Selasa, 01 Februari 2022

Sosok Inspiratif | Selvi Sulistiani | Aktivis Feminis


 Selvi Sulistiani lahir di Serang, 22 Agustus 2000. Saat ini, selain masih berstatus sebagai mahasiswi tingkat akhir di Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Kak Selvi juga terlibat aktif menjadi aktivis feminis di Women March Serang dan Jagat Setara, loh.


Supaya sedulur NGEWIYAK tidak penasaran. Yuk, langsung saja kita kepoin perempuan kritis ini. Cekidot!


_____


1. Hal apa yang melatarbelakangi Kak Selvi mau terjun dan tergabung menjadi aktivis feminis?


Hal yang melatarbelakangi kenapa saya tertarik untuk terjun di gerakan feminisme itu karena masifnya isu-isu perempuan yang tertimpang akibat budaya patriarki yang telah terkonstruksi secara sosial seperti marjinalisasi, diskriminasi, subordinasi, dan masih banyak lagi yang tentunya dari masalah tersebut membuat banyak perempuan menerima dampaknya akibat ketimpangan gender. Tidak sedikit orang mengetahui perbedaan antara "sex" (kelamin secara biologis) dengan "gender" (kelamin secara sosial). Padahal dalam konteks sosial, peranan secara gender itu setara baik laki-laki ataupun perempuan. Untuk itu, upaya edukasi dan kampanye melalui gerakan feminisme inilah yang seharusnya dimasifkan agar tercipta pemahaman setara dan berkeadilan gender.



2. Sepengetahuan Kak Selvi, bagaimana sih perkembangan gerakan feminisme di Indonesia sejauh ini dan apa saja hambatan dan tantangannya?


Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia sejauh ini sudah sangat masif, bahkan kini sudah merambah digital movement dengan banyaknya platform atau sosial media gerakan-gerakan feminisme di berbagai kota di seluruh Indonesia. Selain itu, gerakan yang ada bersifat multidimensi dalam arti tidak hanya fokus pada isu kekerasan seksual saja, akan tetapi tentang kemajuan dan keberanian perempuan baik di bidang seni, sastra, pendidikan, politik, lingkungan dan lain sebagainya kian masif meluas. Untuk tantangan sendiri yakni konstruksi sosial yang sudah sangat melekat yang kerap kali dibenturkan dengan konservatisme agama. Hal tersebut dikarenakan kerap kali feminisme dilabeli sebagai gerakan liberal yang tidak sesuai dengan ajaran agama dan budaya di Indonesia.



3. Oh iya, Kak Selvi kan tergabung dalam organisasi Women March Serang dan Jagat Setara. Di antara kedua organisasi tersebut, aspek kesamaan dan perbedaannya apa ya Kak?


Womens March Serang hanya berfokus pada kajian dan isu-isu Perempuan di Banten terkhusus Serang – Cilegon. Sedangkan Jagat Setara memiliki fokus lebih meluas seluruh Indonesia sehingga kajian dan isu yang diangkat dari berbagai pengalaman perempuan pada berbagai sektor melalui diskusi dan kampanye-gerakan.



4. Setelah saya kepoin website womenmarchglobal.org, misi dari Women March Global adalah "untuk memobilisasi dan mengumpulkan tindakan yang paling berdampak untuk membela hak asasi secara global". Nah, kegiatan seperti apa yang pernah dialami dan dilakukan langsung oleh Kak Selvi setelah menjadi bagian dari aktivis Women March Serang?


Di Womens March Serang sendiri kerap kali melakukan kajian terkait isu-isu perempuan, survei, melakukan marching pada saat melakukan gerakan sebagai bagian dari kampanye International Womens Day. Selain itu, kita melakukan roadshow di sekolah-sekolah dalam upaya memberikan edukasi dan pemahaman mengenai kekerasan dan pelecehan seksual di sekolah yang ada di Kota Serang, serta kerap kali kita melakukan advokasi ataupun pendampingan pada perempuan korban kekerasan bekerja sama dengan LBH APIK Banten.



5. Kasus pelecahan dan kekerasan seksual di Indonesia dewasa ini makin bermunculan. Bagaimana tanggapan Kak Selvi sendiri terkait hal ini?


Tanggapan saya mengenai hal tersebut tentu saja sangat ironi dan memprihatinkan. Namun, sebenarnya kasus pelecehan dan kekerasan seksual tersebut bukan suatu hal baru, hanya saja karena sekarang merupakan era digital sehingga segala kasus dan pemberitaan dengan sangat mudah ter-blow up. Saya berharap kasus-kasus yang ada menjadi perhatian pemerintah yang memiliki wewenang regulasi lebih komprehensif.



6. Setahu saya gerakan feminisme lahir karena adanya ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan. Nah kalau menurut pandangan Kak Selvi terkait relasi suami dan istri, bagaimana membangun relasi yang baik di antara keduanya?


Hahaha. Saya belum menikah, tetapi ketika saya memilih untuk menikah nanti tentu saja pentingnya komunikasi antara kedua belah pihak melalui diskusi mengenai berbagai hal yang akan dilakukan dan dicapai bersama. Karena dalam suatu relasi rumah tangga bukan didominasi oleh laki-laki pun bukan juga oleh perempuan tapi oleh keduanya sepakat secara bersama-sama.



7. Oke, terakhir. Kira-kira pesan apa yang hendak Kak Selvi sampaikan kepada para pembaca NGEWIYAK, para aktivis feminis, maupun kepada para pembaca pada umumnya?


Pesanku untuk para pembaca dan aktivis feminis lainnya, tetap berani dan jangan pernah ragu bahwa kita semua sangat berharga dan tentu saja berhak mendapatkan segala kesempatan dan peluang yang ada di dunia ini. Kamu lahir ke dunia ini bukan saja untuk menghirup udara di dapur dan kasur. Kamu boleh bereksplorasi, berkembang maju, berpendidikan sangat tinggi, membaca segudang buku, melakukan hobi apa pun yang kalian mau, berkeliling dunia, menjadi pemimpin, menjadi juara dan yang terpenting memerdekakan pilihanmu. Kemajuanmu adalah kemajuan bagi generasi setelahmu. Ingat! Perempuan buka manusia kelas dua. Perempuan adalah manusia kuat dengan segala pikiran dan emosi-emosi itu. Berbahagialah! Kita tidak boleh menindas sekaligus menjadi tertindas, beranilah untuk menjadi setara dan adil.



(Penyaji Pertanyaan, Ray Ammanda)