Minggu, 06 Februari 2022

Berita | Lesbumi PCNU Jember Gelar Diskusi Sastra Ekofeminisme dan Perempuan Madura

 


NGEWIYAK.com, Jember --Bidang Kesastraan Lesbumi PCNU Jember menggelar diskusi sastra dalam program Pangkalan Budaya di Kanca Kona Cafe (5/2). Isu-isu yang disajikan cukup menarik. Hal ini terbukti dari animo peserta diskusi yang gayeng dan dinamis. 


Pada kesempatan diskusi ini mengusung tema "Ekofeminisme dan Ruang Gerak Perempuan Madura dalam Cerita", dengan menghadirkan para cerpenis nasional: Muna Masyari dan Nuril Ahmad, Siswanto (Ketua Lesbumi PCNU Jember), dan Ali Ibnu Anwar (Penyair, CEO BukuInti) yang dimoderatori oleh Fandrik Ahmad (Cerpenis Kompas) dan Muhammad Lefand (Penyair, Sekretaris Lesbumi) bertindak sebagai pembawa acara. Diskusi tersebut dibuka oleh Korbid Kesastraan Lesbumi, Samian Adib.


“Luar biasa diskusi sore ini, selain temanya yang menarik juga banyak sekali komunitas sastra, pemerhati, serta DKJ Jember turut hadir. Kegiatan ini semoga menjadi wadah yang sejuk, teduh, kritis dan mencerdaskan di Jember,” ujarnya.


Forum ini bertujuan untuk melihat sejauh mana karya sastra bergerak, utamanya yang dihasilkan oleh penulis asal Madura, membicarakan tentang relasi perempuan, alam, dan eksploitasi terhadap keduanya.


Siswanto, Ketua Lesbumi Jember mengatakan bahwa cukup sulit mencari karya sastra penulis Madura yang secara spesifik mengusung tema itu. Sejauh ini, ia mengaku baru menemukannya dalam cerpen-cerpen karya Muna Masyari dan Nurillah Achmad. Utamanya, tampak pada konflik yang diusung cerpen berjudul Pamengkang karya Muna Masyari (Kompas, 7 November 2021). 


“Dalam satu tesis ekofeminis menggarisbawahi pemikiran kapitalisme dalam meyakini pengetahuan untuk keperluan eksploitatif atau memperkaya tanpa memandang dampak tertentu, khususnya terhadap alam dan perempuan. Hal ini dapat dilihat pada dialog cerpen Pamengkang: 'Sekolah tinggi-tinggi kok malah goblok'. Suatu sarkasme yang menohok yang disampaikan oleh nenek kepada tokoh lelaki/cucunya sendiri, dalam mengekspresikan resistensinya terhadap rencana industrialisasi perumahan,” pungkas Siswanto.


Yang menarik, Muna Masyari justru menyilakan pembaca merepresentasikan cerpen itu dari berbagai sudut pandang. Pasalnya, ia secara spesifik justru tidak bermaksud sejauh itu dengan mengusung semangat ekofeminisme dalam karyanya.



“Terkadang representasi pembaca memang bisa lebih luas dibanding niat penulis. Saya sendiri, dalam cerpen itu, sebenarnya ingin menuliskan bagaimana kapitalisme telah menancap sebegitu dalamnya sehingga orang-orang kini memandang ‘tanah’ dari sisi materi saja, tak lagi sebagai hal yang turut mengonntruksi identitas dan budayanya,” ujar Muna.


Penulis lain, Nurillah Achmad, misalnya sebenarnya tidak bermaksud menulis sampai sejauh itu: mengusung spirit ekofeminisme dalam karyanya. Ia hanya ingin menuliskan kegelisahannya mendapati eksploitasi lingkungan di sekitarnya.


“Apabila kemudian karya saya bisa dikategorikan sebagai bagian dari gerakan ekofeminsime, saya bersyukur. Hanya, saya ingin menuliskan kegelisan mendapati ekspolitasi terhadap alam di sekitar saya,” ujarnya.


Gus Ali, sastrawan sekaligus CEO penerbit Buku Inti, memandang lepas dari apa pun istilah yang disematkan kepada cerpen-cerpen karya Muna Masyari dan Nurillah Achmad. Gagasan dan cara penyampaian yang ditawarkan keduanya sangat menarik dan turut memperkaya penulisan cerpen di Indonesia.


“Bukan hanya memandang perempuan dan alam sebagai korban ketimpangan sistemik, tapi juga mencatat perlawanannya. Narasi ini harus terus dicari dan dibangun. Sudah saatnya penulis memiliki komitmen terhadap lingkungan melalui kerja kreatifnya,” Tegas Gus Ali.




(Redaksi)