Jumat, 18 Februari 2022

Puisi-Puisi Alif Raung Firdaus

 Puisi Alif Raung Firdaus




Kangen


Linang hujan mengecup

Sulur akar pepohonan

Waktu beranjak ke belakang

Memberi nama bagi segala

Yang diringkus kenangan

Ribuan jam berlalu, sayangku

Aku masih merindukanmu


Demi ingatan yang suci

Replika musim yang tabah

Menjamu kesibukan kota

Udara yang keluar-masuk

Lalu silih bertukar

Dengan hidup yang panjang

Hari-hari yang ngilu

Alarm pagi yang berdebar

Demi segala yang menetas

Dan tumbang berguguran

Di tepi sini, sayangku

Kangen telah membatu


Jember, 2021




Batu


Batu tetaplah batu

Meski remuk berkeping-keping

Memar ditempa cuaca

Digilas roda-roda

Ia tetap bergeming dalam

Personifikasi yang rapuh

Ditelan hiruk-pikuk bahasa

Ambisinya yang permata

Atau logam mulia

Cuma memberi mimpi

Cuma menjadi mimpi


Batu tetaplah batu

Jangan lelah menerima

Segala yang menetap

Dalam nasib semata


Jember, 2021




Macet


Malam telah nyala

Dari deru magrib 

Dan lengking klakson

Yang bersahutan

Kita belum pulang

Terperangkap

Dalam tangis ibu

dan daftar keinginan

yang menumpuk

di saku celana


Malang, 2021




Kenang


Dingin terperangkap 

di luar jendela. Petrouchka

berdansa di telinga. Malam ini 

kamu milik siapa?


Kita pernah bertemu di sini:

Dalam percakapan yang dingin

Tentang kebebalan negara, penembakan

Di tengah hutan, dan seorang kawan

Yang belum lama ini ditangkap

Karena melempar batu ke kepala

Aparat. Obrolan yang sangat

Tidak romantis.


Pernah pula kita tertahan

Di antara gusar yang mengguncang

Tidur malam. Merenda lelah

Dalam bisik-bisik rahasia

Membuat sesuatu yang 

Bukan janji dan kesepakatan

Tapi selalu rumit untuk

Kita lupakan


Tapi malam ini, pucat bulan

Menganga di luar jendela. Tak ada

Kamu di nanar mataku. Tak ada.

Malam ini kamu milik siapa?


Jember, 2020



Ia Menangis di Bawah Pohon


Pohon mangga yang tak berbuah itu

Menaungi kesedihan yang menumpuk

Di pundaknya. Seperti biasa:

 Sore terlambat datang

 Hujan tak kunjung pulang


Mendung di kelopak matanya

Telah meniriskan rintik-rintik beban

Dari pertengkaran yang terjadi

Di sebuah meja makan

Dirabanya jejak telapak tangan

Yang menyentuh pipinya semalam

Ranting pohon menjulur ke bawah

Membelai rambutnya yang basah

Seperti bergumam lirih:

“Kemarin kau masih bercengkerama 

Dengan seorang lelaki 

Yang kau sembunyikan

di balik punggung manjamu”


sekarang ia menangis tersedu

meratapi serpihan piring 

yang pecah setelah pertengkaran

di sebuah meja makan

lagu malam dengan partitur sumbang

penyesalan mendengung panjang

 sore terlambat datang

 hujan tak kunjung pulang


Jember, 2021 





_____

Penulis

Alif Raung Firdaus, penyair yang tinggal di Bondowoso. Selain menulis puisi juga terlibat dalam seni pertunjukan. Karya-karyanya termaktub dalam beberapa media dan antologi bersama.





Kirim naskahmu ke

redaksingewiyak@gmail.com