Jumat, 15 Juli 2022

Puisi-Puisi Isbedy Stiawan ZS

Puisi Isbedy Stiawan ZS




Kepada Rindu


Kepada rindu yang tak kutahu

rupanya, akan kulukis di langit 

yang pucat. kubuat seperti pelukis

menghidupi rekaan lalu bisa  

bercengkerama


di langit yang berat oleh air itu 

kusematkan gelisah yang buncah

kuterakan mata dari hati basahku

agar rindurindu mengerti setiap 

yang merasakan


                    karena rindu


kepada rindu yang tidak kutahu 

terbuat dari apa, akan kutipukan 

ruh dari segala yang merasa rindu



Hanya Saat Hujan


Barangkali hanya saat hujan

kau datang sebagai kenangan

membawaku pada silam

antara temaram dan terang 

antara riang dan mencekam


mungkin hanya pada hujan 

aku bisa mengingatmu 

dan kukenang segala kasmaran 

dan patah hatiku 

segala cumbu dan kegaduhan

saling lumat ataupun ancaman


ya, barangkali waktu hujan 

dan kepada hujan 

yang indah dan kelam 

bisa kukenang

ihwal...


2022



Lilin yang Menyala dan Ditiup

: Ginda Yurnalis


Lilin yang menyala di antara jamuan

lalu ditiup. biarkan api padam, tapi

akan kekal di hati. telah menyuarkan

perjalanan lalu, mencahayakan yang

akan datang,


       perjalanan berliku, tanjakan, 

dan ngarai. batubatu itu di telapak

menjadi tanda, bahwa langkah 

telah jauh dilalui. matahari akan 

menemani: "Tuhan menyertai,

Tuhan selalu menjaga...."


biarlah lilin itu menyala dan padam

tapi ia akan menerangi hati


Rajabasa 3 Juli 2022



Kota Ini Juga Kita Berkunjung 


kota ini juga -- seperti pada 

malammalam sebelumnya -- kita 

berkunjung.  wajah kita basah 

oleh cahaya. berwarnawarna


kau masih ingin bercerita

ihwal kota yang sempat sunyi? 


jalanjalan lengang. kita bisa 

berpacu cepat, begitu longgar

kita banyak melempar kata

ke jalan, dipungut para pejalan


tapi kita lupa apa yang telah 

diucapkan - bahkan sesekali 

berdebat - karena perjalanan 

merayap; wajah berpeluh 


mungkin kita pun lupa 

bahwa pernah terkurung

berbulanbulan. menulis 

waktu yang gugur


2022



Ia Simpan Gemuruh di Dalam 


Laut hanya menampakkan wajahnya

ia berombak, kadang mengempas

tapi juga seakan tenang; lembut 

ataupun tersenyum bagi pelayar


ia simpan gemuruh di dalam, hatinya 

kecamuk; kadang menjadi badai 

akan melumat


_______

Penulis


Isbedy Stiawan ZS lahir di Tanjungkarang, Lampung, dan sampai kini masih menetap di sana. Buku puisi terbarunya, Mendaur Mimpi Puisi yang Hilang, Nuwo Badik dari Percakapan dan Perjalanan, Masuk ke Tubuh Anakanak (Pustaka Jaya), dan sedang mengantre di Penerbit Basabasi Yogyakarta buku Biografi Kota dan Kita.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com