Kamis, 14 Juli 2022

Esai Sulaiman Djaya | Bermain dengan Bahasa Puisi Hans Magnus Enzensberger

 Oleh Sulaiman Djaya



Puisi-puisi Hans Magnus Enzensberger merupakan sejumlah realitas imajinatif yang berserakan, yang sebaiknya dibaca sebagai sejumlah sketsa yang bermain-main dalam sekian peluang permainan kemungkinan itu sendiri. Sejumlah modus linguistik dan fragmen-fragmen protes dan penertawaan yang membuka peluang dirinya untuk segala isu yang ingin diparodikan dan dikomedikannya secara ironis dan satire. Dari isu yang sangat saintifik hingga yang remeh-temeh dan sehari-hari. Dari soal manusia sampai meminjam benda-benda yang dibayangkan sebagai manusia, juga sebaliknya. Segar, nakal, namun tetap dengan strategi humor yang santai, seperti puisinya yang berjudul Curiculum Vitae:



Ketika ia muncul dari kotaknya yang gelap, 

ia tak istimewa. Kulitnya mulus, 

baunya murni tanpa dosa, satu di antara berlaksa. 

Segan ia belajar berjalan, keseleo, tidak pas, 

tidak waspada. Lambat-laun ia mengalah, melunak, 

menjaga lidah. Kala malam ia termangu, 

tak tidur, namun di siang hari 

ia tergopoh-gopoh kian-kemari. Menderita, 

kotor, dan basah dalam ziarahnya 

yang panjang. Keringat, lungkrah, intimitas 

-sebuah pribadi, unik dan berhati baik. 

Hanya, keriputnya kian dalam, 

bintik-bintik bermunculan di kulitnya, 

dan tak lagi sepenuhnya kedap, 

mengendur di semua bagian. Maka berlabuhlah ia, 

di sana, tempat kita semua berlabuh, 

di sebuah kotak yang gelap. Yang tersisa cuma jiwa, 

jika sepatu memang memilikinya, 

tak kentara dan tak terpakai untuk apapun juga.



Puisi-puisinya seakan hendak menerima keberserakan dalam hidup di tengah gempuran klaim-klaim kepaduan, kebenaran, dan objektivitas, yang dalam pemahaman Soren Kierkegaard, misalnya, disebut sebagai perjumpaan dengan ironi yang memang berciri individual dan konkret karena ia lebih sebagai pertemuan yang intim seseorang dengan eksistensi. Tetapi ironi tentu juga tak semata-mata hanya dipahami secara intelektual, ia ada dan tersebar dalam hal-hal yang biasa. Dalam hal inilah Enzensberger melakukan upaya penghadap-hadapan antara narasi besar versus keremehtemehan, objektivitas versus pengalaman pribadi yang unik dan spesifik. Meskipun demikian, ikhtiar penghadap-hadapan tersebut tentu juga bukan sesuatu yang “diharuskan” karena bisa jadi anggapan kita tentang ironi itu sendiri adalah juga ironi yang lain. Dengan itu, ironi dapat dipahami sebagai sebuah sketsa yang terbuka dan tidak rampung. Marilah kita contohkan dengan puisi-puisi Enzensberger berjudul Jangan Percaya terjemahan Berthold Damshauser dan Agus R. Sarjono berikut: 



Yang satu membenci ketakjuban. 

Tapi mereka takjub, jika kita anggap 

sains mereka membosankan. 

Yang lain tak mau tahu bagaimana tepatnya 

sesuatu berlaku dan kesal, jika kita 

tak menggubris keajaiban mereka. 

Tubuh astral, teori M, karma, 

artificial intelligence: Aku tak tahu mana 

yang lebih kusuka, iming-iming kaum mistikus 

atau keajaiban-keajaiban sains. 

Dengan sabar keduanya kudengarkan, 

berjam-jam, bertahun-tahun. 



Dan puisinya yang berjudul Penonton juga terjemahan dua penerjemah yang sama seperti telah disebutkan di atas:



Dengan khidmat kita berhenti 

bagai gerombolan sapi, di sini, 

di bahu jalan. Bangkai mobil itu 

kita pelototi, dokter darurat, 

kamera-kamera kita pelototi, 

dengan abai, kita pelototi yang sekarat. 

Sementara di bebukit sana sapi-sapi, 

selemparan batu di rumput semanggi, 

tak mengacuhkan kita, memamah biak, 

tak mendongakkan kepalanya yang berat, 

memamah biak, dengan khusyuk, 

hingga kita kembali ke mobil, 

membanting pintu, dan begitu saja berlalu.



Dengan pemahaman di atas, kita akan segera dimafhumkan pula bahwa ironi, parodi, dan komedi yang lembut justru adalah ironi, parodi, dan komedi yang dibungkus sekaligus dibumbui humor satire yang acapkali terdengar ringan dan biasa. Akan tetapi, itu tidak mengurangi kekuatannya justru karena keremehtemehan dan kesederhanannya:



Kelebihan istriku kelewat banyak untuk selembar kertas A4. 

Ia adalah makhluk multisel dengan rambut gemerisik, 

yang malam hari, bila ia tidur, berbiak dengan anggun. 

Tiap helai rambutnya kugemari. Ia dikaruniai bagian-bagian empuk. 

Bila cuping hidungnya sedikit bergetar, aku tahu: 

ia sedang berpikir. Betapa sering dia berpikir, 

dan betapa tak semena-mena ia hidup! Aku tahu, ia pandai 

meleletkan lidah, pandai main kaki. Bila tertawa atau marah, 

pada mulutnya tampak kerutan baru yang kusukai. 

Ia tak seluruhnya putih, ia memiliki beberapa warna. 

Tarikan nafasnya pun banyak jumlahnya, 

belum lagi aneka jiwa di dadanya. Aku heran, 

bahwa di sini, tempat kebetulan aku berada, kerap ia ada. 


(Kelebihan Istriku, Hans Magnus Enzensberger).


Puisi tersebut pada dasarnya mendua: ia pujian sekaligus ejekan, ia ejekan sekaligus pujian. Dan kedua-duanya berjalan beriringan, saling mengisi, dan sama-sama melengkapi dan menguatkan. Berkat bantuan humor pula ironi memungkinkan tidak hanya berlaku satu arah. Seorang penyair menertawakan realitas yang dialami dan dihidupinya sekaligus menertawakan dirinya sendiri, yang dengan demikian sketsa dunia yang dibangun dan digambarnya tidak terlampau narsistik dan egoistik. Karena itu keberhasilan Enzensberger menurut saya lebih terlihat pada puisi-puisi sketsanya yang mendua dan berani menertawakan diri itu, bukan yang persentasenya terlalu penuh dengan beban untuk mengkritik yang di luarnya:



Seorang teman saya di Akademi Jerman di Berlin-Timur, 

jalan Lepizig, baru-baru ini membuka bidang serba baru 

bagi ilmu pengetahuan: Linguistik Kekeliruan. 

Ya, ini akan berarti kita bakal super sibuk.


Sebagai awam saya tak berhak menilai, tapi kesan saya, 

kekeliruan sedang beranak-pinak: Tikus-tikus putih, 

albino-albino bermata merah, yang saling berpanjatan, 

di kursi dan ranjang, dan tak henti-henti membiakkan tikus-tikus baru.


Percakapan-percakapan di loket bank, pendapat-pendapat 

mengenai Komplotan Empat, pedoman-pedoman 

bagi masa depan ummat manusia.


Kesadaran keliru, kata para filsuf, ya, kalau cuma itu masalahnya.


Mengerem atau mempercepat, celana dengan atau tanpa keliman, 

moralmu atau moralku. Yang mengira diri benar telah terhakimi.


Dengan tangan telanjang mencoba membebaskan diri 

dari gunung timbunan semakin banyak sekop yang berkarat 

-saya khawatir itu mubazir. Salah semua, mungkin sekali juga kalimat ini.


Jika sesaat menyimak kata-kata sendiri, betapa ia menggaung di kepala, 

kita ingin membekap mata, layaknya anak kecil membekap telinga 

dan tak mau mengatakan apa-apa lagi. Tapi itu bakal keliru. 


(Keliru, Hans Magnus Enzensberger).



Hal lain yang ingin dicandai Enzensberger dalam puisi-puisinya adalah dogmatisme akademik dan saintifik yang terlampau menganggap objektivitas dan kepastian sebagai doktrin yang seakan-akan tak terbantahkan. Dengan mengusulkan "Linguistik Kekeliruan", Enzensberger mengajak kita untuk memeriksa setiap pernyataan-pernyataan dan kesimpulan-kesimpulan saintifik dari sudut bahasa. Yang dengan itu juga Enzensberger tidak menutup diri untuk juga mencurigai dan menertawai kata-kata dan bahasa puisinya sendiri.


Tapi rupanya Enzensberger tidak hanya mencandai dogmatisme akademik dan saintifik, ia juga mencandai ilusi-dogmatis yang sering kali dikhotbahkan para pemuka agama, yang memang acapkali hanya menjual retorika-politis, dan Enzensberger mencampuradukkannya dengan kritiknya terhadap dogmatisme saintifik dan akademik. Dalam sajaknya yang berjudul Khotbah Minggu yang Astronomis, Enzensberger memparodikan komedi humor-satirenya terhadap sains dan agama tersebut secara bergantian dan bersamaan:



Mempercakapkan nestapa kita -Kelaparan penganiayaan 

pembunuhan etcetera -Betul! Ini rumah edan! 

Namun perkenankanlah saya menyebut dengan segala 

kerendahan hati, bahwa di atas segala-galanya 

tokh tempat kita berlabuh ini adalah sebuah planet 

yang agak memadai, persis sebuah taman mawar 

dibandingkan dengan neptunus (minus dua ratus sebelas 

derajat celcius), kecepatan angin dua ribu km/jam 

dan atmosfirnya pukimak penuh metan). Ini sekedar supaya 

kalian tahu bahwa tempat lain jauh lebih tak nyaman. Amiin!



Ideologi dan politik Enzensberger sendiri adalah penolakan terhadap segala ideologi, selalu mencurigai dan kritis terhadap kanan atau pun kiri. Tapi jika ideologi dipahami sebagai sikap dogmatis, ia juga bagi Enzensberger ada dalam sains atau pun agama, kepercayaan atau pun pemikiran. Dilihat dari erudisi dan gaya gugatannya, Enzensberger adalah seorang postmodernis. Seorang satiris dalam artian yang sebenarnya: "Here let us build tabernacles, on this Aryan dump of scrap. ... this is the frozen-up waste, this is successful madness, this dances in needy mink, on broken knees, in amnesia’s eternal springtime." (Language of the Country)


Dengan satire dan humor pula segala kebodohan, paradoks (pertentangan), dan aporia (kebuntuan) ditertawakan sekaligus dirayakan agar kita dapat terus-menerus mengintrospeksi dan mengkritik diri, menghindari dogmatisme pemikiran dan kepercayaan: "You the often maligned, who in your slyness often pretend to be stupider than you are, protector of all the frail, only to the elect do you grant the rarest of your gifts, the blessed simplicity of the simple." (Ode to Stupidity).


Puisi-puisinya Enzensberger menertawakan apa saja: agama, budaya pop, sains-politik, ilmu kimia, dan lain sebagainya, sejumlah sketsa dan fragmen yang terserak. Mulai dari sejarah sampai ajaran-ajaran teologi. Kadang bergaya atheisme Nietzschean kontemporer: "Many thanks for the four seasons, for the number e, for my dose of caffeine, and, of course, for the strawberry dish painted by Chardin." (Addressee Unknown).


Sebagian kritikus menilai sajak-sajaknya merupakan puisi jurnalisme (journalism poetry): "After the Boxer Rising the dowager empress of China is said to have driven through Peking’s streets in a yellow limousine. On spotting a foreigner she’d draw back the curtain, make a slight bow and smile at him. That doesn’t matter. Last week they took away Abdel, my friend. They kept him locked up for 10 days in a basement. Screamed at him: You are a CIA agent. Before they let him go (an error, comrade) they asked him what his wife was like in bed. That is heavy. Yarini was the most famous pimp in all Habana. He was so handsome that they shot him out in the street. That was 1906. Halley’s comet put in an appearance in 1910. It’s down to return in ‘86. That doesn’t matter. I found all this out today, the 10th of May ‘69. An informative day. And in addition the day my shoelaces gave up the ghost. That is heavy, for socialism here in Cuba cannot replace these laces until ‘85. That doesn’t matter. That is heavy. That doesn’t matter." (The Usual Thing).


Sementara itu, sebuah sketsa adalah sebentuk gambar yang tak rampung, sejumlah fragmen kemungkinan. Ia tidak menghendaki dirinya untuk utuh dan selesai. Dengan inilah saya memahami ironi dalam artian yang dipahami Kierkegaard, Nietzsche, dan Derrida. Sebuah sikap untuk memeriksa dan mencurigai klaim-klaim yang mengaku-ngaku diri telah mencapai kebenaran dalam artiannya yang esensial. Ketika pada kenyataannya kita sering kali menemukan pengecualian, kebuntuan, bahkan pertentangan yang tidak sejalan dengan klaim-klaim kebenaran tersebut. Setidak-tidaknya sikap itu juga dilakukan dan dipilih Karl Raimund Popper dalam artiannya yang epistemologis dan metodologis dalam disiplin pemikiran dan saintifiknya ketika menawarkan falsifikasi dan verifikasi.


Dengan itu pula kita dapat mengatakan bahwa Hans Magnus Enzensberger adalah seorang postmodernis Nietzschean yang memeriksa dan mencurigai marxisme atau pun kapitalisme. Sajak-sajaknya memiliki kemiripan dengan tulisan-tulisan aforistiknya Nietzsche yang tajam, nakal, menggugat, dan curiga pada klaim kepaduan dan menceraikannya kembali. Sehingga yang tersisa hanyalah kepingan-kepingan dan pecahan-pecahan yang berserakan. Dan sebuah sketsa dan gambar yang tak rampung adalah sejumlah titik, pecahan, kepingan, dan patahan-patahan garis dalam kanvas kehidupan. Segugus pengecualian yang keluar dari kategori dan narasi besar. Dan seorang satiris adalah seorang pencari yang menjadikan skeptisismenya sebagai sebuah perayaan dan petualangan jiwa dan intelektual dalam kehidupan, ia adalah si Zarathustra-nya Nietzsche, yang skeptisismenya adalah pegangan hidupnya:



Aku adalah si lain yang tak tertawa, 

yang tak punya wajah di bawah langit, 

dan tak punya kata-kata di mulut, 

yang tak mengenal dirinya, juga tak mengenalku….

Si lain yang tak peduli dengan dirinya, 

yang tak kutahu, yang tak ada yang tahu siapa dia, 

yang tak menggerakkan hatiku, itulah aku. 


(Si Lain, Hans Magnus Enzensberger).



Kita pun bisa merasakan perayaan ironi diri sekaligus ironi perayaan diri ketika membaca sajak tersebut, yang juga mengingatkan saya pada deklamasi Zarathustra-nya Nietzsche ketika turun dari lembah pertapaannya dan memproklamasikan "Kematian Tuhan" demi spirit bebas dan pencarian manusia untuk menemukan spiritualitas hidup yang segar dan mengafirmasi kehidupan itu sendiri. Sebutlah puisinya yang berjudul Rondeau, kita akan menangkap satir-sarkastis tentang kesia-siaan, pengutukan diri, dan bernada pesimistik.


Tetapi kemudian saya pun mendapatkan pemahaman lain bahwa puisinya yang berjudul Rondeau tersebut merupakan pembalikan komedis dan parodi ironis sebagai versi lain Zarathustra-nya Nietzsche yang diadaptasikan ulang oleh Enzensberger dalam konteks sosial dan politik kekinian, yang mungkin juga ingin menyuarakan wajah terselubung nihilisme zaman ini: "But you can’t build a house on a mountain. So move the mountain. It’s hard to move mountains. So become a prophet. But you can’t hear thoughts. So talk. It’s hard to talk. So become what you are and keep on muttering to yourself, useless creature."


Daya gelitik ala Gay Science-nya Nietzsche dan The Concept of Irony-nya Kierkegaard sajak-sajaknya Hans Magnus Enzensberger mungkin akan mampu membuat kita tertawa dan tersenyum sendiri ketika membacanya, seperti tercermin dalam puisinya yang berjudul Dept. of Philosophy: "Hegel is smiling, filled with schadenfreude. We daub his face with an inky moustache. He now looks like Stalin." Kenakalan yang juga mengingatkan saya pada Soren Kierkegaard ketika menertawakan dan memparodikan gagasan-gagasan besar Hegel tentang sejarah dan eksistensi. Dan gaya seperti itu juga dipraktikkan Hans Magnus Enzensberger dalam puisi-puisi cintanya, salah satunya berjudul Pillow Poem:



Given that you’re present right to your fingertips, that you’re seized with desire, and given the way you bend your knees and show me your hair, and given your temperature and your darkness; as well as your subordinate clauses, the insubstantial weight of your elbows, and also the material soul that’s gleaming in the little hollow up above your collar-bone; given that you’ve gone and come, and given all the things that I don’t know about you, my monosyllabic syllables are not enough, or too much.



Puisi-puisi Hans Magnus Enzensberger adalah tuturan yang liar, spontan, dan tangkas. Ketangkasan yang, bila meminjam pemahamannya Schlegel tentang ironi sebagai “a clear awareness of perennial agility in terms of the intellect and of infinitely of chaos –menunjukkan kepekaan seorang penyair dalam menangkap fenomena dan realitas dalam kontinuitas dan aktualitasnya. Sejenis daya-tangkap dan pencerapan yang tanggap. 



_______

Penulis


Sulaiman Djaya lahir di Serang, Banten. Menulis esai dan fiksi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, Banten News, basabasi.co, biem.co, buruan.co, Dakwah NU, Satelit News, Banten News, Tabloid Kaibon, simalaba, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi NUN Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, dan lain-lain.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com