Jumat, 06 Mei 2022

Puisi-Puisi Kurnia Hidayati

Puisi Kurnia Hidayati



Janabijana


Menjauhi janabijana ratusan kilometer usai langkah terompah

Memulai dengan gelisah. Pertama kalinya, beringsut menjauhi dekap ibu dan ayah

Tergurat sketsa rindu

sepanjang perjalanan

Acapkali terhirup aroma masakan, kloneng gelas piring serta, siulan teko tua terbatuk-batuk

dan berteriak, tak sabar memekik tanya

Kau mau ke mana?

Ke kota lain ibu, menulis sejarah baru


Menjauhi janabijana, jarum jam terus berputar merupa jentera imajinasi

Dalam kepala. sepotong hatiku tertinggal di kamar,

Barangkali ia masih meringkuk di atas tilam

Mendengar dongeng nabi dan pahlawan dari ayah

Tatkala lampu dipadamkan tepat jam sembilan malam

Namun, selalu ada binar sepasang mata yang tertangkap

Di tiap-tiap cerita yang dibacakan


Aku yang kanak-kanak selalu menulis segala alur cerita dalam lembar kenanganku

Serupa jurutulis tanpa kertas dan pena

yang hanya bisa mengingatnya saja


Kapan akan pulang?

Secepatnya, jawabku.


Aku yakin, janabija selalu akan menanti

Merentangkan tangannya

Kapan pun aku akan tiba mencecap masakan ibu dan mendengar lagi segala cerita


Batang, 28 Desember 2021



Liang Lahat


Haruskah kukatakan

Betapa rakus ia

Melumat dan menelan

Sekujur badan


Pada si kecil yang terisak kehilangan bapak

Tiada iba pada ibu dan anak

"Selamat datang perpisahan," sambutnya.

Menerangkan bahwa siapa yang merantau telah kembali.

Terpagut dari tempatnya pergi


Pada yang berbangga ia berkata

Bukankah dunia cuma segaris

Senyum dan tangis?

selebihnya kekal dalam rumit

Alam penantian

Perhitungan neraca

Surga neraka


Batang, 19 Maret 2020



Keranda


Tanpa roda ia tiba, mencekau debar dada

Tudung hijaunya terkulai, meningkahi kerangka

Besi yang berjajar bercerita betapa dekat nyawa dan ajalnya

Kendati tangis berlepas dari mata

Namun mati adalah sepasti-pastinya ketiadaan

Menghantui, mengintai jadi baris misteri

Tanpa roda ia berjalan, beringsut mendekat pelan-pelan

Tak ada lagi lambai tangan

Pada harta dan handai taulan

Sebab ia berbaju mendung

Memagut baringan tubuh seseorang

Usai terlepasnya usia dari hayat

Bersama kenang-kenangan


Batang, 14 Maret 2020



_____

Penulis


Kurnia Hidayati, lahir di Batang Jawa Tengah, 1 Juni. Guru di SMPN 6 Batang. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di media massa lokal dan nasional. Buku puisi tunggalnya berjudul Senandika Pemantik Api terbit tahun 2015. Pernah menjadi peserta didik di Asqa Imagination School (AIS) angkatan 23.




Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com