Kamis, 23 Juni 2022

Esai Bandung Mawardi | Peta: Nusantara dan Dunia

 Oleh Bandung Mawardi




Keluhan terlambat saat orang-orang ingin mengetahui Tiongkok. Adi Negoro dalam buku berjudul Tiongkok: Pusaran Asia (1951) menjelaskan: “Buku peladjaran ilmu bumi dizaman pendjadjahan biasanja dikarang oleh guru-guru Barat jang melihat dunia dengan pendirian jang Eropah-centris, artinja segala-galanja diukur dengan ukuran mereka sendiri, sedang perbandingan-perbandingannjapun diambilnja dari Eropah…” Penjelasan berkaitan sedikit pengetahuan termiliki tentang Tiongkok. 


Adi Negoro mengingat kedatangan orang-orang dari Tiongkok ke Nusantara sejak ratusan tahun lalu. Kedatangan mengubah dan memberi pengaruh dalam peradaban Nusantara. Dugaan dari Adi Negoro: “Bangsa Tionghoa telah semendjak zaman Djengis dan Kublai Khan mengenal Indonesia, mungkin djuga sebelum itu sudah ada orang Tionghoa berdagang dan tinggal menetap di Indonesia.” 


Hal terpenting mesti dipelajari pada masa 1950-an, Tiongkok itu negara besar. Murid-murid di Indonesia diberi pelajaran masih terbatas tapi memastikan Tiongkok adalah negara luas. Pelajaran memerlukan peta. Di Indonesia, peta-peta dari masa kolonial kadang diberlakukan dalam kepentingan-kepentingan politis dan kesejarahan. Adi Negoro telah mengajukan kritik atas muatan-muatan pengetahuan dalam mata pelajaran ilmu bumi. 


Buku susunan Adi Negoro ingin memberi pengertian berbeda. Di sampul buku, para pembaca melihat gambar peta Tiongkok. Di halaman awal, peta pun disajikan dengan keterangan: “Peta Tiongkok menurut kenegaraannja, watas-watas dengan negeri dikelilingnja.” Peta membuat pembaca bisa berpikiran dan berimajinasi jauh. Tiongkok memang pikat.


Pada 1952, terbit buku berjudul Dari Panggung Peristiwa Sedjarah Dunia I susunan HJ van den Berg, H Kroeskamp, dan IP Simandjuntak. Buku pelajaran sejarah di sekolah umum mengenai India, Tiongkok, Jepang, dan Indonesia. Halaman-halaman pelajaran itu memuat peta-peta. Murid-murid masa 1950-an dibuat takjub dengan peta. Di hadapan peta, mereka memikirkan sejarah dan dunia sedang berubah. 


Di halaman 9, peta itu memukau. Keterangan terbaca: “Kira-kira 400 tahun jang lalu, ‘Peta Baru Asia’ dibuat oleh Abraham Ortellius, seorang kartograf (penggambar peta) jang terkenal dari Antwerpen. Buku jang berisi peta itu mempunjai nama Latin. Arti nama itu ialah ‘Panggung Dunia’. Buku itu diterbitkan kira-kira dalam tahun 1575. Ketika itu perkataan ‘atlas’ belum dipakai orang.” Buku pelajaran mulai merangsang murid-murid penasaran peta. Mereka melihat dan membaca peta berarti berikhtiar mengerti dunia. Pada masa berbeda, murid-murid belajar dari buku berisi peta-peta biasa mendapat sebutan “buku atlas”.  


Adi Negoro menggunakan buku-buku garapan sarjana Eropa untuk menulis Tiongkok: Pusaran Asia. Ia tak menggunakan tulisan WP Groeneveldt (1888). Tulisan lama berkaitan buku Adi Negoro, tapi baru diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada 2009. Buku diberi judul Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Kita membaca deskripsi berlatar abad VI: “Negara ini sangat membingungkan para ahli geografi Tiongkok. Namanya tidak dijelaskan di catatan lainnya, minimal dengan nama yang sama. Beberapa ahli geografi menempatkannya di Sri Langka dan nama itu bisa menunjuk ke pulau ini… Para ahli geografi Tiongkok lainnya, yang mempelajarinya secara mendalam, menempatkan negara ini di pantai utara Jawa.”


Pada suatu masa, kapal-kapal dari Tiongkok berdatangan ke Sumatra dan Jawa. Mereka singgah di pelbagai tempat. Catatan dari para ahli geografi menjadi petunjuk dan menantang untuk membuat lengkap. Kita berimajinasi peta-peta masa lalu mudah berubah meski dibuat dengan sulit. Peta menjadi acuan berhitung waktu, jarak, dan kondisi. Peta memerlukan nama-nama. 


Kedatangan orang-orang dari jauh menjadikan Nusantara perlahan tergarap dalam peta. Pulau-pulau bernama. Sekian tempat mendapatkan nama dan keterangan. Peta-peta ditatap dalam nalar-imajinasi perdagangan, kekuasaan, agama, dan lain-lain. 


Peta pun mengingatkan Portugis. “Ada banyak peta pulau ini yang digambar oleh orang Portugis,” tulis Antonio Pinto Da Franca dalam buku berjudul Pengaruh Portugis di Indonesia (2000). Pula dikmaksud bernama Sumatra. Pada 1598, dibuat peta Sumatra dengan nama-nama Portugis. Keterangan lain: “Pulau Jawa pun telah digambar oleh para kartografer Portugis pada abad XVI. Dugaan cukup mengejutkan: “Ada yang mengatakan bahwa nama pulau Celebes (Sulawesi) berasal dari bahasa Portugis. Menurut mereka, kartografer Nicholas Desliens dalam suatu peta yang digambarkannya pada 1541, memberikan nama ‘Ponta dos Celebres’ (Tanjung Orang-orang Termasyhur) pada bagian paling utara pulau ini.” Orang-orang Portugis datang ke Nusantara. Mereka berpeta, tak kalah dengan Tiongkok mendahului datang ke Nusantara. Peta terlalu penting untuk kapal-kapal membawa misi-misi besar.


Sejarah dengan peta-peta. Orang-orang berdatangan dari jauh membuat dan membawa peta dengan nama-nama. Bahasa mereka turut berpengaruh dalam arus peradaban. Sejarah tercatat dengan pilihan nama dan gambar-gambar peta mungkin berubah. Nusantara itu memikat selama ratusan tahun mungkin mula-mula dipengaruhi peta. 


“Perjalanan sejarah kartografi tidak sekadar mencerminkan perkembangan pikiran manusia,” tulis Nicholas Carr dalam buku berjudul The Sahllows (2011). Sejarah berpeta menentukan nasib dunia dalam perdagangan, perang, wabah, dakwah, dan lain-lain. Carr melanjutkan: “Peta adalah media yang tidak hanya menyimpan dan memindahkan informasi tapi juga mencerminkan cara melihat dan berpikir.” Ia menjelaskan peta-peta masa lalu saat mengalami hidup dalam situasi berbeda berlatar abad XXI. Peta masih penting. Peta tak lagi lembaran-lembaran digunakan di kapal-kapal atau istana. Teknologi pembuatan dan pembacaan peta telah berubah. Ratusan tahun dunia berpeta memunculkan konklusi: “Peta mengubah bahasa secara tidak langsung dengan melahirkan metafora baru untuk mendeskripsikan fenomena alam.” 


Kini, kita mengingat peta dari abad-abad berbeda tapi mulai meragu kemampuan membaca peta. Kita menganggap peta itu bagian mata pelajaran. Nostalgia bersekolah saja. Di tatapan mata membaca sejarah, kita mulai tergoda lagi mengerti peta-peta terbukti mengubah nasib umat manusia di pelbagai tempat. Peta itu berbahasa. Kita berimajinasi bahwa peta-peta itu penentuan hidup-mati atau menang-kalah. 


Peta pernah dibuat dan dibawa oleh orang-orang Tiongkok, Portugis, Belanda, dan lain-lain mungkin “pembenaran” untuk menghasilkan peta Indonesia terbiasa kita lihat dalam buku pelajaran, lembaran, iklan, logo, dan lain-lain. Peta itu bersejarah panjang, belum tentu kita mengerti dan memiliki penguasaan beragam bahasa untuk membaca perubahan-perubahan. Begitu.


____

Penulis


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi. Penulis buku Silih Berganti (2021), Titik Membara (2021), Tulisan dan Kehormatan (2021), Bersekutu: Film, Majalah, Buku (2021), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020), Terbit dan Telat (2020), Pengisah dan Pengasih (2019).


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com