Selasa, 15 Februari 2022

Proses Kreatif | Mendiagnosis Penulis

 Oleh Encep Abdullah




Di komunitas, saya selalu menyuruh agar anggota rajin mengirim karya ke media. Ini sesuai dengan tujuan awal saya mendirikan sebuah komunitas menulis bernama #Komentar. 


Sejak dulu, belum ada yang berani berkomentar kepada saya mengenai hal ini. Kemarin, salah satu anggota komunitas saya, sebut saja namanya Satiman, ia bilang kepada saya bahwa jangan suka menyuruhnya untuk menulis di media karena itu bukan tujuan saya belajar menulis.


"Saya tidak ada tujuan untuk dikenal atau menjadi terkenal," ujarnya lagi.


Saya mendadak terdiam. Saya merasa sudah memaksanya menjadi saya. Saya pun minta maaf kalau terlalu memaksa. Ia bilang bahwa saya tidak memaksanya sama sekali, malah katanya saya "membebaskan" pikirannya.


Syukurlah kalau begitu. 


Kemarin ada seorang teman bertanya kepada saya.


"Kang nggak ikutan acara penulis yang blablabla itu?"


Saya jawab saja bahwa [saat ini] saya belum tertarik lagi untuk ikut even menulis ini dan itu, pertemuan penulis ini dan itu. Malah kadang, untuk beberapa, sengaja saya hindari. Entah karena apa.


Seorang kawan bilang lagi.


"Kirim lagi dong ke koran. Kan ke Kompas belum pernah dimuat. Jadi pemenang Sayembara Novel DKJ juga belum. Dan blablabla."


Beberapa rekan memberondong pernyataan dan pertanyaan. Saya tentu harus berdalih dari kenyataan yang sebenarnya mungkin "belum mampu" untuk menggapai itu. Apologi saya barangkali sama halnya dengan Satiman yang saya paksa untuk menjadi penulis media massa.


Pertama, saya berdalih karena jujur saja saya belum terlalu mumpuni untuk sampai kepada target itu. Bukan karena tidak mau dan berusaha. Kalau saya tekuni bisa saja. Tapi, perlu waktu khusus dan cukup panjang, sedangkan napas saya sudah tak sepanjang sebelum menikah dan punya anak.


Kedua, tendensi untuk mendapatkan pengakuan sebagai penulis media terkenal dan sebagainya, sudah tak begitu kepikiran. Padahal, dalam hati suka iri mereka kemajuan teman-teman yang jauh melampaui saya. Tapi, hanya sebatas iri saja tanpa ada perlawanan.


Ketiga, barangkali kurang bahan bacaan baru dan "musuh" baru sehingga semangat yang membara untuk menulis sesuatu yang di luar ekspektasi saya tidak tumbuh dan berkembang dengan baik. 


Alasan-alasan ini memang mudah dibuat dan dicari yang sebenarnya itu cara "pembenaran diri". Tapi, itu jawaban saya saat ini. Dan itu bukan jawaban yang saklek.


Saat ini saya sedang kurang fit. Tidak enak badan. Tapi, saya harus menulis. Padahal tidak ada yang menyuruh. Kenapa ini bisa, sedangkan untuk menulis yang lain tidak bisa? 


Saya sakit disebabkan beberapa hal: daya tahan tubuh saya yang lemah karena kurang asupan saat kehujanan, makanan saya terlalu ekstrem dan tidak siap diterima oleh lambung, tubuh yang kurang istirahat karena sering begadang dan banyak aktivitas, pikiran yang begitu bercabang karena keuangan menipis, atau cuaca yang memang membuat kebanyakan orang jatuh sakit.


Sebagai penulis, sepertinya mendiagnosis diri sangat penting. Bukan untuk mencari pembenaran (yang asal pembenaran), melainkan mencari pembenaran yang sesuai dengan anjuran dokter. Nah, masalahnya saya merasa kehilangan dokter itu. Selama ini saya malah terlalu fokus menjadi dokter yang selalu mendiagnosis pasien dan memberi saran obat apa yang perlu mereka konsumsi. Saya lupa, saya juga adalah pasien yang bisa "sakit" kapan saja. 


Kiara, 15 Feb 2022



____

Penulis

Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Tak menutup kemungkinan, ia juga menerima curhatan penulis yang batinnya tersiksa untuk dimuat di NGEWIYAK.