Jumat, 28 Januari 2022

Cerpen Ramli Lahaping | Pedagang Kebencian

 Cerpen Ramli Lahaping



Kegamangan menyesaki perasaanku. Tiba-tiba saja aku jadi ragu untuk benar-benar menemui narasumberku. Namun kekalutan sekacau apa pun, memang tak semestinya menghentikan langkahku. Bagaimanapun, aku adalah seorang wartawan, dan aku harus melakukan wawancara untuk menyelesaikan liputan sesuai dengan perintah redakturku. 


Sejujurnya, aku tak punya keseganan dan ketakutan untuk mewawancarai siapa pun. Aku sudah berpengalaman mewawancarai orang-orang dari berbagai latar belakang. Tetapi pemindahanku dari bidang pemberitaan politik ke pemberitaan hiburan, membuatku harus menyesuaikan diri dengan perkara yang remeh-temeh dan sensasional dari para selebritas. 


Dilematisnya, kali ini, aku harus mewawancarai Boy, seorang selebritas yang lahir dari dunia maya. Ia mungkin masih asing di layar televisi, tetapi ia cukup terkenal di layar ponsel. Ia adalah seorang YouTuber ternama karena unggahan kontennya yang kerap menuai kontroversi. Ia begitu pandai melakukan pansos dengan menyinggung selebritas yang sudah tersohor, hingga namanya mengorbit di lingkaran selebritas nasional. 


Boy memang sudah begitu tenar, bak artis-artis ibu kota. Orang-orang terus membahas dan membagikan unggahan konten YouTube-nya di berbagai platform media sosial. Padahal ia sama sekali tak punya produk kesenian yang membuatnya pantas disebut artis. Ia tak punya karya, semisal film atau musik, sebagaimana selebritas hiburan pada umumnya.


Tetapi dunia maya telah membuka peluang baginya untuk menjadi selebritas tanpa karya artistik. Ia hanya terus memberikan komentar negatif terkait karya dan kehidupan para selebritas untuk mendulang popularitas. Sampai akhirnya, pemuda desa berusia kepala dua yang hanya seorang tamatan SMP dan tak punya pekerjaan yang jelas itu, berhasil menjadi YouTuber jutawan. 


Kenyataan itulah yang membuatku jadi setengah kagok untuk mewawancarainya. Itu karena aku meyakini bahwa ia adalah lelaki urakan yang tidak ramah, sebagaimana tampakannya di kanal YouTube-nya. Ia yang gondrong dan bertato, begitu enteng berkata kotor dan kasar. Karena itu, sebagai seorang perempuan, aku waswas kalau ia memperlakukan aku secara tidak sopan. 


Tetapi di tengah kebimbangan, aku terus saja memacu sepeda motorku di jalan desanya yang lengang. Aku pasrah untuk mengarah ke kediamannya, sesuai titik yang ia terangkan kepadaku melalui pesan WhatsApp. Sampai akhirnya, dengan petunjuk beberapa warga, aku pun tiba di depan rumahnya yang cukup sederhana.


Selepas memarkirkan sepeda motor, seketika pula, aku menyaksikan pemandangan yang tak pernah kuduga-duga. Pada ruang dalam rumahnya, dari balik pintu yang terbuka lebar, ia tampak menyuapi seorang perempuan tua yang duduk di kursi roda, yang tampak seperti ibunya. Karena itu, persepiku jadi sedikit berubah tentang dirinya.


Dan akhirnya, setelah ia menyaksikan kehadiranku, ia pun keluar menghampiriku, sembari melayangkan senyuman. "Kamu Lia? Wartawan yang hendak mewawancaraiku?"


Aku pun mengangguk dan membalasnya dengan senyuman simpul.


"Masuklah kalau begitu. Jangan segan-segan," katanya, dengan nada suara yang bersahabat. 


Sontak saja, aku terheran atas sikapnya yang begitu ramah. Kesan-kesan menakutkan tentang dirinya di dalam benakku, jadi sedikit susut.


Sesaat kemudian, kami duduk berhadapan di teras depan rumahnya. Kami lantas melakoni sesi perkenalan dan basa-basi untuk saling mengakrabkan diri. Dan seiring itu, pandanganku tentang dirinya makin berubah. Ia jauh dari kesan lelaki pembuat onar seperti yang tampak di dunia maya. Ia adalah lelaki yang tampak sopan dan rendah hati.


"Apa yang terjadi dengan Ibu?" tanyaku kemudian.


"Ia kena stroke. Ia juga mengidap beberapa penyakit kronis yang lain," jawabnya dengan raut tenang.


Aku pun merasa kasihan. "Kenapa tidak dibawa dan dirawat di rumah sakit?"


"Sudah. Tetapi rumah sakit di sini kan belum punya fasilitas yang memadai untuk pengobatan penyakitnya." Ia lantas mendengkus lesu. "Aku memang punya rencana untuk membawanya ke rumah sakit yang lebih canggih, tetapi aku belum punya uang untuk melakukan itu. Ya, mungkin nanti, kalau pendapatanku dari YouTube sudah cukup."


"Jadi, tujuan Kakak menjadi YouTuber adalah untuk pengobatan Ibu?" tanyaku, setengah penasaran.


Ia lantas mengangguk tegas. "Keuntunganku dari YouTube memang aku peruntukkan untuk itu."


Aku sontak merasa tersentuh. 


Sejenak berselang, aku pun meminta kesediaannya untuk memulai sesi wawancara, dan ia menyetujuinya. Aku lantas menyalakan perekam video di kameraku dan mulai melayangkan pertanyaan. Dan seketika pula, ia melontarkan jawaban dengan ekspresi emosional dan ungkapan yang kasar, seperti penampilannya di kanal YouTube-nya. 


Jelas saja aku terheran menyaksikan perubahan sikapnya di depan kamera. Tetapi sebagai wartawan, aku punya batasan untuk tidak mempersoalkan kenyataan dirinya itu. Bagaimanapun, ia punya hak untuk menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan di tengah proses wawancara, sedang aku sendiri hanya patut mewartakan hasil wawancara tersebut.


Dan akhirnya, setelah pertanyaan-pertanyaan pengantar, aku lantas melontarkan pertanyaan perihal inti persoalannya, "Apa sih alasan Kakak sehingga terkesan suka mencari gara-gara dengan para selebritas di media sosial?"


Ia sontak memampang raut serius. "Aku tidak mencari gara-gara. Aku hanya menyampaikan kritikanku kepada para artis yang kampungan. Tanpa malu, mereka mempertontonkan keseharian mereka yang tidak berfaedah, melakukan prank yang murahan, mengumbar kemesraan dan lekuk tubuh, atau memamerkan kekayaan dan gaya hidup hedonistik." Ia lantas tergelak sinis. "Dan lihatlah sekarang, mereka tak segan-segan menyewa stasiun-stasiun televisi untuk menyiarkan tetek-bengek pesta pernikahan mereka yang jelas tidak berguna dan tidak mendidik bagi masyarakat. Apakah perilaku semacam itu tidak patut dikritik?"


Seketika, aku mengangguk-angguk dengan perasaan terkesan atas pandangannya. "Lalu, bagaimana Kakak menanggapi tudingan orang-orang bahwa Kakak sengaja membuat sensasi untuk pansos demi keuntungan materi?"


Ia lantas tertawa lepas. "Aku tidak berniat macam-macam. Aku ini hanya mengkritik perilaku para artis yang murahan. Lalu, kenapa aku dituding mencari sensasi? Sial benar aku!" Ia lalu tersenyum sinis. "Soal tuduhan pansos demi materi, itu jelas tidak benar. Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Kalau kemudian orang-orang menanggapi itu dan membuatku tenar, juga membuatku memperoleh penghasilan, ya, itu adalah dampak yang berada di luar kendaliku."


"Tetapi konten-konten reaksi yang Kakak unggah di kanal YouTube Kakak kan penuh dengan bahasa yang keras dan melebih-lebihkan, seakan-akan Kakak memang sengaja memanas-manasi keadaan untuk mendapatkan perhatian?" sergahku. 


Ia lekas menggeleng-geleng. "Sekali lagi, aku tegaskan bahwa aku tak berniat membuat keonaran demi ketenaran. Kalaupun kata-kataku terkesan kasar, ya, itu hanya wujud reaksi emosionalku yang sudah kadung kesal kepada para artis kampungan yang tidak menyadari ketololan dan dosa-dosanya itu."


Mendengar jawabannya tersebut, aku pun menemukan sisi pembenaran atas sikap yang urakan di media sosial. Namun seketika pula, aku terpikir atas dampak negatif dari sikapnya itu. "Tetapi bagaimana Kakak merespons anggapan bahwa Kakak memberikan contoh yang tidak baik bagi generasi muda? Bahasa Kakak kan kerap mengandung kata-kata yang tidak pantas dikonsumsi anak-anak, padahal mereka bisa saja menonton konten Kakak."


Ia lantas mengembuskan napas yang panjang, dengan raut yang tampak berpikir-pikir. Sampai akhirnya, ia menjawab dengan sikap santai, "Soal itu, aku kira konten artis-artis itu jauh lebih merusak generasi muda kita. Kalau kadang-kadang aku khilaf dalam kata-kata, mereka malah sengaja mempertontonkan tindakan yang buruk. Tetapi sekali lagi, itu hanya wujud kejengkelanku yang tidak terbendung lagi. Maksudku, apakah selamanya kita harus sopan kepada orang-orang yang tidak mau menghentikan kekurangajarannya?"


Aku mengangguk saja atas jawabannya yang terdengar diplomatis, kemudian aku lontarkan pertanyaan pungkasan, "Lalu, bagaimana tanggapan Kakak perihal ancaman dan rencana dari beberapa artis atau selebritas untuk memerkarakan Kakak di jalur hukum?"


Ia lantas mendengkus. Tampak meremehkan. "Aku sama sekali tidak takut." Ia lalu menatap tajam ke mata kamera sambil mengangkat jari telunjuknya, kemudian balik menantang, "Hai, artis-artis murahan, kalau kalian mau berperkara di jalur mana pun, akan aku ladeni!"


Menyaksikan keberanian dan kenekatannya itu, aku pun jadi keder sendiri. 


Sesaat kemudian, aku mengakhiri sesi wawancara. Dan seketika pula, ia kembali menjadi pribadi dengan sikap yang tampak biasa. 


Kini, aku akhirnya memahami alasan yang mendasari tindak tanduknya di kanal YouTube-nya. Karena itu, aku jadi bertanya-tanya sendiri perihal siapa yang harus kubenarkan atau kusalahkan di dalam dunia maya yang penuh dengan keributan.



_____

Penulis

Ramli Lahaping. Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Menulis di blog pribadi (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa dihubungi melalui Instagram (@ramlilahaping). 





Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com