Jumat, 29 April 2022

Puisi-Puisi Sulaiman Djaya

 Puisi Sulaiman Djaya




Zaman Sekuler 


Ke arah pematang dan barisan jati 

hidup memang menunggu mati.

Aku harus selalu belajar menulis puisi 

dari bahasa yang tertatih. 

Bahasa yang dibunuh oleh iklan 

dan televisi 

yang kau tonton setiap hari. 


Kubangun taman-taman khayalan 

seolah kau dan aku bercanda 

dan berkejaran seperti para piatu 

di antara sungai, bunga-bunga, 

dan langit yang kugambar 

pada kertas. 


Menanam kegembiraan 

dengan mekar yang bersahaja. 

Seperti kata-kata dan bahasa 

yang memberi nyanyian dan nada. 

Para serangga bersayap ragam warna 

membantu rekah jadi buah. 


Aku hidup di gegap gempita zaman 

para penyembah berhala 

yang mencipta tuhan-tuhan 

ragam bentuk dan rupa 

tanpa lelah 

bagai hasrat yang tak pernah 


terpuaskan dalam hidup yang gelisah.

Andai kupetik kegembiraanmu  

yang tanpa sebab, 

pastilah kujalani hidup dengan ikhlas. 

Dengan kesahajaan 

para penabur doa 

di rumah-rumah keriangan kanak-kanak senja. 


(2019) 



Umur Kata


Aku rindu ricik air

Di batu-batu

Masa kanakku. Kapuk randu

Yang terhambur.


Matahari bermain

Dengan unggas

Ibundaku

Dan para serangga


Beterbangan di lalang

Yang hilang.

Aku rindu masa kecil

Ketika belum kukenal


Bahasa yang

Dijadikan senjata

Oleh mereka

Yang menganggap hidup


Sekedar benda-benda

Untuk dibeli

Dengan kertas bergambar.

Aku rindu pagi


Yang bernyanyi

Di ranting-ranting

Yang disentuh matahari

Setelah gerimis


Subuh hari.

Ketika kubaca dunia

Dari kata-kata doa

Yang didaras ibunda.


(2019) 



Lagu Nestapa Zaman 


Aku kehilangan bahasa keluguanku

Untuk bicara cinta, Jan. 

Kuamsalkan sebagai apa? 

Semesta matamu yang indah. 

Hidup barangkali

Serupa angin kelana

Bebas mengembara

Ke segala entah.


Mesti kugambar sebagai apa? 

Segala tuah dan pesona

Yang kini hilang

Di zaman yang renta. 

Zaman yang telah membunuh

Kejujuran kita sebagai manusia

Dan kita, tanpa diminta,   

Jadi terlempar oleh usia. 


Orang-orang mencipta

Berhala-berhala baru terus-menerus

Setiap waktu

Tapi aku masih setia berdoa

Meski kata-kataku

Adalah kanak-kanak nestapa

Di rimba-rimba keasingan

Deru dan bising mesin-mesin abad.


Aku tak bisa bicara cinta, Jan, 

Bila kalimat-kalimat puisiku

Dibunuh keserakahan

Para pemalsu kebijakan. 

Juga aku tak bisa berbuat apa-apa

Melihat sejumlah manusia

Memerdagangkan kemiskinan

Dan menjadwalkan perang


Meneriakkan nama-nama Tuhan

Dengan angka-angka

Dan kalkulasi saham

Demi keuntungan. 

Menjual ragam senjata

Aneka teknologi pembunuh massal

Dan merekayasa pasar finansial

Demi kerakusan.


Barangkali kita hidup

Dalam kemunafikan nestapa zaman

Hingga agama pun

Dijadikan alat tukar

Layaknya komoditas dagang

Oleh para selebriti

Yang mengenakan kopyah

Dan berjualan firman-firman.

 

(2021) 



Nyanyian Kebahagiaan 


Kebahagiaan itu, Jan, kegembiraan kita

Merawat bahasa jadi lagu

Kata-kata adalah perahu

Dengannya kuarungkan rindu

Ke lautan keberadaanmu

Dunia yang sebenarnya kadangkala

Kuhidupi dengan cemas

Mengganas  

Dalam diri

Seperti juga perumpamaan takdir

Yang tak kau mengerti.


Kata-kata adalah rumah

Tempatku memanen makna

Bila keriangan

Adalah tubuh yang tak pernah

Ingkar dan dusta. 

Kata-kata adalah layarku

Melaju menujumu

Yang kadang tergesa

Atau menggegas


Dan kadangkala ragu. 

Betapa kita tak pernah tahu

Kapan umurku-umurmu

Akan berganti nama

Jadi maut. Kata-kata pergi  

Dan datang sebagaimana

Cinta yang selalu saja

Kekanak-kanakkan

Bermain-main kemungkinan.  


Aku duduk dan merenung: 

Mengkhayalkan, berandai-andai

Sebaris teduh lampu-lampu jalan

Di dingin malam

Adalah ketakmengertian manusia

Menerka-nerka Tuhan

Dengan mencipta banyak agama. 

Saling menghakimi karena nestapa

Yang mereka ingkari.


(2021) 



Di Kedai Kopi 


Di sebuah warung kopi

Di kota kecil

Hanya ada orang-orang bosan

Dan cinta datang kemudian

Seperti tulang punggung malam

Diserap lampu-lampu jalan. 

Penyair membasuh

Noda kata

Yang dilekatkan zaman.


Manakah yang lebih purba

Dan abadi? Dosa berahi

Ataukah kemunafikan

Para pedagang kitab suci?


Cinta datang kemudian

Bersama perempuan

Yang semula tak memikat

Dan tak juga kukenal. 

Sebuah kebetulan yang indah

Dari kesepian lelaki

Yang terluka

Oleh tubuhnya sendiri

Menanggung berahi.


(2021)



Stanza Subuh 


Terbangun jelang subuh

Dan yang pertama kuingat

Adalah kamu. 

Angin dingin Oktober

Meresap ke dinding

Dan segelas kopi.  


Tiba-tiba kenangan menenun

Sejumlah fragmen

Yang telah lama tak ada. 

Betapa menyenangkan

Saat syahdu suaramu

Membaca sejumlah sajak


Membayang terngiang

Bersama desir semilir

Sunyi nasib dan takdir. 


(2021) 


______

Penulis

Sulaiman Djaya saat ini aktif sebagai Ketua Bidang Perfilman Majelis Kebudayaan Banten.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com