Jumat, 24 Juni 2022

Puisi-Puisi Sulaiman Djaya

Puisi Sulaiman Djaya



Tatabahasa 


Ketika hujan menyembunyikan senja 

Ada sepi yang teraduk bersama dedak kopi 

Dalam segelas waktu. Kenanganku 

Yang entah kenapa menolak 


Dihapus dari tatabahasa dan sajakku. 

Asap rokok kretekku mengepul 

Dan lalu hilang seperti maut dan kegaiban 

Yang kelak jadi takdirku. 


Pendar cahaya lampu-lampu 

Dan jalanan basah, seperti saling berkhianat 

Dalam rahasia. Antara ventilasi dan daun-daun 

Yang kedinginan, ricik memang terdengar 


Seperti kesedihan. Juga kegembiraan 

Saling berebut ingatan. Meski tak juga 

Kutemukan kata dan kalimat 

Untuk memberinya sebuah nama. 


(2016) 



Sajak Cinta 


Matamu danau dan aku sunyinya 

Yang terpanggang matahari. 

Ada cahaya juga nelayan 

Cakrawala menjaring hujan 

Dan burung-burung telah mencuri sepi. 


Waktu. 

Apa yang kau pahami tentang waktu, 

Sayangku? Manusia mati 

Dengan cara mereka masing-masing. 

Tapi aku masih tetap menulis puisi. 

Waktu adalah kerianganku 


Dan kegembiraanmu 

memindahkan kata-kata sesuka kita 

Pada kertas-kertas usia. 

Udara mengembara seperti pikiran 

Yang bertamasya ke masa silam.  


Langkah-langkahku mengundi nasib 

Terkadang harus rela terhenti 

Oleh sesuatu yang justru membuatmu 

Tertawa. Aku matahari 

Dan engkau rumput pagihari 

Di pematang masa kecil. 


(2019) 



Kecambah 


Engkau lahir dan tumbuh 

Seperti kata tak boleh ragu 

Untuk jadi suara dan lagu 

Bagiku dan bagimu 


Dari rahim sunyi dan sepi 

Seorang penyair. Misal 

Batang-batang dan ranting 

Adalah amsal diri dan takdir, 


Apakah bumi 

Ataukah langit yang mesti 

Kucintai? Dan puisi 

Masihkah harus ditulis? 


(2019)



Umur Kata


Aku rindu ricik air

Di batu-batu

Masa kanakku. Kapuk randu

Yang terhambur.


Matahari bermain

Dengan unggas

Ibundaku

Dan para serangga


Beterbangan di lalang

Yang hilang.

Aku rindu masa kecil

Ketika belum kukenal


Bahasa yang

Dijadikan senjata

Oleh mereka

Yang menganggap hidup


Sekedar benda-benda

Untuk dibeli

Dengan kertas bergambar.

Aku rindu pagi


Yang bernyanyi

Di ranting-ranting

Yang disentuh matahari

Setelah gerimis


Subuh hari.

Ketika kubaca dunia

Dari kata-kata doa

Yang didaras ibunda.


(2019)



Solilokui 


Masih kujumpai ragam kupu-kupu 

Tidak kunang-kunang 

Saat aku susuri pematang kering 

Dengan beberapa pohon cherri 

Bercabang ramping. 


Sudah lama aku tak berjalan sendiri 

Mencandai sepi 

Mencandai angin 

Menyentuh remah-remah matahari 

Dengan mata dan tanganku. 

 

Musim enggan untuk diramal 

Dan betapa panjang lelah 

Bahkan rumput pohonan jati 

Terhempas cuaca 

Seperti masa kecil 

Yang direnggut lupa. 

 

Mengingatkanku pada sorehari 

Yang kutinggalkan 

Pada kenangan ibuku 

Saat merapihkan batang-batang padi 

Yang diketam 

Dengan rasa letih. 


Debu-debu singgah 

Di jendela dan buku-buku. 

Tapi sudah tak ada kapuk randu 

Yang dulu hablur 

Di antara bunyi arus air 

Dan suara itik 

Akhir Agustus. 


Sudah lama tak kuakrabi 

Dan tak kurenungi 

Kanak-kanak matahari 

Di sela-sela ranting 


Membiarkan hatiku berkelana 

Memahami semesta 

Yang luas terhampar 

Dan yang ada 

Dalam diri. 


(2019)



Semesta Bahasa


Menjelajah semesta, betapa banyak 

yang tak kubaca. Ada kegembiraan yang bisu 

di rumbai tunas-tunas matahari 

serupa aku yang ingin menyentuh 

wajahmu. Mencat sepasang bibirmu. 

Menenun rambutmu dengan senja 

yang tak pernah menua 


sepanjang usia. 

Seperti baris-baris pohon ceri 

dan gugusan jati 

dalam buaian 

kemarau panjang. 


Ada hidup yang mengalir 

bersama arus air. 

Juga betapa mengagumkan 

setiap yang gugur 

bersama siklus. Doa-doa didaraskan 

mereka yang terusir 

dan dinyanyikan dalam sukacita. 


Tapi para penjual agama 

telah mencandu dusta. 

Tentu kau tak tertipu, sayang, 

kepada mereka yang mendaku 

para penyembah Tuhan 

sembari berjualan firman 

demi bursa saham. 


Lebih baik kau dengarkan 

betapa lirih serupa tasbih dalam sunyi 

para pemilik sayap 

menulis kata-kata 

di udara. Para peziarah 

dan pencumbu bunga-bunga 

selalu ikhlas untuk pergi dan datang 

mengurai bahasa. 


(2019)



_______

Penulis


Sulaiman Djaya lahir di Serang, Banten. Menulis esai dan fiksi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak,  Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012), dan lain-lain. 



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com