Friday, March 11, 2022

Puisi-Puisi Fajar M. Fitrah

Puisi Fajar M. Fitrah




Bahasa Langit Petang


bacalah, dengan menyebut Tuhanmu

semata, agar hatimu terbuka...


I

di jantung kota

getir bahasa petang

tak ada kesumba tumpah di hamparan

genting, memulas retak dinding

tak ada senja mekar serupa setangkai

mawar di tengah reruntuhan

gedung flamboyan

hanya sebentang kecemasan, di mana

langit menggumpal, menyusun kumparan

awan pahit dan tebal

mungkinkah terbaca isyarat yang gaham

manakala rambu ditantang, maut

terparkir di perempatan

di bawah traffic light orang-orang

kehilangan kata, akal dan rasa

bagai para pemburu, melesatkan peluru

pada kesempatan rawan itu

dengan dada bergetar dan tuter menggeram

berebut bahu jalan, saling menerkam

demi sepetak pedestrian


II

ada gadis berbibir hitam

arang, dengan ukulele lusuh

mendendangkan kesedihan

adakah terbaca keresah

terpancar dari wajahnya

menjelang petang

di jantung kota, saat orang-orang

berhamburan, berlomba mencapai

waktu, ada isyarat rindu

seperti hijau masa lalu


III

ada yang tak tahu

ada yang berdegup syahdu

sebelum burung-burung pulang

sebelum jembatan-jembatan itu

membelah kota dan rimbun cemara

dan embus angin yang merendah

adalah bahasa

petang yang sederhana

sehabis bekerja, seusai melunasi

penat dan dahaga, percakapan

di sepanjang trotoar, bagai embun

di pucuk-pucuk pagar

dan pada tiap jeda

embus angin yang merendah

tak ada jerit klakson dan bising

knalpot yang pecahkan telinga

mungkin hanya debu dan kecemasan

menyumbat paru-paru para pekerja


IV

azan menyusuk

di antara biru langit

dan rimbun cemara

dan petang adalah bahasa yang tulus

di mana orang-orang serupa Sisipus

kembali mencipta harapan lumrah

dan mengulum senyum

sebelum degup jantung kota

diberhentikan tangan Tuhan

yang mungkin bercahaya


Di Sudut Kelab Itu


I

di sudut kelab itu

ia tampak kaku

di tengah “This One’s

For You”, kepul asap tembakau

dan bir pilsener mengucilkannya

dari kilau dada stripper

sesekali, ia melirik arloji

dan menguap. nyaris tak percaya

dalam getar ruang, panggung fantasi

dan lighting gemerlap, orang-orang

bersorak, ia justru mencicip sepi

“ini cukup kunikmati”

gumamnya


II

pukul 7

ia menggandeng afair

menelusur trotoar bagai melangkah

di antara guguran mawar

di kedai malam, layaknya tokoh lama

bercakap, menahan batuk, mengagumi

bau rumput, merapalkan model kuliner

dan brosur wisata

kemudian

memungkas percakapan dengan metafora

tentang secangkir kopi yang tak butuh gula

yang terdengar geli, yang memuja sendiri

pukul 7

ia biasa jadi avonturir

menjelajahi afair, menghirup celah

hangat, merengkuh puncak


III

kini tidak

kini ia tak biasa

karena mungkin tak bisa

tapi ia berkata “aku lelaki, langkahku

panjang, niscaya melintas zaman”

ia ingin yakin, ia butuh cermin

tapi di kelab itu, tak ada kedok

atau figura, kalender atau peta

kota, tak ada yang dikenalnya

hanya sepatah menu

mencoba akrab di telinga

dan di sisinya pasangan insomnia

saling memagut, membuatnya kikuk

dan seorang gadis dengan tatap rajuk

mengingatkannya berahi telah lapuk


IV

memang, waktu bukan vinyl hitam

di mana DJ scratching dan animo tak surut

di mana ia sanggup berpusing tanpa kerut

di mana beat Guetta dan gempa warna

menyungkurkannya pada sloki sepi

“ya, ini kunikmati” ia menggumam

sekali lagi, berusaha mengkhidmati

meski di antara sendi dan semir poni

takkan ada ledakan


Di Bhineka Jaya

-muda wijaya


selangkah dari gadis Kumbasari

siang tertahan di rumah kopi

puisi-puisi meruap dari cangkir

luka pulang ke dada penyair


Jendela Kayu


sepanjang malam

ia akan tugur di jendela kayu

menjaga rindu meski takkan

pernah ada siapa

langit dan minggu sama biru

jalan dan sepi sama beku

dan lehernya tegak

pada kutub berkarat

seperti sebuah pasak

sebelum cakar ombak

tapi akan ada kecup robusta

meski bibir fantasia

di atas lumut meja

ia sunting bunyi berita

yang merdu dan bencana

yang sumbang dan niscaya

menjadi puisi yang tersenyum lelah

di antara gigil reruntukan

dan fahrenheit yang curam

menjangkau ujung malam

seperti shelter terakhir


Gerimis Jumat


ada jendela terbuka di ujung gerimis Jumat

lambai tirainya melambungkan ingatan

ke rimbun masa silam

hanya mata itu, selamanya ibu bagi airmata

tiap subuh sujud berubah menjadi batu

tiada lebih dingin selain kening tanpa kecupan

tiada lebih kaku selain tubuh tanpa harapan

selangkah dari rumah, kaki berjalan sendiri

menuju kantor luka dan restoran penuh dusta

di pedestrian menyumpahi Beckett jadi-jadian

di atas ranjang dipeluk Godot mati-matian

dan mata itu kekal di tanah tanpa tuan

dan mata itu hanya di cermin sunyi malam

ada jendela terbuka di ujung gerimis Jumat

lambai tirainya melambungkan ingatan

ke altar yang remang

ke sebuah kisah yang tak terjangkau sejarah



Lebuh Padang Panjang


kesejukan tercipta dari daun-daun lerai

desir angin gunung, napas rerumputan

renik air yang menitis pada tubuh batu

di antara sepi hutan dan sunyi kabut itu

kedamaian terlahir bagai biru matahari

di penghujung hujan, ketika burung pagi

menabur biji cahaya. kukuh pepohonan

kembali menyerap doa dan sajak-sajak

kekekalan adalah jejak yang tak lekang

di antara bau tanah dan keringat ladang

sujud murni nestapa, menangkap desau

hutan, menghirup tuah Padang Panjang



______

Penulis

Fajar M. Fitrah, Bandung 25 Maret 1993. Menamatkan studinya di UPI Bandung, Jurusan Bahasa & Sastra Indonesia. Tulisannya berupa esai, opini, dan puisi sesekali tersiar di koran lokal-nasional, media digital, dan antologi bersama. Saat ini sedang merampungkan kumpulan puisi pertama Pangkur. Bersama grup musiknya, Bob Anwar, merilis album musikalisasi-puisi Rendezvous. Sehari-hari menjadi guru di Bina Bangsa School Bandung dan mengelola label musik Komuji Indonesia.





Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com