Jumat, 19 Agustus 2022

Puisi-Puisi Arham Wiratama

Puisi Arham Wiratama




Bayangan


Pada perahu kehidupan

maut mau menjemputku

di tengah lautan derita 

Kala nyawa ini terambil

mulutku menyembur tawa

sebab terang senyum Izrail

Mengingatkanku akan surya

di mana aku letakkan kegelisahan

agar terbakar oleh terik panasnya

Namun tiap dia terbit di langit

bayangan gelapmu bangkit dan

menerkam segalanya menjadi hitam


Jombang, 7 November 2020



Mendatangi Kepergianmu


Ini malam bintang sembunyi

di balik mendung dalam kepala

udara hampa mencekam dingin

merontokkan hangat segala nadi

Bila betul esok tahun dia pergi

menarik tali kekang angin

dan mencambuk petir takdir

agar sampai di kediaman akhir

Mungkin kelangsungan napas ini

akan aku istirahatkan di kuil tua

di ujung gunung purba kala gerimis

turun lewat kedua mata


9 November 2021



Pagi Terbit Menelan Bayang-bayang


Kau bersarang di imaji

mengicaukan seutas janji

yang pernah kita rangkai

sebelum cinta jadi tercerai

Jalan menujumu terhalang kabut

tersesat aku di dekat sungai maut

sebelum napas penghabisan terlepas

kuharap perjumpaan tiba dengan lekas

Atau biar nyala lilin dalam diri

termakamkan di langit tinggi

dan saat kau lihat di angkasa malam

bintang jiwaku menghapus rinai kelam

Di deras sepi pada dadamu

karena nanti bila kita bertemu

akan aku terbitkan matahari

untuk mengusir bayang nyeri di hati


Jombang, 16 November 2020



Di Stasiun


Separuh bulan terlingkup gelap

sisanya dengan sia-sia memendar

dari ujung pancar mata pacarku

Di peron terlihat para laron

kehilangan keempat sayapnya

saat kami akhirnya berjumpa lagi

Setelah kereta menggeram pergi

senyuman di mulutku perlahan tertelan

oleh petir pada wajahnya yang getir

Dan bak peluru tertembak dari revolver

pernyataan itu melesat cepat ke kepala

memusnahkan tanggal kami menikah


Jombang, 7 November 2020



Kencan Buta


Dipayungi lampu taman

kau berdiri tanpa berkata

di tanganmu kembang layu

hampir gugur di gurat malam

Pandanganmu lama terpejam

seakan kau sedang menghitung

sekeping-dua kemungkinan

akan ketibaanku di kencan buta

Jari telunjuk dan jempol

di atas lidah terbalik

menciptakan bunyi peluit

dalam mulutku yang sempit

Mendengar itu kau linglung

menoleh ke berbagai arah

tanpa mendapati lambai tanganku

yang tepat berada di depanmu

Jam dinding keras berdentang

memaksamu untuk pulang

dipandu dengan tongkat cokelat

berukiran kepala naga di atasnya


Jombang, 7 November 2020


_______

Penulis 


Arham Wiratama, lahir di Jombang, 1 Agustus 1997. Berkat bipolarnya, dia menghasilkan dua buku puisi berjudul Deru Desir Semilir (Intelegensia Media, 2016) dan Segara Duka (J-Maestro, 2018). Belajar biola di Spirit of Musik Jombang. Karya-karyanya pernah dimuat di Radar Selatan, Radar Jombang, nalarpolitik.com, rubrik.indhependent.com, kuluwung.com, floressastra.com, travesia.co.id, literasikalbar.com, diksijombang.myblog.id, becik.id, marewai.com, majalah Elipsis, dan lain-lain tempat. Puisinya yang berjudul “Menembaga” mendapat juara satu di perlombaan pada event Indonesia berpuisi #2 tingkat nasional yang diadakan oleh Poetry Publiser.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com