Senin, 14 Maret 2022

Puisi-Puisi Hendri

 Puisi-Puisi Hendri




Kembali Daring


Nak! Duduklah dalam lamunanmu

Tataplah cakrawala yang berwarna

Dengan mega-mega yang berkuasa

Esok kau kembali menepi

Belajar daring bersama sunyi


Nak! Pandemi belum sirna

Lembaran-lembaran ilmu

Harus kau susun dengan mata berkaca

Karena jarak akan memisahkan kita

Hatimu dan hatiku di belantara luka


Nak! Tetaplah tersenyum

Walau ranting-ranting daun, pohon

Pucuk merah, dan dinding sekolahan

Kembali menangismu dan meratapi

Segala rindu. Jauh dari tawa dan bahagia


Nak! Sementara ini kalian di rumah

Biarkanlah kelas dan meja tersedu-sedu

Lantai keramik berteriak dalam retak

Sendiri bersama angin dan dingin

Sampai kalian datang lagi ke sekolah


Nak! Berdoalah. Agar pandemi ini

Hilang selamanya. Rinduku padamu

Seperti setetes embun yang menghijaukan

Hati. Menghijaukan senyummu

Saat di sekolah nanti


Kota Serang, 11 Februari 2022



Bingkisan Mimpi


Setiap memandangmu

Ada getar yang mendayu

Mengetuk hatiku. Menobrak segala

Tembok yang menjadi penghalang

Untuk menyelusup ke ruang sunyimu


Wajahmu berceceran indah di puisiku

Di lembaran-lembaran buku

Dan di antara dua bunyi

Yang memanggil lembut lewat nada

Kau dan aku


Malam-malam selalu menghadirkan

Bayanganmu. Tersenyum simpuh

Pada pikiran yang terusir

Dari pergolakan waktu

Begitu dalam. Begitu dahsyat


Ketika itu pula. Kecantikanmu

Kususun dari puing-puing rindu

Saat kau menepi jauh dari peraduan harapan

Namun tetap kuregut lewat impian

Dari tidurku yang nyenyak semalaman


Kota Serang, 4 Februari 2022



Menyepi


Dengarlah suara-suara sungai

Yang membisikan tentang rindu

Jalan setapak yang berdetak

Menuntunku menuju perburuan baru


Di perjalanan ada batu-batu

Ada pohon yang berjejer manis

Mengepungku di setiap helaian nafas

Dan hijaunya hutan di tubuhmu

Adalah cinta yang mendayu


Sedangkan nyanyian burung

Seperti mengajaku berdiskusi

Tentang wanita yang meninggalkanku

Di palung paling akhir


Melva, gadis bermata senja

Telah larut bersama dentingan air

Mengalir ke sela mata dan lekuk pipiku

Menjadi luka yang terbalut sepi


Di penantian ini. Aku bersembunyi

Tak terjamah lampu suar

Jauh sekali. Selain sunyi yang setia

Menemani keteduhan hati ini


Kota Serang, 3 Februari 2022



Di Ujung Pena


Aku tulis puisi di tubuhmu

Pelan saja. Sambil memejamkan

Mata. Kau nikmati goresan pena

Yang kuciptakan dengan erangan

Dari nafasmu yang berlelehan


Tintaku masih sekental dulu

Meraba ke setiap helaian kulitmu

Kata-kata berloncatan. Menembus

Diksi. Memaknai kiasan yang berarti


Kau hampir di ujung puncak

Ketika penaku melaju ke ruang sunyi

Menuju hutan bahasa

Begitu rimbun. Begitu belukar

Dan ujung pena itu. Siap memuntahan


Lendir-lendir bahasa. Sebagai

Ungkapan rasa. Sebagai ungkapan cinta

Kau dan aku. Di ujung pena itu


Kota Serang, 25 Januari 2022





_______

Penulis

Hendri, alumnus Diksatrasia Untirta 2005. Kini mengajar sebagai guru Bahasa Indonesia di SMPN 6 Kota Serang.





Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com