.02 WIB.


(Redaksi/Encep)