Jumat, 11 Februari 2022

Puisi-Puisi Anindita Buyung Pribadi

Puisi Anindita Buyung Pribadi




Sajak Ketika Melepasmu Pagi Itu


keheningan usai sua kita pagi itu adalah gelisah

mengudara lewat rindu; tak sepenuhnya tergapai ke hatimu.

sayangku, waktu memang terlalu sempit untuk hati

begitu lapang ditumbuhi rindu-rindu menanti

angin membelaiku

senja mengantarku pada hujan

dan pelanginya yang ungu

sayangku, kau begitu merdu

tatapanmu adalah ringkih yang rengkuh

rintih yang menjelma siuh

bidadari, wangimu sedikit saja kubawa

menemani rerindu yang sisa

hujan ada pada pembicaraan kita

tentang rindu yang tumbuh dewasa

menyenandung rapsodi yang dramatis

kau hanya perlu duduk manis seperti gerimis

kekasihku di malam purnama,

maukah kau bicara cinta?



Sajak Senja dan Sepasang Merpati 


kasih adalah perbincangan yang kita kicaukan

ketika mentari mulai pudar dan langit memerah menyambut sore.

dan kita duduk memadu angan.

kita merpati yang dahaga —bertemu di dermaga

ketika salah satu dari kita lebih sering melambai ke arah samudera

dengan senyum sumringah; dengan wajah rindu gelisah.

kita merpati yang bercinta —bertemu di cakrawala.

saat kita berpeluk mesra tanpa kata,

dengan air mata yang syahdu

mengalun berangkai rindu

atau dengan air mata; jatuh tanpa kuasa

aku seekor merpati, menanti seekor merpati.

banyak senja kulalui dengan duduk

pada kangenku yang mabuk.

seteguk saja, rindu dibawa udara

menjamah tubuhku menggila

di senja ini sepasang merpati dijeda

dan diuntai lagi pada satu nada



Wulan Tanpa Rembulan


menanti purnama di atas bukit

di atas selembar daun dan sebatang teratai

aku menamai malam ini sebagai malam penantian.

dan mata merindui senyum serupa mawar berbau harum

ada yang hilang dari malam

sedangkan bintang masih menanti langit binasa

ada yang hilang dari rembulan

menebarkan kuncup kesedihan pada luka

aku mencari senyummu lebur dalam angan

membelai ribuan kenangan

sentuhlah tanganku saat angin tak mampu membelaiku.

kecuplah aku waktu hujan meninggalkan bekas di pipiku.

malam selalu menyambut dikau dengan tenang

peluklah ia selayaknya kekasih yang kau sayang

kekasihku, rembulanku

untukmu yang merambatkan harapan

pada derai angin di dahan cemara

aku menyanyikan lagu dan berpuisi tanpa suara



____

Penulis

Anindita Buyung Pribadi, lahir di Banyumas. Kini tinggal di Magelang. Karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak, daring, dan antologi bersama. Penulis bisa ditemui di akun instagram @aninditabuy dan surel aninditabuyung@gmail.com.





Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com