Jumat, 22 April 2022

Puisi-Puisi Heru Patria

 Puisi Heru Patria




Kepul


Asap hitam membumbung tinggi menusuk langit

Sesaki rongga dada sakit tak kuasa menjerit

Belenggu hidup batasi ruang gerak sempit

Jiwa-jiwa rapuh makin terhimpit

Knalpot kendaraan tiada henti buang kentut

Cerobong pabrik keasyikan semburkan kalut

Orang pinggiran hanya mampu memeluk lutut

Setubuhi nasip penuh kemelut

Kepul asap sisakan polusi tiada henti

Udara pengap serupa racun bunuh diri

Manusia dan pohon berebut oksigen

Bukti persoalan hidup kian homogen

Nanti jika dada-dada ringkih telah terkulai

Detak paru-paru lagi berirama seperti dulu

Celoteh tentang reboisasi tinggal mimpi

Berselimut debu beranjang residu

Saat itu,

Kepul kepala manusia semburkan tanda tanya

Tentang siapa penanggung jawab ini semua

Sedang napas tinggal menghitung jeda

Satu satu tinggalkan hidupnya

Kepul kepala

Kepulan dosa

Kepul jiwa

Kepulan duka

Lara


Blitar, 2022



Residu


Pada siapa embun pagi akan adukan tangis

Ketika pucuk-pucuk daun tak lagi manis

Residu telah membuat kesegaran terkikis

Habis tergerus gerimis

Tiada salah mulut daun menggerutu resah

Lantaran manusia tak hargai jerih payah

Udara bersih tercipta dari tumbuhan hijau

Orang mengotorinya dengan beragam residu

Sungguh kacau!


Blitar, 2022



Sholawat Embun


Jika bagian terindah dari tidur adalah mimpi

Maka bagian terindah dari hidup adalah mati

Ajal yang sudah menjadi ketetapan Tuhan

Mustahil disangkal oleh suatu kekuatan

Siapkan diri dengan bekal keimanan

Selagi nama belum terpanggil dari antrian

Kalian lihatlah tetesan embun

Setiap pagi bersholawat bersajadah embun

Sebagai bentuk permohonan ampun

Atas lalai yang pernah terhimpun

Meski kehadiran embun hanyalah sesaat

Keburu pergi sebelum lidah matahari menjilat

Tapi hadirnya memberi sungguh manfaat

Persembahkan kesegaran bagi umat

Dari sholawat embun bersajadah daun

Beri kita petunjuk kehidupan santun

Utamanya bagi kaum yang pandai bersyukur

Atas segala nikmat di sepanjang umur


Blitar, 2022



Celoteh Emprit


Seekor emprit terbang rendah di pepohonan perdu

Bingung mencari sarang tempat kemarin bercumbu

Sebab pohon-pohon meranggas tanggalkan daun

Sisakan batang kering jauh dari kata rimbun

Pada angin emprit berceloteh pedih

Karena habitatnya kini telah tersisih

Tergusur oleh manusia bersifat rakus

Yang janji manisnya berbau kakus


Blitar, 2022



_______

Penulis 

Heru Patria adalah nama pena dari Heru Waluyo, seorang novelis dari Blitar yang juga suka baca dan nulis puisi-cerpen. Puisi dan cerpennya banyak dimuat dalam buku antologi nasional serta berbagai media cetak dan online. Novel terbarunya berjudul Dalbo : Basa Basi Bumi (Elexmedia, 2021) dan Kerontang : Kesaksian Pohon (Hyang Pustaka, 2022). Buku puisinya yang baru terbit berjudul Senyawa Kopi Sekeping Hati (IA Publisher, 2021).




Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com