Selasa, 01 Februari 2022

Proses Kreatif | Penulis yang "Mendua"

 Oleh Encep Abdullah




Pada 29 Januari 2022 seorang penulis mengirim klarifikasi atas pemuatan ganda ke e-mail Redaksi NGEWIYAK. 


Klarifikasi atas Pemuatan Ganda Cerpen …


Salam


Tabik, saya RL. Melalui unggahan ini, saya bermaksud menjelaskan perihal pemuatan ganda atas cerpen saya berjudul …. Cerpen tersebut dimuat di laman NGEWIYAK.com pada tanggal 28 Januari 2022, kemudian diterbitkan di koran Radar Banyuwangi pada tanggal 29 Januari 2022.


Mula-mula, saya mengirimkan naskah cerpen saya itu ke alamat e-mail Radar Banyuwangi pada tanggal 20 Desember 2021. Namun sebulan kemudian, setelah saya tidak mendapatkan balasan apa-apa, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan penarikan naskah, yaitu pada tanggal 20 Januari 2022. Hal itu karena saya tidak tahu dan tidak dapat mengakses informasi perihal berapa lama masa tunggu untuk pemuatan cerpen di Radar Banyuwangi, dan masa tunggu satu bulan saya kira sudah lazim, sebagaimana di beberapa media.


Pun, pada awalnya, saya mengirimkan cerpen saya tersebut ke alamat e-mail Radar Banyuwangi yang tertera di laman radarbanyuwangi.jawapos.com, hanya dengan maksud untuk mendapatkan pemuatan di laman radarbanyuwangi.jawapos.com, sebab saya memang hanya fokus untuk berkarya di media daring. Perkiraan saya, radarbanyuwangi.jawapos.com,merupakan media siber tersendiri yang keredaksiannya tidak terikat dengan media cetak, dalam hal ini koran Radar Banyuwangi. Karena itu pula, setelah mengirimkan naskah cerpen tersebut, saya kerap memantau laman radarbanyuwangi.jawapos.com untuk mengecek kalau-kalau cerpen saya itu dimuat. Namun setelah sebulan berlalu, dan saya tidak menemukan cerpen saya di laman radarbanyuwangi.jawapos.com, saya pun berinisiatif melakukan penarikan naskah, sebab seturut dengan yang saya tuliskan sebelumnya, saya tidak tahu berapa lama masa tunggu untuk pemuatan cerpen di radarbanyuwangi.jawapos.com.


Akhirnya, pada situasi itu, saya merasa telah melakukan penarikan naskah secara patut dan pantas. Karena itu, saya kemudian memutuskan untuk mengirimkan naskah cerpen saya itu ke alamat e-mail NGEWIYAK.com pada tanggal 21 Januari 2022. Tentu saya tidak menduga bahwa cerpen saya tersebut akan dimuat di koran Radar Banyuwangi. Apalagi, sampai hari ini, saya memang tidak mendapatkan balasan apa-apa atas surel pengiriman maupun penarikan naskah cerpen saya itu.


Sungguh, saya tidak berkenan untuk menyaksikan pemuatan ganda atas cerpen saya. Sebagai penulis, saya pun memahami bahwa mengirim sebuah naskah ke beberapa media dalam masa tunggu pemuatan yang bersamaan, apalagi memang dengan maksud untuk menghasilkan pemuatan ganda, adalah tindakan yang bertentangan dengan etika penulisan, juga merupakan tindakan tercela. Namun apa yang terjadi pada naskah cerpen saya itu, berada di luar kehendak saya.


Sebagai bukti atas niat baik saya, bersamaan dengan unggahan klarifikasi ini, saya melampirkan tangkapan layar surel pengiriman dan surel penarikan terhadap naskah cerpen saya ke alamat e-mail Radar Banyuwangi, juga tangkapan layar pemuatannya di koran Radar Banyuwangi. Dengan ini pula, saya melampirkan tangkapan layar surel pengiriman naskah cerpen tersebut ke alamat e-mail NGEWIYAK.com, juga tangkapan layar pemuatannya di laman NGEWIYAK.com.


Akhirnya, atas pemuatan ganda terhadap cerpen saya tersebut, saya meminta maaf kepada pihak-pihak terkait yang merasa dirugikan atau dikecewakan.


Sekali lagi, saya memohon maaf.

Semoga berkenan.


Penulis, RL



Kebetulan sebagai Redaksi saya yang membuka dan membaca notif e-mail. Dan pada detik itu juga, saya yang membalas klarifikasi itu.



Terima kasih atas penjelasan Saudara. Karena pemuatan terlebih dahulu di NGEWIYAK, kami tidak akan menghapus dari laman kami, terkecuali lebih dulu dimuat di media lain, bisa jadi kami akan menghapusnya. Adapun klarifikasi Saudara, sudah kami terima. Selanjutnya, silakan Saudara klarifikasi kepada publik di media sosial FB dsb. terkait masalah ini agar tidak terjadi kesalahpahaman dan bisa dijadikan pelajaran bersama. Sukses terus buat Saudara. Jangan berhenti berkarya. Kami tunggu karya-karya Saudara berikutnya.


Redaksi



Pemuatan ganda di media merupakan persoalan klasik. Namun, kiranya saya perlu menanggapi, khususnya sebagai tukang ngecaprak di NGEWIYAK. 


Setelah Redaksi mengirim balasan di atas, penulis RL langsung mengirim klarifikasi (persis seperti apa yang dikirim ke e-mail NGEWIYAK) ke grup FB Sastra Minggu. Saya perlu tegaskan bahwa klarifikasi ini bukan atas desakan Redaksi NGEWIYAK, melainkan atas kesadaran penulis itu sendiri. Redaksi hanya memberi saran, bilapun penulis tidak klarifikasi, juga tidak jadi soal. Semua kembali kepada diri penulis. 


Jika klarifikasi disodorkan ke publik, tentu akan menuai respons. Nah, beberapa respons ini yang sekiranya ingin saya tanggapi. Dalam sebuah komentar di grup Sastra Minggu, ada yang berkomentar, “Nggak usah diributkan, toh juga kedua media tsb nggak ada honornya. Yang penting maksud baik penulis untuk mengklarifikasi sebagai upaya menjaga etika moral penulis".


NGEWIYAK memang tidak (baca: belum) berhonor. Tapi, dengan tidak adanya honor bukan berarti para penulis dengan seenaknya mengirim ke lebih dari satu media, sengaja pula. Pernah juga sebelumnya ada penulis yang sengaja mengirim karyanya ke media cetak setelah dimuat di NGEWIYAK. Redaksi pun mengingatkan bahwa jangan melakukan hal serupa di kemudian hari. Penulis itu menjawab bahwa ia sengaja mengirim lagi ke koran karena orang tuanya tidak bisa baca di gawai. Kenapa ia tidak fokus dimuat di koran saja kalau memang seperti itu. Saya tahu NGEWIYAK pun tidak rugi. Tapi, ada persolan etika di situ. Dan, kami kembali lagi kepada siapa yang lebih dulu memuat, tulisannya dimuat lebih dulu di NGEWIYAK, dan tentu tidak akan Redaksi hapus. Kami akan menghapusnya bila dimuat di media lain terlebih dulu. Lalu, ia bertanya kepada temannya (yang hobi menggibah) terkait hal ini, dan saya tahu temannya itu bilang [kurang lebih begini] “Harusnya yang protes itu pihak koran yang berhonor itu".


Pernyataan ini sungguh “berengsek”. Tapi, sudahlah. Saya cukup tahu. Padahal, ia keliru, media cetak yang memuat tulisan rekannya itu juga tidak ada honor. Yang lebih menyebalkan lagi adalah si penulis dengan "bangga" dan "sadar" memosting kembali tulisan yang dimuat di media cetak itu di status WA, seolah Redaksi tidak tahu, harusnya jangan dipublis atau sebisa mungkin Redaksi tidak tahu (biar tidak ada rasa sakit hati). Alasan ia "mendua" itu sangat berbeda dengan kasus RL. RL sudah menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud “mendua”. Bahkan, sudah berusaha memberikan kabar penarikan. Ada kesalahpahaman antara ia dan redaksi media koran itu.  Maka, ini sebuah pemakluman. 


Terkait honor, memang tidak ada yang dirugikan atas pemuatan ganda karya RL ini. Tidak ada hak orang lain (honor penulis) yang direbut oleh RL. Barangkali akan lain halnya bila NGEWIYAK dan Radar Banyuwangi memberi honorarium, besar pula, jutaan misalnya. Saya yakin, respons pembaca akan lain dan lebih mengerikan. Honor, oh, honor, derajat sebuah media sastra, ternyata engkau yang menentukan. Dan, jangan dimungkiri, memang kenyataannya begitu. Doakan, doakan, semoga NGEWIYAK bisa memberi honor.


Oh, iya, di grup Sastra Minggu ada satu komentar dari seorang penulis yang kini sedang naik daun, khususnya dalam dunia perfilman, katanya begini, “Film bagus, bisa tayang di banyak festival dan meraih penghargaan. Kenapa cerpen bagus ‘haram’ dimuat di dua media berbeda? Kita harusnya memperjuangkan ini. Agar kita bisa hidup dari karya".


Saya belum tahu pasti apakah pernyataannya ini bercanda atau serius. Namun, logikanya itu "ngawur". Itu kasus yang berbeda. Saya tahu pasti ia jauh lebih mengerti, ia penulis kondang juga kok, masa sih ia tidak paham beginian. 


Barangkali jawaban dari penulis RL di bawah bisa mencerahkan.


Bagi saya sendiri, klarifikasi atas pemuatan ganda merupakan tanggung jawab moral saya sebagai penulis untuk menghargai media. Tentu, setiap media ingin menerbitkan karya seseorang secara eksklusif. Soal ada tidaknya honor dari media, tentu setiap penulis punya pandangan yang berbeda. Beberapa penulis mungkin merasa karyanya harus dihargai dengan honorarium, tetapi beberapa pula sudah merasa sudah sangat dihargai dengan pemuatan dan ‘pengemasan’ yang baik. Itu tergantung pada motif menulis dan pandangan setiap orang terhadap karyanya sendiri. Yang penting saya kira adalah keterbukaan pihak media untuk mencantumkan informasi perihal ada-tidaknya honor untuk para penulis, yang tentu tergantung pada kemampuan finansial media. Kalau ada informasi demikian, para penulislah yang akan menentukan, apakah ingin mengirim tulisan ke media tertentu. Dan pada kasus saya tersebut, khususnya ke pihak NGEWIYAK.com, saya memang mengirimkan tulisan dengan pengetahuan bahwa belum tersedia honor untuk tulisan saya, sebagaimana yang saya baca pada ketentuan menulis website-nya. Saya tentu menerima itu, sebab untuk saya sendiri, untuk sekarang, dimuat saja sudah merupakan penghargaan.


Di kolom komentar lain, RL pun memberikan penjelasan.


Salam


Terkait pemuatan ganda atas cerpen saya, pagi tadi, saya telah mendapatkan balasan atas klarifikasi saya dari Redaktur Budaya Radar Banyuwangi. Redaktur menyatakan tidak mendapatkan surel penarikan naskah dari saya, sedangkan saya sendiri merasa telah mengirimkannya. Saya kira, itu terjadi karena kelalaian atau ketidaktepatan penginformasian. Terjadi karena kekeliruan di antara kami semata, bukan kesengajaan. Pasalnya, saya mengirimkan pernyataan penarikan naskah saya dengan membalas surel pengiriman naskah saya, sehingga Redaktur tidak sampai menemukannya di dalam utas pengiriman naskah tersebut. Agar mudah dipahami, pada unggahan ini, saya melampirkan tangkapan layar surel pengiriman dan penarikan naskah saya secara utuh, juga tangkapan layar surel masuk di akun email Redaktur yang dikirimkannya kepada saya.


Atas apa yang telah terjadi, saya harap, klarifikasi saya bisa dipahami sebagai upaya untuk menerangkan permasalahan kepada khalayak, tanpa ada maksud untuk mendiskreditkan pihak mana pun. Apalagi, saya pun berhak untuk memberikan keterangan demi menghindari kesan-kesan yang buruk terhadap diri saya sebagai penulis. Dan akhirnya, semoga ada pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa ini, khususnya bagi saya sendiri.


Terima kasih atas perhatian Anda sekalian. Semoga hari kita menyenangkan.


RL



Sikap RL perlu diapresiasi dan patut dicontoh. Ia lebih mengedepankan sikap santunnya ketimbang napsunya. Orang akan melakukan apa saja agar ia dikenal, bereksintensi di media, apalagi di media yang berhonor. Tenang, dulu saya juga pernah ada dalam posisi "mendua" itu. Saya mengerti alasan-alasan "mengapa harus begitu". Jadi, karena saya pernah begitu, saya tahu bagaimana menjadi saya, tetapi saya tidak tahu bagaimana menjadi media. Setelah saya dan kawan-kawan mendirikan sebuah media sastra, betapa perbuatan “mendua” itu sangat meng-sebalkan. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bersama.


Kepada RL, sekali lagi, terima kasih sudah mengingatkan dan mencerahkan. Sehat selalu buat Saudara. 


Pipitan, 31 Jan 2022





____

Penulis

Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Tak menutup kemungkinan, ia juga menerima curhatan penulis yang batinnya tersiksa untuk dimuat di NGEWIYAK.