Jumat, 22 April 2022

Cerpen Musyafa Asyari | Hikayat Kiai Ubed

 Cerpen Musyafa Asyari



Salamah masih tertidur pulas ketika malam yang begitu dingin, angin bertiup sangat kencang, menghantam pagar rumahnya dalam kondisi yang gelap dan desir angin yang menusuk.


Kreeekkk...


Untuk ke sekian kalinya suara derit pintu itu sangat mengganggu. Lagi-lagi Salamah harus terbangun di malam yang suram dan sendirian. Tidak lain suara itu dari pintu depan rumah. Ia pun menghampirinya dan ternyata itu adalah Pak Kardi yang sedang tergesa-gesa, entah apa yang diinginkannya?


Pak Kardi adalah petinggi di desa Benda. Ia berperawakan tinggi dan berkulit legam, lengkap dengan kumis melintang di atas bibirnya. Tatapannya tajam. Sosok tua berambut putih itu tiba-tiba masuk ke rumah tanpa salam. Ia kelihatan sangat linglung, melihat ke kiri dan ke kanan. Setelah itu, ia mengejawantahkan kata-kata.


“Kau hanya harus menyampaikan ini pada Kiai Ubed,” titah Pak Kardi ketika memberikan benda berbentuk bulat dengan tutup berundak-undak tersebut. Benda yang terbuat dari tanah liat dengan ukiran bahasa Arab di setiap sisinya.


“Ingat! Jangan pernah kau buka benda ini.”


Tangan Salamah hanya terpaku ditutup benda itu. Ini bukan kendi biasa. Apa isi benda tersebut hingga ia tidak boleh melihatnya?


Kiai Ubed adalah bangsawan yang memimpin pemberontakan di wilayah kekuasaan serdadu Belanda. Di samping menjadi bangsawan ia juga seorang kiai di Desa Jetak. Sering kali ia beserta santri-santrinya ikut berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Kiai Ubed juga mempunyai ilmu kanuragan, yakni ilmu yang berfungsi untuk bela diri secara supranatural. Ilmu ini mencakup kemampuan bertahan atau kebal terhadap serangan dan kemampuan untuk menyerang dengan kekuatan yang luar biasa. Hal itu bisa didapatkan Kiai Ubed karena tirakat yang selama ini ia lakukan. Kiai Ubed juga termasuk sesepuh kampung yang sejak dulu rutinitasnya memberikan pengajian dari langgar ke langgar. Kesederhanaan dan kemurahannya sudah tersohor di desa. Sebab itulah beliau disegani oleh banyak orang. Terbukti, ketika ia mendirikan pondok pesantren, banyak warga desa dan para dermawan yang membantu pendirian pondok pesantren tersebut.


Tiada hentinya perjuangan dan kegigihan Kiai Ubed dalam menyiarkan agama Islam dan melawan serdadu Belanda, kisahnya selalu didendangkan dalam senandung Hikayat Kiai Ubed. Sebuah nyanyian pengobar semangat yang membuat pendengarnya kehilangan rasa takut. Pasukannya menjadi momok menakutkan serdadu Belanda. Sekali waktu, serdadu Belanda yang dipimpin oleh jenderal yang terkenal sadis pernah mencoba masuk untuk memberantas Kiai Ubed di Desa Jetak. 


Apa yang terjadi? Saat keluar dari sana mata jenderal tinggal satu. Pribumi memanggilnya Asmoro Bumi. Julukan yang biasanya ditujukan kepada malaikat penguasa bumi. Perwira dan serdadu Belanda banyak yang mati atau hilang diculik pasukan Kiai Ubed. Bahkan burung, pohon, angin, dan hewan jelata hutan pun sudah berpihak pada Kiai Ubed.


Suatu kehormatan jika Salamah dijadikan utusan Pak Kardi yang berjuang di wilayah Benda untuk menyampaikan sebuah kendi bulat kepada Kiai Ubed, sang legenda simbol perjuangan rakyat. Sekali lagi Salamah menarik kain panjang bermotif batik sebagai penutup kepala untuk menyembunyikan dagunya. Ia tidak mau serdadu belanda yang berlalu lalang melihat jelas badannya.


Salamah sudah sampai di hutan. Perjalanan dari benda ke Jetak itu tidaklah dekat. Ia harus melewati hutan dan wilayah kekuasaan Belanda. Pak Kardi sengaja memilih perempuan sebagai pengantar pesan karena perempuan dianggap tak berbahaya oleh musuh. Mereka tidak akan curiga kepada perempuan berkain sarung yang berjalan kaki. Seperti perempuan perumahan pada umumnya. Di dunia mata biru perempuan memang dipandang tak berdaya.


Salamah bukanlah perempuan biasa. Dia sudah membedil Suparjo, suaminya tercinta akibat perselisihan biasa. Mereka lupa pada kekuatan perempuan yang diamuk amarah.


Dua orang serdadu Belanda terus berkuda tak memedulikan perempuan itu. Darah Salamah terus bergejolak, seakan ia ingin menancapkan belatinya ke salah satu ulu hati serdadu itu.


“Ah, kalian beruntung kali ini serdadu.”


Salamah harus cepat membawa kendi ini sampai kepada Kiai Ubed. Wanita paruhbaya itu kembali melangkah. Hari sudah beranjak senja. Hatinya galau antara menginap di hutan dan di wilayah kekuasaan Belanda. Ah! Hutan bukanlah sebuah masalah.


Dalam kondisi yang gelap dan desir angin yang menusuk. Salamah tak mampu lagi menggerakkan kedua kakinya. Kedua tangannya menyilang di depan dada. Dinginnya malam menusuk hingga tulang. Ia tidak mau mengambil risiko ketahuan serdadu Belanda dengan menghidupkan api unggun sebagai penghangat badan. Nyamuk-nyamuk bersenang-senang di bagian kaki dan lengannya. Jangkrik dan kodok bersenandung lagu alam sebagai munajat agar kemarau panjang ini cepat berlalu. Malam musim kemarau memang teramat dingin padahal bintang bertaburan di angkasa.


Salamah menggenggam belati yang terselip di pinggang. Kalau musuh muncul ia tak mau menyerah dan mati begitu saja. Satu jam telah berlalu. Dua orang lelaki berpakaian tentara tiba-tiba keluar dari balik semak-semak.


“Wanita jalang, siapa namamu?” ujar serdadu yang memegang sebilah pedang. “Manis juga,” lanjut orang itu.


“Salamah.” 


Perempuan berkain sarung itu refleks mundur dua langkah.


“Apa yang kau bawa?” serdadu yang membawa bedil itu mendekat ke arah Salamah. Ia mendekat ke arah kendi tersebut.


“Sudah lama kami mencarinya,” ujar salah satu serdadu sambil tersenyum. Alam kembali gelisah. Pohon kembali bergerak. Hewan saling menjerit.


“Bunuh serdadu Belanda itu!” teriak ilalang yang tumbuh tak jauh dari Salamah.


Dezing! 


Serdadu yang membawa sebilah pedang itu mengayunkannya ke arah ilalang yang terus berteriak.


“Syahid telah menantimu. Surga telah menunggumu, jangan takut, Salamah!” 


Kelelawar berdatangan membisikan suara bernada sama.


Serdadu yang memegang bedil menembak tak menentu ke arah sekelompok kelelawar yang datang dari balik pepohonan. Darah Salamah bergejolak hebat. Ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Perempuan berkerudung motif batik itu menancapkan sebilah belati ke punggung serdadu yang sibuk menebas ilalang. Sementara serdadu yang membawa bedil itu sudah roboh tak berdaya.


Sekelompok lelaki berpakaian putih tiba-tiba datang dari arah jalan menuju Desa Jetak. Sementara ilalang, kelelawar, dan pepohonan masih menyenandungkan syair Hikayat Kiai Ubed. Sebagai pengobar semangat Salamah menghadapi kedua serdadu Belanda itu.


“Cepat, bawa perempuan dan kendi itu!” Perintah lelaki yang menjadi pimpinan kelompok berpakaian putih tadi.


“Kenapa kamu begitu ceroboh? Sampai-sampai terlihat oleh serdadu Belanda!” teriak lelaki itu lagi di antara binatang dan pepohonan yang terus menyenandungkan Hikayat Kiai Ubed.


“Maaf!” jawab Salamah yang tertatih di antara nyanyian hutan.


“Aku Kiai Ubed! Tutup telinga kalian!” perintah lelaki itu lantang.


Terlambat! Hikayat Kiai Ubed telah merasuk ke tulang dan dada pasukannya hingga mengendap di hati yang terdalam Salamah. Tak ada rasa getir. Tak ada rasa takut. Yang ada adalah keberanian dan kekuatan. Mereka berbaris menuju ke wilayah kekuasaan Belanda. Tujuan satu, membunuh serdadu Belanda itu di rumah gedung.


Kiai Ubed diam sembari meredamkan emosinya.


“Sudah tidak apa-apa. Lupakan masalah serdadu Belanda. Ayo sini bantu saya. Pegang tangannya. Kasihan, dia kesakitan,” ujar Kiai Ubed kepada santri-santrinya dengan penuh lembut.


_______

Penulis


Musyafa Asyari, mahasiswa Prodi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Islam Negeri K.H. Syaifuddin Zuhri Purwokerto. Lahir di Benda, Sirampog, Brebes, 1 Juni 2003. Bergiat menjadi anggota SKSP (Sekolah kepenulisan sastra peradaban). Domisili: Ponpes Al-Hidayah Karang Suci Purwokerto, dan Ponpes Darul Ghuroba Al-Hikmah 1.


Dapat dihubungi di musyafaasyari03@gmail.com





Kirm naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com