Jumat, 08 April 2022

Cerpen M. Bayu Ari Sasmita | Bab Tambahan Ramayana

 Cerpen M. Bayu Ari Sasmita



Istana negara Ayodya geger. Rama, raja tua yang duduk setengah tertidur di singgasananya ketika para pejabat istana sedang berunding tentang cara hebat untuk menambah jumlah upeti yang harus dibayarkan setiap wilayah, tiba-tiba tersentak ketika sekretarisnya yang menawan—tapi tetap tidak semenawan Sita!—membangunkannya setelah mendapatkan surel dari Polisi Siber Ayodya. Menurut surel itu, Rama, raja diraja Ayodya, telah dilecehkan, baik oleh orang-orang di dalam negeri maupun para diaspora yang bekerja atau belajar di luar negeri.


Para pejabat menghentikan diskusinya sebentar untuk menyimak informasi dari sekretaris yang menawan itu.


“Adik manis,” kata salah seorang, “ada apa?”


“Apa ada dugaan kita semua dicurigai bekerja sama dengan mafia pasar untuk membuat harga-harga naik?” tanya yang lain.


“Ah, pasti si … ditangkap. Itu, lho, yang tidak mau bekerja sama dengan kita dan bersikukuh menjadi pejabat yang bersih!” kata yang lain lagi.


Sekretaris yang menawan itu menggeleng seraya menampilkan layar laptopnya pada layar proyektor sehingga segenap pejabat istana dapat melihatnya. Layar itu menampilkan sebuah laman surel yang isinya demikian.


Dari Satuan Polisi Siber Ayodya * polisi.siber.official@ayodya.go.ad 

Kepada Istana Negara Ayodya * istana_official@ayodya.go.ad 

Tanggal xx xx xxxx 9.12

[gambar gembok] Enkripsi Khusus


Salam,


Paduka Rama yang kami muliakan, bersama surel ini, kami, Satuan Polisi Siber Ayodya, telah menemukan berbagai tindak pelanggaran siber. Kami sudah mengantongi beberapa nama dan beberapa orang juga telah kami tangkap. Pelanggaran-pelanggaran siber tersebut terutama karena melecehkan marwah Paduka. Bukti-bukti pelanggaran itu telah kami lampirkan dalam file kompres di bawah ini. Demikian yang dapat kami sampaikan.


Hormat,

Satuan Polisi Siber Ayodya

Jln. Prabu Dasarata No. 9


Sekretaris yang menawan itu mengunduh file kompresan dan mengurainya menjadi file-file yang jumlahnya ratusan. File-file tersebut berupa gambar-gambar hasil tangkapan layar, baik dari gawai maupun laptop. Ada unggahan-unggahan di media sosial yang berupa meme atau tulisan seutuhnya, baik yang berupa semacam opini sampai puisi. Selain itu juga ada esai-esai di media daring atau data tentang skripsi, tesis, dan disertasi yang coba mndiskreditkan raja diraja Ayodya dan meninggikan Rahwana. Lebih lanjut ada foto-foto sampul buku yang isinya dicurigai—pihak satuan Polisi Siber Ayodya belum membaca isinya—tidak hanya mendiskreditkan Rama, tapi bahkan menghujatnya habis-habisan sebagai lelaki yang cemburu buta, lemah karena gagal melindungi Sita, dan seterusnya. Ada juga yang memuji-muji Rahwana sebagai seorang pahlawan sejati dan memiliki cinta yang begitu besar, daripada yang dimiliki Rama kepada Sita. Bahkan, yang lebih hebat, Sita dituliskan lebih mencintai Rahwana dibandingkan Rama. Yang terakhir ini jelas-jelas fitnah, fitnah mahabesar. Sita benar-benar mencintai Rama dan tidak pernah bertindak serong. Dewata telah menetapkan jalan cerita yang demikian, meskipun harus dilalui dengan cara yang pedih karena Sita harus membakar dirinya terlebih dahulu sebagai wujud kesetiaan. Nah, karena pembakaran itu, Rama juga telah disebut sebagai pelaku tindak kekerasan dalam rumah tangga oleh para pembuat onar itu.


Foto-foto hasil tangkapan layar itu ditampilkan satu per satu. Setiap orang yang melihatnya dibuat terperangah. Mata mereka tak berkedip dan mulut mereka melongo—jika ada lalat yang iseng masuk ke sana, mereka pasti batuk-batuk sampai muntah-muntah.


Melihat hal itu Rama, raja tua Ayodya itu, bangkit berdiri. Beberapa sekretarisnya yang tidak ikut mengoperasikan layar membantunya berdiri. Dia bersiap menyemburkan kata-kata paling buruk yang bisa dia ingat.


“Keparat. Bangsat. Bajingan. Biadab. Jahanam. Babi. Anjing. Asu. Kirik. Lonte. Dianc—“


Semar, abdi kinasihnya, segera membungkam mulut bendaranya. Tubuhnya yang bulat dan pendek itu sempat kesulitan untuk menjangkau mulut Rama karena tubuh raja tua Ayodya itu tinggi. Tapi, dia akhirnya berhasil dan Rama tidak perlu melanjutkan kata-kata buruk itu.


“Cukup, Bendara. Cukup. Bendara tidak boleh mengucapkan kata-kata semacam itu. Tidak cocok dengan citra bendara di publik. Bendara adalah tokoh yang baik, bijaksana, dan mulia. Tutur katanya lembut. Pemberani dan suka menolong yang kesusahan. Sosok kesatria sejati yang kian hari kian sulit ditemukan,” kata Semar. Dia kemudian juga menyuruh bendaranya itu untuk duduk kembali di singgasananya. “Kalau sampai ada yang merekam dan video itu viral di media sosial, bendara tidak akan bisa berkutik lagi,” tambahnya.


Rama pun menuruti nasihat Semar. Dia duduk kembali dan menyuruh sekretarisnya untuk mengipasinya lebih kencang lagi. Akhir-akhir ini cuaca begitu panas. Pemanasan sedang berlangsung, malah semakin memburuk setiap jamnya.


“Semar,” kata Rama kemudian, “apa yang sebaiknya kita lakukan?”


“Polisi Siber Ayodya sudah mengantongi beberapa nama dan beberapa nama pun sudah ditangkap. Kita serahkan saja pada mereka.”


“Ide yang bagus. Tapi, kautahu sendiri, seperti kata pepatah, mati satu tumbuh seribu. Jika aku membungkam seribu orang.” Rama melihat ke jarinya dan mulai berhitung dengan jari-jemari itu. “Berarti akan muncul sejuta orang yang akan merongrong wibawaku. Pekerjaan akan semakin repot ke depannya. Katakanlah, Semar, abdiku yang bijaksana, apa yang sebaiknya kita lakukan?”


“Kita hanya perlu menangkapinya lagi. Tapi, saya punya suatu pikiran.”


“Apa itu, Semar?”


“Kita harus membereskan sumber masalahnya.”


“Apa itu?”


“Saya, beberapa hari yang lalu, baru saja mendapat laporan dari BTSN (Badan Telik Sandi Negara) terkait adanya barisan pengacau di daerah-daerah. Mereka menyebut diri mereka BPR alisa Barisan Pembebas Rahwana. Pasti mereka adalah orang-orang yang membuat tulisan-tulisan dan meme yang dilampirkan Polisi Siber Ayodya dalam surel mereka.”


“Tapi, Rahwana sudah—“


“Benar. Dia sudah mati. Tapi, ada sahibulhikayat yang menghendaki Rahwana tidak mati—karena memang dia tidak bisa mati—dan hanya tertindih gunung sehingga tidak bisa bergerak bebas saja.”


“Tapi, orang-orang tolol itu tidak akan bisa membebaskan raksasa berkepala sepuluh itu. Hanya Hanoman, atau seseorang yang setara kekuatannya dengannya dan kurasa tidak ada, yang sanggup mengangkat gunung itu.”


“Tapi, jika mereka dibiarkan, Bendara, mereka akan terus berulah. Mereka akan membuat kerusuhan di mana-mana, baik di dunia nyata, dunia maya, atau bahkan metaverse.”


“Lalu?”


“Tenang, Bendara. Saya ada rencana.”


“Apa itu?”


“Kita harus benar-benar membunuh Rahwana. Sederhana, bukan?”


“Tapi, kaubilang Rahwana tidak bisa mati?”


“Tenang. Serahkan saja kepadaku.”


“Baik. Aku serahkan kepadamu karena kau memang orang terpercayaku. Aku akan memanggil Hanoman kembali dari masa pensiunnya untuk satu tugas penting ini.”


“Satu lagi, Bendara.”


“Ada lagi? Apa Rahwana bukan satu-satunya sumber masalah?”


“Masih ada satu lagi. Dia luput dari pengawasan Polisi Siber Ayodya. Aduh, mereka itu kerjanya setengah-setengah. Seleksi masuknya harus diperbaiki tahun depan. Kembali lagi. Ada satu orang yang masih dan akan terus merusuh jika tidak diatasi.”


“Siapa dia?”


“Penulis karangan ini. Dia juga seseorang yang telah mendiskreditkan bendara melalui karang ini. Tangkap dia! Adili dia! Gantung lehernya!”


29 Maret 2022



__________

Penulis

Mochamad Bayu Ari Sasmita. Lahir di Mojokerto pada HUT RI Ke-53. Beberapa cerpennya pernah tayang di beberapa media daring. Sekarang tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Akun instagram @sasmita.maruta.


Nomor WA 085843945902.

Alamat sur-el: bayu9903@gmail.com




Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com