Kamis, 02 Juni 2022

Esai Juli Prasetya | Melihat Bagaimana Marquez dan Murakami Menceritakan Perempuan yang Dicintai, Tapi Tak Bisa Dimiliki

 Esai Juli Prasetya



Ketika saya dalam perjalanan jauh, entah itu menggunakan kendaraan pribadi seperti motor atau kendaraan umum seperti bus dan kereta api, saya selalu merasa bahwa seseorang yang saya cintai sedang berada di sekitar situ. Maksudnya, saya selalu merasa ketika saya dalam perjalanan, kemudian saya berpapasan dengan seorang gadis cantik di tengah jalan, saya selalu mengira bahwa gadis yang barusan lewat itu adalah jodoh saya. Yang lebih ekstrem lagi ketika saya kebetulan mendapatkan tempat duduk di kereta api atau di bus yang kemudian di samping saya ternyata duduk seorang gadis cantik. Saya selalu membayangkan bahwa dia adalah jodoh saya. 


Saya kira perasaan-perasaan semacam itu, perasaan yang saya alami itu, cerita-cerita aneh dan ketaktahuan diri yang memenuhi kepala saya itu hanya berlaku bagi diri saya pribadi. Saya pikir hanya saya yang mengalaminya. Ternyata saya salah. Dua penulis besar dunia, Gabriel Garcia Marquez dan Haruki Murakami, juga merasakan hal yang sama seperti apa yang saya rasakan. Bahkan mereka mengabadikannya di dalam sebuah cerita. 


Hal ini tentu saja membahagiakan saya, bahwa ternyata perasaan dan kejadian itu tidak hanya menimpa diri saya sendiri, tetapi juga dialami oleh penulis-penulis besar dunia. Bukti dari itu bisa kita lihat dengan menjejerkan dua cerita dari dua penulis tersebut. Yang pertama, cerpen Haruki Murakami berjudul "Tentang Berjumpa dengan Seorang Gadis yang Seratus Persen Sempurna pada Satu Pagi yang Indah di Bulan April" yang diterjemahkan oleh Anton Kurnia dan terhimpun dalam Cinta Semanis Racun (99 Cerita dari 9 Penjuru Dunia) terbitan Diva Press. Cerpen tersebut menceritakan tentang seorang pria atau tokoh aku yang berpapasan dengan seorang gadis di jalan sempit sekitar Harajuku. Mereka sering kali berpapasan, tapi tak pernah saling sapa. Si tokoh aku hanya berkhayal dan membayangkan saja bahwa perempuan tersebut adalah idamannya dan berharap suatu saat ia bisa bicara dengan si gadis, syukur-syukur bisa memilikinya. 


Kini tentu saja, aku tahu dengan tepat apa yang seharusnya kukatakan kepadanya. Mungkin terlalu panjang untuk kusampaikan dengan layak. Gagasan-gagasan yang terpikir olehku tidak pernah praktis. Begitulah. Apa yang kukatakan itu akan diawali dengan Pada suatu ketika dan diakhiri dengan Sebuah kisah yang sedih, bukan?


Si tokoh aku ini bahkan membuat cerita tentang pertemuan mereka, bahwa sebenarnya empat belas tahun lalu mereka pernah bertemu dan pernah berpacaran. Namun, keduanya bersepakat untuk berpisah dan saling bertaruh apakah waktu bisa menjaga cinta mereka dan suatu saat mereka tak akan lupa ketika takdir mempertemukan mereka kembali. Cerita inilah yang kemudian ia buat untuk menjadi bahan obrolan saat pdkt dengan sang pujaan hati, si gadis yang seratus persen sempurna itu. Tapi, ketika cerita tersebut sudah jadi, sang tokoh pun baru akan menyampaikannya dengan akhir yang masih menggantung, lebih tepatnya rencananya untuk melakukan pendekatan dan ngobrol dengan si gadis tak pernah terealisasikan sama sekali.


Ya. Itu dia. Itulah yang seharusnya kukatakan kepada gadis itu. Dan begitulah Murakami membuat cerita tentang seseorang  tokoh aku yang mencintai seorang perempuan, tapi tak pernah bisa dimiliki. Kisah indah yang sedih itu pada akhirnya tak pernah terjadi. Dan si lelaki tak pernah benar-benar berbicara dengan perempuan idamannya, perempuan yang dicintainya.


Sama seperti Murakami, Marquez juga melakukan hal demikian dalam kumcernya Para Peziarah yang Aneh yang diterjemahkan oleh Nanda Akbar Ariefieanto dan diterbitkan Basabasi. Dalam kumcer tersebut ada satu cerpen yang berjudul "Putri Tidur dan Pesawat Terbang". Di sana menceritakan seorang pria yang sedang naik pesawat terbang menuju ke New York. Kebetulan ia duduk dengan seorang perempuan cantik yang sebelumnya ia lihat di Bandara Charles de Gaulle di Paris dan meyakini bahwa perempuan itu adalah idamannya dan jodohnya.  


Sungguh perjalanan yang menggairahkan. Aku selalu percaya bahwa di alam ini tak ada yang lebih indah dari perempuan cantik, dan mustahil bagiku untuk menghindar sekejap saja dari pesona mahluk dongeng yang tidur di sebelahku.


Padahal selama di perjalanan si gadis hanya tidur, sedangkan sang pria berhalu ria, berimajinasi dengan melakukan tingkah kocak dan aneh, seperti mengajak sang putri yang sedang tertidur untuk tos minum, dan membayangkan bahwa ia menonton film dengan si perempuan di dalam pesawat. Bahkan saat si pria mencoba berbaring, ia membayangkan dirinya tidur bersama si cantik dan kedekatan mereka ia bayangkan lebih dekat dibanding pasangan suami-istri. Padahal kenyataannya sampai di akhir cerita, si tokoh aku hanya menyimpan perasannya dan memelihara khayalannya sendiri tentang malam-malam di pesawat bersama gadis yang sedang tertidur. Dan ketika si gadis terbangun, si lelaki tetap bersikukuh menjaga khayalannya tentang kemesraannya dengan si gadis yang ia harap akan terus berlanjut.


... pada saat itulah aku tersadar bahwa seperti pasangan yang sudah lama menikah, orang-orang yang duduk bersebelahan di pesawat tidak saling mengucap selamat pagi waktu mereka bangun tidur. Begitu pun dia. Dia melepas masker tidurnya, membuka matanya yang indah, menegakkan sandaran kursi, menepikan selimut, mengibaskan rambutnya yang kemudian jatuh terurai dengan sendirinya, meletakan tas kosmetik di lututnya dan memakai riasan wajah, yang sebenarnya tidak perlu, dengan cepat. Semuanya  berlangsung, tanpa dia sempat melihatku, hingga pintu pesawat mulai dibuka. Dia kemudian mengenakan jaket bulunya, hampir melangkahiku dan minta maaf alakadarnya dalam bahasa Spanyol khas Amerika Latin, dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan selamat tinggal atau setidaknya berterima kasih atas semua yang telah kulakukan untuk membuat malam kami bahagia. Dia pun menghilang di bawah terik matahari hutan Amazon New York.


Dari dua cerita ini saya bisa menyimpulkan bagaimana cara dua penulis dunia ini bekerja. Bagaimana mereka menceritakan perempuan yang dicintai, tapi tak bisa mereka miliki. Pola yang mereka gunakan identik, nyaris sama. Pola yang pertama, si tokoh aku adalah pengkhayal ulung, hanya bisa mencintai dan mengagumi dalam diam. Yang kedua, mereka berimajinasi dengan pikiran mereka sendiri tentang perempuan yang mereka cintai dan idamkan, tapi mereka tak mengambil langkah nyata untuk menciptakan kemungkinan dan keberhasilan supaya bisa lebih terhubung dengan perempuan yang mereka cintai karena memang di sinilah letak keindahan cerita cinta itu bermula. Yang ketiga, akhir cerita yang berakhir menggantung dan cenderung romantis tragis. 


Karena pengarang dan si tokoh aku di dalam cerita sadar bahwa sering kali perempuan cantik sangat mudah untuk dicintai, tapi tak pernah benar-benar bisa untuk dimiliki. Maka, tak heran jika Marques dan Murakami membuat cerita tentang seorang lelaki pengkhayal yang mencintai seorang perempuan yang tak bisa mereka miliki. Pedih memang. Berengseknya saya merasa tokoh yang Gabo dan Murakami ciptakan sangat mirip dengan saya.


________

Penulis


Juli Prasetya, pemuda desa sederhana asal Banyumas. Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung. Kini ia bermukim di Desa Purbadana, Kembaran, Banyumas. 

FB: Juli Prasetya Alkamzy




Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com