Jumat, 18 Februari 2022

Cerpen Suyat Aslah | Senar Ukulele yang Terbuat dari Rambut Ibunya

Cerpen Suyat Aslah




Anak kecil berjalan ringan, memainkan ukulele di sepanjang jalan belantara Jakarta. Memasuki gang-gang sempit. Melompati selokan tempat berkumpulnya segerombolan tikus gemuk. Ada yang terkena penyakit kulit. Ada juga yang digerumuti lalat hijau, mati karena racun Pospit. 


Pagi yang biasa, pikirnya. Selama ukulele tetap berdenting, harinya dia anggap akan baik-baik saja. Tak terlalu membuat ibunya makin menderita. Bisa makan dua kali sehari. Tidak perlu berhutang sana-sini. Sepatunya yang dibeli di pasar loak memantapkan kakinya melangkah di jalanan Ibu Kota. Topi yang dikenakan terbalik ke belakang cukuplah membuatnya percaya diri. 


Sepanjang jalan, terus memetiknya. Sesekali mendekatkan ke telinga, barangkali ketegangan senar tak sesuai hingga memengaruhi kemerduan suaranya. Langkahnya selalu sendiri. Tak pernah dengan yang lain. Bukan tak mau membaur. Sendiri lebih menenangkan dirinya yang pendiam. Namun tidak pemalu. Bahkan suaranya lantang menyanyikan lagu-lagu lebih dewasa dari umurnya. 


Tempat yang selalu dia hampiri biasanya pasar, bus-bus yang ngetem di sekitaran pasar atau rumah-rumah yang terlalu jauh dari gubuk tempat tinggalnya. Berpuluh kilometer dia tempuh, Tentu tak setiap hari ngamen di tempat yang sama. Perlu tempat baru, saat orang belum mengenalinya, tentu lebih baik. Terkadang untuk menambah isi kantong, dia menawarkan tenaganya memanggul barang hampir berbobot sama dengan tubuhnya. Meski setelah itu tubuhnya terasa sakit.


Sekitar dua ratus meter sebelum jalan besar, sempat melintasi sekolah dasar tak jauh dari jalan besar. Bapaknya pernah bilang, “Kau tahu? Mereka sekolah untuk apa. Hanya untuk mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan yang akan datang. Kau lebih kuat dari mereka, itu sebabnya kau kunamai Kuat,” katanya sambil menjemur nasi aking yang belum kering. Setelah kering tentu bisa dimasak lagi dengan tambahan sedikit garam.


“Lihatlah nasi aking ini, dalam keadaan serendah apa pun, dia masih bisa memberi manfaat untuk kehidupan. Akan berbeda jika orang kaya yang menjinakkan anaknya dengan harta,” ucapnya lagi.


Waktu itu, Kuat tak bicara sepatah pun. Tangannya sibuk mengangsurkan suapan nasi ke mulut ibunya yang tergolek di kasur.


“Bapak tak pernah menyesal telah menikah dengan ibumu. Dulu Bapak dihujani hujatan sana-sini, karena mau saja menikah dengan perempuan buta. Setelah melahirkanmu, Bapak makin dicaci dan dibodoh-bodohkan, lantaran setelah itu ibumu lumpuh.”


Dan ada satu nasihat lagi yang tak masuk akal, sebelum Bapak meninggal karena serangan jantung saat bersepeda mencari rongsokan, begini katanya, “Kau jaga ukulele ini seperti kau menjaga ibumu. Kau tahu, senarnya terbuat dari rambut ibumu. Jika senar kaupetik hati ibumu akan berdesir-desir,” katanya dengan kalimat dan nada yang kurang meyakinkan. 


Setelah itu, Kuat suka sekali memandangi dengan jeli bersama penasaran yang mendiami hati, lalu menyentuhnya dengan jemari. Memetiknya ke dekat telinga. Resonansi yang indah dengan paduan suara yang tak senada. Dia selalu memainkannya siang-malam. Apalagi setelah sepeninggal bapaknya. Makin mahirlah jemari kecilnya memetiki senar yang sehitam rambut ibunya.


Sejak itu, jalanan adalah panggung tak berujung yang telah mengubah gaya hidupnya. Rambutnya dicat warna rambut jagung. Celana yang seperti digerogoti tikus sedikit membuatnya tak kepanasan. Meski penampilannya kumal tak terurus, Kuat selalu menggunakan pakaiannya sehari saja, setelah itu dicuci sendiri. Begitu juga dengan pakaian ibunya. Kuat yang mengurus sendiri. Tiap hari baju harus ganti. Segala tetek-bengek Kuat melakukannya sendiri. Termasuk mencari makan sehari-hari.


Ukulele yang diwariskan Bapaknya adalah anugerah yang besar. Membuatnya bisa makan bukan dengan nasi aking lagi. Bisa mencicip makanan pinggir jalan. Sementara ibunya lebih suka bubur kacang hijau campur ketan hitam. Dentingannya mengantarkan mimpinya ke dinding-dinding kota. Semua orang mudah mengenalinya. Saat suara dentingan menguar ke udara. Orang-orang bersiap. Ada yang menolak dengan bahasa atau hanya gerakan tangan. Ada yang merogoh saku tempat recehan lima ratusan. Ada juga yang menutup korden lalu pura-pura tak mendengar. Semua itu sudah hal biasa. Bahkan sudah merasa biasa hidup tanpa Bapak, yang belum terbiasa adalah dunia yang terlalu mudah berubah, sesuatu yang tak terduga datangnya adalah misteri yang selalu mendekam di kepalanya. 


Tak ada kakak atau adik. Hanya Ibu yang terbaring membisu, di sebuah gubuk hasil swadaya masyarakat. Seluas kandang kambing. Tak ada bilik-bilik atau mebel tempatnya duduk-duduk sambil nonton TV. Tak ada lampu-lampu yang menerangi saat malam. Tapi itu semua lebih baik dari sebelumnya. Kehidupan yang amat menderita di bawah kolong jembatan. Sejak lahir, rutinitasnya tak seperti anak seharusnya. Bermain sama saja membuang waktu.


Satu tahun sudah sepeninggal bapaknya. Belum pernah sekali pun rambut ibunya dipotong. Biasanya memang Bapak yang memotong. Dan entah kenapa rambutnya terlalu cepat memanjang dan berubah warna. Meranggas seperti sekumpulan akar yang rimbun. Kian hari tak sehitam semula. Begitu juga senar ukulelenya, menguning sewarna dengan rambut ibunya.


Ada yang berbeda dengan suara dentingan. Berubah tak semerdu sebelumnya, meski sudah diatur ketegangannya berkali-kali. Suaranya tak lagi berirama. Layaknya nyanyian nestapa yang melengking-lengking. Seakan merenta dengan sendirinya. 


Saat matahari melayang pelan ke barat, saat cuaca masih terlalu panas membakar topinya. Dia teringat kejadian sekitar empat bulan yang lalu. Saat di jalan besar dekat sekolah dasar yang sering dilewati. Dia pernah terjaring razia petugas Satpol PP. Namun dilepaskan setelah diberi pembinaan. Tapi bukan itu yang ditakutkannya. Akhir-akhir ini ada sekelompok pemuda pengangguran yang suka duduk-duduk di antara sekolah dasar dan pertigaan jalan besar, sambil menenggak minuman keras dan berkata kasar. Kuat juga sering dipalak dengan ancaman sebuah senjata tajam. Beberapa kali memang bisa lolos dengan hanya memberi sebagian hasil mengamen, sementara sebagian besar lainnya dia sembunyikan di dalam sepatunya. Supaya bisa mudah disimpan dalam sepatu, Kuat menukar uang recehan jadi uang pecahan yang lebih besar. Tentu banyak pedagang yang senang, biasanya untuk uang kembalian.


Benar saja dari jauh terlihat sekumpulan pemuda sedang berbicara keras. Tak mungkin jika berbalik arah. Itu jalan satu-satunya untuk sampai ke rumah. Bubur kacang hijau campur ketan merah dia tenteng menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanan memegang ukulele. Dengan posisi menunduk, Kuat berjalan sedikit cepat. Saat mendengar salah satu pemuda memanggil, Kuat pura-pura tak mendengar. Namun salah satu pemuda dari arah berlawanan, mungkin hendak bergabung dengan yang lain, menghadangnya sambil tertawa. 


“Heh! Minta duit,” ujarnya ringan saja.


Kuat tak menjawab. Namun tanpa diketahui Kuat, pemuda itu melihat selipat uang kertas mencuat dari sepatunya yang menganga. Setelah menyadarinya, Kuat lari sekuat mungkin. Semuanya mengejar sambil menggertak. Sementara kakinya sudah terlalu lelah setelah berjalan berkilometer. Salah satunya berhasil meraih bajunya, hingga Kuat jatuh ke belakang. Beberapa ingin memberinya pelajaran, ada yang menghancurkan ukulele miliknya hingga senarnya putus, ada yang menendang kakinya, namun salah satu dari mereka ada juga yang melerai, setelah itu mereka sibuk membongkari sepatu Kuat, menguras semua uang. Sementara bubur untuk ibunya pecah. 


Setelah mendapatkan yang diinginkannya, Kuat pergi dengan sedikit terpincang. Membawa ukulele yang hancur tak berbentuk lagi. Melewati sekolah yang sudah sepi. Melompati selokan tempat bangkai tikus membusuk. Memasuki gang-gang sempit. Hingga sampai pada sebuah gubuk seluas kandang kambing, dengan napas masih terengah-engah, Kuat masuk dan mendapati ibunya yang terpejam, terbaring geming dengan bibir tersenyum tak habis-habisnya.




_____

Penulis

Suyat Aslah. Lahir di Cilacap tahun 1995. Cerpen ini terinspirasi dari sebuah puisi Pengamen kecil dalam buku karya Joko Pinurbo berjudul Tahi Lalat.





Kirim  naskahmu ke

redaksingewiyak@gmail.com