Jumat, 06 Mei 2022

Cerpen Yuditeha | Takdir Cakil

 Cerpen Yuditeha




Sama-Sama Cakil


Dua pemuda bertemu di rimba raya terbesar di Jawa. Keduanya terkejut karena mendapati kemiripan mereka, sama-sama bertubuh tegap dan kekar, terlebih dengan wajahnya. Ketika mereka saling pandang, keduanya seperti sedang becermin. Satu-satunya pembeda adalah pakaian yang mereka kenakan. 


Apakah ini nyata? batin salah satu pemuda.


Perasaanku tidak enak, batin pemuda yang lain.


Mereka terus saling mengamati dengan tanpa kata. Sejenak angin menderu, menerpa pepohonan besar dan tinggi, suaranya seperti menjadi jelas terdengar. Sementara gesekan antardaunnya seperti semakin menambah singup-nya hutan raya itu. Perlahan keduanya lantas saling mendekat. Sesekali kaki mereka menginjak guguran daun kering dan ranting-ranting kecil hingga menciptakan suara-suara yang membuat perasaan keduanya menjadi gamang.


“Siapa kau?” tanya salah satu pemuda.


“Nah, kau sendiri siapa?” pemuda yang lain gantian bertanya.


Keduanya tetap waspada dan siaga. Tak lama kemudian hampir bersamaan pula, keduanya memegang gagang keris di pinggang mereka. Untuk sekadar berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang membahayakan diri mereka. 


“Mau apa kau?” tanya salah satu pemuda.


“Kau juga mau apa?” pemuda yang lain gantian bertanya.


Keduanya menarik keris lantas mengacungkannya tepat di dada lawan bicara.


“Jangan bertarung. Kalian adalah saudara.” Tiba-tiba sebuah suara menggaung di hutan itu.



Cakra Kilana


Cakra Kilana, pemuda Jawa yang kritis terhadap segala pemikiran, termasuk perihal lingkungan di mana ia tinggal. Saking kritisnya ia berani menentang kebijakan Sakulata, seorang raja yang kebetulan ramanya, terkait kehendak ingin memanfaatkan alam tanpa memedulikan kelestarian. Meski Sakulata berasal dari kasta satria namun perilakunya sering melawan tatanan. Cakra Kilana bertekad tidak mau mengindahkan keinginan ramanya itu. Ia menilai kebijakan ramanya dapat merusak alam semesta. Karena keberaniannya itu Cakra Kilana justru diusir dari istana, lalu mengelana di alam terbuka. Pengembaraannya berakhir di sebuah hutan rimba. Di hutan itulah ia berkehendak mengabdikan hidupnya. Ia bermaksud memerangi siapa pun yang berani merusak hutan. 


Suatu hari bertemulah Cakra Kilana dengan tiga raksasa, di mana dalam pengakuan mereka sebagai penguasa hutan tersebut. Karena Cakra Kilana merasa ketiga raksasa itu penguasa yang serakah, lalim, semena-mena—terlihat dari bagaimana cara mereka bersikap— maka ia pun memperingatkan mereka. Tiga raksasa itu tidak mau peduli dengan perkataan Cakra Kilana, hingga terjadilah pertarungan sengit. Ketiga raksasa itu rupanya tidak bisa menandingi kesaktian Cakra Kilana, dan mereka mengaku kalah. Meski begitu Cakra Kilana tidak berkehendak membunuh ketiga raksasa itu, bahkan justru menjadikan mereka sebagai prajuritnya untuk menjaga hutan.



Gendir Penjalin


Seorang raja bernama Ekalaya dicurangi. Anggraeni, istrinya yang molek bestari dibawa lari Permadi, pemuda satria yang sedang khilaf. Pemuda yang terlahir dari kasta satria itu memaksa karsa kepada Anggraeni, dengan memanahkan benih cela hingga Anggraeni nggarbini bibit cendala. Nafsu nista Permadi menempel pada garba Anggraeni, menyimpan biji laknat. Lahirlah orok dinamai Gendir Penjalin yang bertampang kirana, dan tumbuh atas riuh niat bejat Permadi. Sejak bocah hingga dewasa, pemuda itu suka bergumul di rimba raya. Aneka tabiat buas manjing dalam kalbunya, hingga ia menjadi penunggu hutan itu. 


Suatu hari bertemulah ia dengan tiga raksasa yang mengaku sebagai penguasa dari hutan itu. Gendir Penjalin merasa tersaingi dengan munculnya ketiga raksasa itu. Ia marah dan menantang mereka untuk bertarung. Siapa yang dapat memenangi pertarungan, ialah yang berhak atas hutan dan seisinya. Tiga raksasa itu dibuatnya kewalahan, tidak mampu menandingi kehebatan dari Gendir Penjalin. Ketiga raksasa bertekuk lutut, dan mengaku kalah di hadapan Gendir Penjalin. Meski begitu Gendir Penjalin tidak ingin membunuh ketiga raksasa itu, bahkan justru menjadikan mereka sebagai anak buahnya untuk menguasai hutan.



Dewa Togog


Satu-satunya anugerah yang diterimanya karena ia dipilih sebagai bagian dari kasta dewa. Ia cucu dari Sanghyang Wenang, yang diberi wahyu sebagai penyatu bagi jiwa-jiwa yang menderita. Hal itu bermula ketika Sanghyang Wenang mengadakan sayembara: Menelan Gunung. Bagi siapa yang berhasil melakukannya akan menjadi penguasa kahyangan. Sayembara itu pun diikuti ketiga cucunya. Karena ia cucu yang tertua, maka ia maju sebagai peserta pertama. Ia gagal melakukan, bahkan mulutnya robek hingga dower, dan semua giginya rampal. Bentuk fisik yang lain darinya adalah bermata juling, hidung pesek, dan berkepala botak. Nada bicaranya rendah namun besar. Ia memiliki senjata utama keris yang selalu dibawa ke mana pun. Terkait perihal keris, kelak ia suka memberi senjata kepada para pemuda resah dengan sebilah keris.


Karena kegagalannya itu ia diturunkan ke bumi untuk menjadi pamong pembisik kebajikan kepada manusia agar manusia berbuat baik, dan ia bertugas untuk menjadi pamong bagi kasta satria yang berwatak buruk. Ia memang selalu berpihak kepada penguasa yang memiliki hati sombong dan keras kepala. Namun celakanya, nasihat-nasihat yang ia berikan tidak pernah diindahkan oleh penguasa hingga ia pun lambat laun ikut-ikut berwatak jahat. Karena itulah ia dijuluki sebagai: Dewa yang Celaka, yang sesungguhnya hanya sebagai pelengkap penderita. Karena ia selalu gagal membisikkan kebajikan kepada orang-orang maka angkara murka pun tetap mengalir, segala watak berbudi hanyut, dan ia tidak pernah memiliki kesetiaan, hingga suka berganti-ganti majikan.


Setiap ia bertemu dengan pemuda resah karena bernasib buruk, dijadikanlah mereka bangsa durjana yang memiliki satu jiwa hina. Ia selalu menyabda pemuda-pemuda itu menjadi jail methakil. Penyelarasan sifat dan rupa yang ia lakukan itu berwujud wajah mengerikan, bermata besar dan bulat, berahang panjang, dan bertaring tajam. Menjadi manusia setengah raksasa, yang kemudian diberi nama Cakil. Demikian juga atas apa yang terjadi pada Cakra Kilana dan Gendir Penjalin. Togog mengubah para satria yang terkucil itu menjadi satria hitam tanpa kehormatan yang berarti.



Pertempuran Para Satria


Perang kembang perang begal datang melukis watak. Tembang pangkur terlantun menyayat seiring kecongkakan yang sengaja disematkan di dada para Cakil dengan bahan dendam terlaknat. Para Cakil pantang merunduk dan tak berkehendak tunduk, bahkan kekerasan kepalanya dijadikan doa luhur bagi bangsa danawa. 


Datanglah Permadi, utusan bagi kasta satria untuk membuat setapak sebagai jalan melahirkan negara, dengan dibantu Sakulata. Pohon-pohon ditebang, binatang-binatang disuruh minggir. Segala yang berani menghalangi ditumpas. Demikian juga seluruh raksasa pembantu Cakil pun gugur di medan laga. Para Cakil yang mengetahui hal itu langsung murka dengan membabi buta, mereka bergerak maju tanpa gentar. Mereka ingin menyelamatkan kewibawaan hutan. Karena semangatnya, para Cakil menggoyang-goyangkan keris-keris tanpa kendali yang sempurna. Ibarat karma telah waktunya bersarang lalu menilap seluruh kesadaran, menerjang segala batas, merusak segala tata. Keris berlaku bagai ajian yang memakan tuannya. Keris-keris menancap pada badan para Cakil sendiri tanpa duga, hingga menghabisi seluruh sisa tuah satria yang ada dalam raga.


Namun, kematian Cakil-Cakil memang sudah selayaknya harum bagai bunga kesturi karena mereka berperang melawan satria, sebuah pertarungan yang sepadan. Ketika Cakil-Cakil memilih mati di tangan Permadi dan Sakulata, awan mendadak menjadi kelabu, sebuah warna di antara hitam dan putih. Ketika Permadi dan Sakulata dapat menumpas habis para Cakil rupanya wajah keduanya tidak menjadi gelap. Rupanya tugas negara telah menjaga wajah mereka dari tabiat belangnya. Sementara itu kematian Cakil-Cakil seperti telah menjadi garis hidup perihal darma. 



Permadi dan Sakulata


Permadi pulang menemui kerabatnya, berkumpul dengan kasta satria, tentu sekalian mengabarkan kemenangannya atas Cakil-Cakil, dan bercerita perihal keberhasilannya membuka rimba. Demikian pula Sakulata, pulang membawa kemegahan diri karena dapat menguasai sebagian hutan sebagai persediaan atas kemakmuran istananya. Meski begitu ketika Permadi dan Sakulata sedang istirahat untuk melepas penat raga, rupanya jiwa mereka tidak bisa ikut terlelap. Sekilas ada bayangan dalam tidurnya. Permadi dan Sakulata melihat setetes sifat bejat sedang bersemayam di hatinya, dan ketika mereka terjaga, keduanya berusaha untuk menghapusnya, tetapi sia-sia.



Keterangan:

- singup = angker

- nggarbini = hamil

- jail methakil (Jawa) = hatinya jahat dan suka mencelakakan orang lain

- pangkur = salah satu tembang macapat Jawa yang biasanya diartikan sebagai mundur atau mengundurkan diri, maksudnya tembang ini memberikan gambaran bahwa manusia mempunyai fase di saat dia akan mundur dari kehidupan ragawi dan pindah ke kehidupan spiritual



_______

Penulis


Yuditeha, menulis puisi dan cerita. Pendiri Komunitas Kamar Kata Karanganyar. 


FB: Yuditeha 

IG: @yuditeha2