Jumat, 12 Agustus 2022

Cerpen Suyat Aslah | Amelia

 Cerpen Suyat Aslah



Kau memakai jaket berwarna hijau lumut. Rambutmu yang bau terurai menutupi belakang leher. Duduk di belakang seorang bertopi yang sedang gelisah. Di kursi paling depan, sopir berulang kali memandangmu lewat cermin di atas kepalanya. Di lajur kanan tempat dudukmu, ada dua anak SMP yang bercakap keras-keras. Sesekali berhenti untuk sekedar memandangmu, lalu kembali asyik dengan yang mereka bahas. Seorang berambut acak berdiri di pintu belakang, menyibakkan rambutnya sambil menggaruki kepala, membiarkan angin menyapu wajahnya. Sementara kau tak peduli semua itu. Pikiranmu melayang ke pucuk bayangan. Pandanganmu lebih banyak ke dalam diri.


Rasa sakit masih terasa di pelipis dan siku kirimu. Hampir seluruh tulang yang membangun tubuhmu juga terasa linu. Kakimu berjalan cukup jauh untuk sampai di pinggir jalan besar menunggu bus yang kau tumpangi. Suara gemerincing logam beradu dengan tanah dan batu cukup mengganggu langkahmu. Sepanjang jalan, semua menatapmu aneh. 


Kau baru saja bebas dari kesepian yang membekukanmu. Gelap, penuh dengan suara-suara aneh menusuki telingamu. Teriakanmu menguap sia-sia di udara, dan tak ada yang mengizinkanmu pergi.


Sekarang kau seperti burung yang bebas terbang membelah angkasa luas. Langit yang kau pandang berbeda sekarang. Namun pikiranmu masih terlalu kacau. Bertemu dengan wajah-wajah manusia yang tak kau kenali. Bahkan sekarang, kau adalah Amelia yang tak mengenali dirimu sendiri. 


Sesekali pandanganmu terpaut pada kesibukan jalan yang kau lalui. Pohon-pohon yang seperti berlarian di samping kaca. Angin dan debu jalanan yang terburu-buru masuk lewat pintu samping mengusap wajahmu dengan kasar. 


Suara ketukan koin berbunyi di pintu belakang kaca bus. Terlihat ibu muda berdiri di pinggir jalan menggendong anak kecil. Tangannya melambai-lambai. Setelah berhenti, badan bus sedikit bergoyang saat mereka naik. Kau menoleh ke belakang, mereka naik berhati-hati, lalu duduk di pojok belakang sebelah kanan. Saat bus kembali berjalan, kau menyandarkan punggungmu dan mencoba lebih nyaman. Sementara perutmu mulai merasa sedikit mual, kepalamu juga terasa pening.


“Radio rusak! Radio rusak!” Kernet teriak, tapi kau tak terganggu sama sekali. 


Sopir melihatmu lagi dari kaca di atas kepalanya. Lalu kembali menghadap depan. Begitu juga dua anak SMP, memandangmu sebentar lalu kembali sibuk bercakap-cakap. Sementara orang yang duduk di depanmu masih tetap gelisah, atau mungkin juga tercampuri ketakutan yang membuatnya ingin beranjak. Pandangannya sejenak menghadap sisi jalan, barangkali agar bisa sedikit melihatmu samar. Hanya untuk memastikan dirinya aman berada di dekatmu. Ibu yang baru saja duduk hanya diam tak mengerti.


Bus melaju menyalip dua sepeda motor sekaligus. Matamu melihat ke pinggir jalan. Seorang laki-laki merokok sambil berjalan mendongak. Celananya robek-robek. Langkahnya seperti menendang-nendang. Namun bus lumayan cepat melaju. Pandanganmu beralih pada penjual rujak buah yang melamun sambil membenarkan topinya, seolah tak pas di kepalanya.


Rambut kepalamu terasa gatal, kau menggaruknya, lalu melihat kuku tanganmu yang lumayan panjang. Kotoran hitam masuk ke sela-sela kukumu, kemudian kau menggigitinya. Lidahmu mencecap sesuatu yang menjijikkan hingga meludahkannya pada lengan jaketmu. Kau pun tak ingat terakhir kali mandi dan keramas. Tubuhmu juga gatal. Kau tak ragu menggaruk tubuhmu. Bau tubuhmu seperti karpet basah. Tapi kau sama sekali tak peduli itu.


“Brengsek kau!” teriakmu tiba-tiba. Orang yang di depanmu, kaget bukan buatan. Dua anak SMP menahan tawa sampai wajahnya merah. Sopir bus tak peduli. Ibu yang baru saja naik bingung sendiri. Sementara Kernet teriak lagi, “Radio rusak! Radio rusak!”


Seorang bertopi di depanmu mulai berkeringat. Gelisah masih mengerubungi. Keringat yang ada di keningnya diusap ke samping wajahnya. Dia takut berada di dekatmu. Dia juga ragu untuk beranjak.

 

“Awas kau! Heh!” kau berteriak lagi. Laki-laki bertopi itu makin tak merasa aman. Hidungnya mengembang, namun masih mencoba tetap duduk bertahan. 


Ibu yang di pojokan masih bertanya-tanya. Anak kecil yang bersamanya masih seimut balita. Berteriak menirukanmu tiba-tiba, “Ei!” ibunya sigap menutup mulutnya. Takut kalau kau bakal bereaksi berlebihan. Kau menoleh ke belakang, memandang ibu itu yang memandangmu dengan rasa takut. Tapi bocah itu ingin berteriak lagi. Sang ibu berusaha membungkam mulutnya.


Lalu terdengar suara tepukan laki-laki bertopi di depanmu. Seperti sudah jadi bahasa, bus menepi perlahan lalu berhenti. Sebelum turun laki-laki itu melihatmu. Lalu kau membentaknya. Dia geleng-geleng kepala, sambil berdecak heran. 


Kau tak tahu tujuanmu. Sebagian ingatanmu masih menempel di kepala, masa lalumu ada yang tertinggal di jalanan. Seorang pemuda seumuran denganmu meninggalkanmu di sebuah sudut gang sempit. Sebelum pergi, dia menamparmu sampai kau berpaling sakit dan kecewa bercampur. Lalu kau berjalan sendirian sepanjang gang sempit itu. Seorang pemulung menanyaimu. Tapi kau tak menjawabnya, hanya menangis. Tiap orang yang berpapasan denganmu menatapmu dengan tanda tanya. Kau tak peduli itu. Sampai habisnya gang itu, kau menyeberang jalan tanpa melihat kanan-kiri. Kau tak peduli suara klakson meneriakimu. Tetap berjalan sampai sebuah motor menyerempetmu. Lalu kau lupa waktu, terbangun dalam kamarmu sendiri dengan sebuah perban di siku tanganmu dan sebuah luka di pelipis kirimu. Sementara kau tak mengingat sepenuhnya apa yang terjadi. 


Bunyi klakson bus yang kau tumpangi membangunkanmu dari bayangan samar masa lalu. Lalu dua anak SMP itu tepuk tangan dua kali, hampir bersamaan. Sopir kembali menepikan bus “Gandeng! Gandeng!” teriak Kernet. Sopir memandangi kaca spion sebelah kiri. Memastikan semua sudah turun, lalu melaju lagi setelah Kernet memberi aba-aba. 


Angin menyapu kasar rambutmu. Kau juga makin merasa mual karena masuk angin. Matamu memandang ke arah utara. Gunung Slamet terlihat perkasa meski dari jarak yang begitu jauh. Puncaknya berada di awan. 


Sebelum sampai di perempatan lampu merah Cantelan. Seorang laki-laki paruh baya berdiri di pinggir jalan. Kali ini Kernet bersiul keras. Bus melambat dengan sendirinya. Tapi laki-laki itu cuma hendak menyeberang saja. Bus kembali jalan, cukup pelan karena jalan berkelok. Lampu merah menyala, bus berhenti di belakang dua sepeda motor. Kau menengok ke belakang, ibu dan anak itu masih duduk di pojokan, lalu kau kembali menghadap depan.


“Wedus!” teriakmu. Sopir tersenyum kecil dan geleng-geleng kepala. 


Kau telah terlibat pergulatan batin terlalu dalam. Sesuatu telah menyesatkan sudut pandangmu pada seseorang. Selalu yang terjadi adalah pembenaran dari sebuah kesalahan. Orang yang selalu dianggap benar olehmu kini benar-benar meninggalkanmu. Sejak saat itu kepalamu dipenuhi hal yang menyibukkan pikiranmu hingga kacau. Berteriak dan menangis tak jelas. Bahkan kau pernah memukul orang yang lewat dengan kayu bakar. Sebelum akhirnya kau dibelenggu. Tapi kau sudah terlalu jauh dari rumah sekarang. Melarikan diri dari sepi yang membekukanmu.


Klakson bersahutan setelah lampu menyala hijau. Bus melewati SPBU Cantelan. Setelah berjalan lagi beberapa kilometer dan beberapa belokan jalan, bus memasuki batas kota. Kemudian belok kiri melewati jalan dekat laut, kau melihat bangunan besar sebelum belok lagi ke kanan, sebuah PLTU.


Tiba-tiba kau menangisi sesuatu. Tubuhmu berguncang karena sesenggukan. Matamu memandang laut biru, kapal Tanker besar mengapung di laut. Kau juga melihat perahu nelayan berjajar di pantai. Sementara hidungmu mencium bau menyengat ikan asin yang di jemur. Kau juga mencium bau sampah di pinggir jalan yang dilewati.


Kau berteriak keras sambil memukuli kursi di depanmu. Tak ada yang mau berinteraksi denganmu. Kernet yang berdiri di pintu, kini duduk di pojok sebelah pintu. Bus melaju melewati Jalan Lingkar Timur. Lalu melewati Jalan Setiabudi, belok lagi ke Jalan Dokter Rajiman. Hingga berhenti di perempatan sebuah lampu merah, lalu belok kanan. Di sini suasana lumayan ramai. Ruko-ruko berjejer, di depan ruko ada yang mengontrak lapak, jualan menggunakan gerobak atau hanya menggelarnya di sebuah meja. Begitulah suasana pasar di dekat terminal kota Cilacap. Bus melaju pelan, lalu terlihat bangunan terminal yang didominasi warna biru. Lewat pintu masuk terminal, bus berhenti sebentar menurunkan penumpang. Ada beberapa tukang becak yang sudah menunggu untuk menawarkan tumpangan. Saat kau turun, langkah kakimu sedikit terganggu. Sebuah rantai masih memborgol kakimu.


______

Penulis


Suyat Aslah, penulis kelahiran Cilacap 1995. Bukunya yang sudah terbit berjudul “Puspa” (Antologi Cerpen, 2016) dan “Sehelai Jiwa Sepi” (Novel, 2018). Beberapa karyanya juga dipublikasikan dalam blog pribadinya: suyataslah.blogspot.com.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com