Jumat, 08 April 2022

Puisi-Puisi Anindita Buyung Pribadi

 Puisi Anindita Buyung Pribadi




Sajak-Sajak Kesepian


mengetuk dari balik pintu almari

semua yang dibawa angin malam itu

adalah renungan tentang waktu

mendung warna merah

dan reriuh angin gelisah

hujan bernama senyuman

jatuh tak memberi kabar

dengarkah kau suara itu?

suara pelangi yang silap

dikelabui jam dinding yang berucap,

“waktu telah mengacuhkan memori”

hujan yang turun memerangi nasib

karena pagi tak mau beranjak

embun mendekap erat

khawatir esok tak bertemu matahari


Magelang, 2021



Sajak Senja pada Malam yang Baru


rindu-rindu terbingkis sampul yang baru

kau peluk di sepanjang langkah menyeru

menatap wajah yang memerah

memantau senyum yang terkulum

tatapmu merungkau pada mataku

memukau di sepanjang waktu

bisik udara membawa dalih pada kenanga

menuang teh pada cawan yang sama

menemani senja yang sama waktu

mengawani petang yang sama malu

ada pintu mengetuk pinta

terbuka lebar menyapa kita

ada batas pada waktu yang menyenja

tersenyum pada mata yang manja

pada setiap aroma, wangi berperan

pada sebilang bayang, wajahmu terkilan

ragamu terlelap; matamu sembap

namamu selalu ada pada setiap harap

senyumku seraut berpaut wajahmu

kau tetap berjalan menjauh ke arahku


Magelang, 2022



Sajak Seuntai

:malam minggu


terurai tirai-tirai oleh daun-daun kelana

tabir menjaga rahasianya dari cahaya

jika nanti mereka melontar tanya

kujawab dengan seuntai sajak saja

rasianmu rapi menyayat dalam benian

akui saja, ini memang kau cipta untukku

bilamana aku memiliki sedikit keberanian

kasih berhelai-helai menjadi tajam mengaku

di depan pintu yang tertutup aku mengetuk

mencari dan mencuri kesempatan bersapa

kulihat dikau sedari tadi menahan kantuk

lantas membukakanku pintu berkaca-kaca


Magelang, 2022



Sajak Malam Minggu


selain hujan

masih ada banyak kemungkinan

tentang pertanyaan-pertanyaan.

masih adakah cinta yang semi

kubawa padamu malam ini?


sesungguhnya aku hanya memandangmu melalui titik yang sama,

pada jarak yang serupa seperti lama.

bukanlah aku yang memberi bahu

untuk menuntaskan air mata yang mengalir dari hatimu.

aku yang memberi belai lembut dari rerampai kata

kutiup dari kening hingga ujung rambutmu yang nestapa.

biarlah aku berdua dengan puisi

menitipkan kelu dalam kata-kata

lalu ku larungkan pada sungai pelangi

di malam yang kian larut; kian wangi

lalu kamu, mengambil sebait makna

kutiupkan lewat bisik angin yang basah

dari sebilah sepi dan gelisah


Magelang, 2022



________

Penulis


Anindita Buyung Pribadi, lahir di Banyumas tinggal di Magelang. Menulis puisi dan cerpen di sela kegiatannya sebagai pengajar di sebuah sekolah mengengah atas. Beberapa karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak, daring, dan antologi bersama. Penulis bisa ditemui di akun instagram @aninditabuy dan surel aninditabuyung@gmail.com.




Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com