Friday, August 19, 2022

Cerpen Lilin Mey | Layung Gendis

Cerpen Lilin Mey 



Lelaki itu selalu duduk dan menunduk, wajahnya terlihat muram ketika hari mulai mendekati senja. Lincak di depan rumah menjadi saksi betapa hari-harinya semakin sunyi. Sesekali pandangannya menerawang jauh ke depan. Lalu ia tertawa, seakan ada yang menggelitik perasaannya. 


***


Rumah Rojiin berada di ujung gang. Yang pintunya menghadap lurus ke hamparan luas tanah lapang. Kalau aku Rojiin, pasti tidak akan kuat setiap hari harus bangun sebelum subuh, menjerang air untuk memandikan istrinya yang telah berubah seperti bayi. Tidak bisa apa-apa, bicara, dan bisanya hanya menangis jika menginginkan sesuatu. 


Sedangkan anak-anak Rojiin tidak jauh lebih besar dari bayi. Iqbal anak pertama lelaki yang setiap hari kerjanya hanya bermain-main dengan burung, memberi makan, memandikan, dan lebih sering berbicara dengan piaraan daripada dengan bapak sendiri. Begitu juga dengan Amat si bungsu yang kebagian menerbangkan burung-burung jika tiba waktu perlombaan. Mereka berdua begitu mencintai burung-burungnya meski sekalipun tidak pernah memenangkan perlombaan.


Sementara Gadis anak perempuan satu-satunya, kebangaan Rojiin, secara tiba-tiba mendapat sebutan "Gadis yang tak gadis lagi" dari tetangga sekitar mereka. Entah bagaimana bisa, Rojiin sedikit pun tidak kuasa menolak atau marah atas sebutan itu. Sementara yang dia tahu perawan kecilnya hanya suka berpakaian mini dengan sedikit terbuka tatkala bepergian dengan teman-teman lelakinya. 


Pernah sekali Rojiin melarang Gadis pergi dengan seorang lelaki lewat pukul sembilan malam. Yang dipikirkan Rojiin di jam seperti itu tentu pasar dan kampus sudah tutup, mau pergi ke mana putrinya itu?


Alih-alih Gadis menurut, anaknya itu justru pergi dengan membanting pintu dan mengumpat serapah kepada lelaki yang sebagian rambut telah memutih dengan guratan lelah memenuhi wajah.


"Rumah sudah seperti neraka banyak aturan. Mending surga banyak aturan tapi menyenangkan, lah ini apa?" 


"Gadis …." 


Rojiin hanya menatap punggung putrinya yang tampak terbuka, dengan rambut dikuncir tinggi semakin memperlihatkan kulitnya yang putih.


Sementara teman lelakinya masih saja menunggu di atas motor yang menyala. Lelaki itu sengaja menekan bel berulang kali agar Gadis lebih mendengar suara motornya daripada suara Rojiin.


***


Rojiin bukan penduduk asli kota ini, dan ia tak pernah memberitahukan siapa pun dari mana asalnya. Yang orang tahu ia adalah penduduk dari jauh yang hanya mengenyam pendidikan dasar. Pergi ke kota besar dan berada di tengah-tengah penduduk perkotaan yang lebih menyukai berdiam diri daripada sekadar duduk santai sambil menikmati secangkir kopi. Mengikuti istri tersayang adalah satu-satunya alasan yang mereka ketahui hingga saat ini. 


Anak lelaki pertama yang diharapkan mampu mengganti tulang punggungnya yang sudah bengkok, ternyata lebih banyak diam. Pun begitu yang kedua. Anak-anak yang tampak sehat dan bugar ternyata lebih takut sakit dan tidak bisa hidup bertahun-tahun lagi. Selama ini anak-anaknya itu dirasakan Rojiin tidak pernah menjadi besar dan tumbuh. Namun begitu Rojiin sangat mencintai keluarganya itu.


***


"Aku nggak mau tanah ini dijual, Pak."


"Eh, kamu nggak usah sedih begitu. Sebentar lagi kamu bisa masuk SMA, Nduk."


"Memangnya kalau lulus SMA buat apa to? Paling juga rabi," jawab Gadis.


"Bapak janji setelah kamu lulus, Bapak akan membeli tanah itu kembali."


"Beneran Pak, Gadis ingin buat sanggar tari," seru putri semata wayangnya.


"Akan Gadis beri nama 'Layung Gendis', keren kan, Pak?"


"Yo, yo, yo." 


Rojiin menganggukkan kepala seraya mengelus rambut Gadis lembut. 


***


Kini setelah tiga tahun berlalu rambut itu kusut, lelaki di sampingnya terdiam dan tertunduk di meja dapur. Suasana sontak senyap. 


"Dulu, Bapak janji apa padaku setelah aku lulus sekolah?"


"Maafkan Bapak ya, Nduk. Tapi Bapak janji akan berusaha membeli tanah itu kembali. Bapak janji," rayu Rojiin. 


"Rasanya aku tidak akan bisa menunggu lagi, Pak."


"Ayolah, Nduk. Percaya sama Bapak."


"Rasanya, dengan perut buncit dan digelendotin anak-anak tak akan mungkin bisa membuatku punya waktu untuk mengajar di sanggar tari nantinya."


"Maksudmu piye, nggak punya waktu menunggu? Digelendotin anak-anak?" Rojiin mencerca Gadis dengan pertanyaan atas ketidakpahaman dari pembicaraan putrinya.


Gadis memalingkan wajah, lalu memandang langit-langit rumah. Membayangkan di tanah lapang depan rumah mereka, akan dibangun sanggar tari di mana ia akan mengajar anak-anak kecil menari. Sebelum semua impiannya itu terkubur.


"Gadis, tolong jelasin … Bapak nggak ngerti."


Sungguh rayuan Rojiin tak menghasilkan apa-apa. 


Namun melupakan dosa sendiri tentulah tidak mudah. Bertahun-tahun ikut membangun impian anak perempuannya, kini semua tiba-tiba hilang semenjak tersiar kabar bahwa si pemilik tanah yang baru, yang masih saudara dari istrinya telah menjual tanah itu ke orang lain. Dan sebentar lagi akan dibangun rumah untuk hadiah pernikahan putri mereka.


***


Tiba-tiba Rojiin tersentak. Ia sudah berada di ruang tanpa batas yang luas dan gelap gulita. Di kanan kirinya hanya kegelapan. Tak ada manusia, pepohonan, atau satu pun binatang. Ia seperti sedang di alam asing dan kesendirian adalah satu-satunya teman yang menemani. 


Sejenak Rojiin memandang ke segala arah. Masih saja sendiri. Ia seolah-olah sedang berada di ruang hampa. Hanya kesepian yang menemani setiap langkah. Sesekali ketakutan mulai menggelayuti jiwanya. 


"Gadis …," teriak Rojiin memanggil anak perempuannya. 


"Siti, Iqbal, Amat …." 


Tak ada yang menyahut. Sepi. 


Bahkan suara binatang kegelapan seakan lenyap, keadaan itu membuat Rojiin benar-benar ketakutan. Apakah yang terjadi padanya kini. Apakah seluruh keluarga telah meninggalkannya? Atau justru dia yang telah meninggalkan keluarganya? Inikah kematian itu? Pikiran-pikiran itu menemani langkahnya. 


"Gadis …!" teriak Rojiin ketika di kejauhan dilihat anak perempuannya sedang berdiri di bibir sumur. Melihat ke kedalaman sumur dan dalam hitungan detik sudah berada di dasar sumur yang dalam. 


Rojiin berlari sekencang-kencangnya menghampiri sumur di tengah kegelapan itu. Namun, ia harus kecewa karena hanya kegelapan yang dijumpai. Tak ada tubuh Gadis di dalam sumur. Tak juga di sekitar sumur. Gadis seperti lenyap begitu saja. 


Dengan rasa bingung dengan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalanya, Rojiin kembali berteriak memanggil semua anggota keluarga. Rojiin terus berlari ke segala arah, mencari siapa saja yang bisa menjawab pertanyaannya. Dia terus saja berlari semakin berlari, semakin ia tak bisa bersuara. Hanya suara napasnya yang terdengar berat.


Saat tenaga nyari habis, Rojiin terduduk dan bersimpuh di tanah dengan kabut di sekelilingnya. Bibir tak lagi mampu berteriak atau sekadar merapal doa-doa yang biasa dipanjatkan ketika sembahyang lima waktu. 


Untuk beberapa waktu Rojiin hanya bisa tertunduk dan memejamkan mata, sama sekali tak mampu bersuara. Sampai suara langkah mengendap-endap membangunkan kesadarannya. Ketakutan dan kesunyian yang beberapa waktu lalu mengelilingi lenyap begitu saja. 


Oh!


Rojiin terbangun. Peluh membasahi nyaris sekujur badan, napas masih terengah-engah dan lebih membuatnya sesak ketika melihat jam dinding di ruangan itu menunjukkan pukul 01.00 WIB. Dan Gadis belum pulang atau malah sudah, saat ia tertidur barusan. 


Krieeetttt.


Suara pintu dibuka perlahan. Pintu itu sengaja tidak ditutup, semenjak Gadis sering pulang larut malam, dan karena kasih sayang yang begitu dalam, Rojiin tak ingin melihat anak gadisnya kedinginan di luar rumah. Gadis tentu tidak berani membangunkan dirinya.


"Gadis …."


"Hmm." 


"Opo ada pasar malam yang bubarnya semalam ini to, Nduk."


"Percuma aku jelasin sama Bapak yang nggak pintar. Nggak bakalan ngerti," jawab Gadis dengan terus ngeloyor ke kamar. 


"Isya-an dulu, Dis, baru tidur." 


Tak ada sahutan terdengar dari dalam kamar Gadis. 


"Mungkin Gadis kecapekan," pikir Rojiin.


Seperti kata orang, kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Mungkin itu berlaku bagi seorang anak yang masih memiliki ibu. Namun bagi Rojiin keadaan sang istri yang tidak sempurna lagi membuatnya berperan ganda. Mencari nafkah sekaligus merangkap pekerjaan sang istri. Rojiin tak ingin ketiga putra-putrinya merasakan kehilangan sosok kasih sayang seorang ibu.


Semenjak beberapa tahun silam nyaris semua tugas istrinya, Rojiin-lah yang melakukan. Memasak, mencuci, bahkan memandikannya. Penyakit stroke di usia muda membuat Siti tak lagi bisa beraktivitas, jangankan untuk merawat anak-anak untuk membantu diri sendiri saja ia tidak mampu. Namun begitu, tak sedikit pun rasa cinta lelaki itu berkurang kepada istri dan anak-anaknya.


Tak sekalipun terdengar keluhan Rojiin atas ketidakseimbangan kehidupan mereka. Bahkan saat kehilangan satu persatu harta yang dimiliki untuk biaya berobat istri serta Pendidikan anak-anaknya. 


Jika ada yang bertanya siapakah lelaki di dunia ini yang paling sabar setelah Nabi Ayyub As. mungkin Rojiin lah orangnya.


Selalu yang dipikirkannya adalah kebahagiaan istri dan anak-anak. Tak sedikit tawaran dari para orang tua yang memiliki anak gadis atau anak perempuan yang ditinggalkan suaminya untuk menjadi istri Rojiin, tetapi selalu ditolaknya halus. Cinta yang luar biasa kepada keluarga melebihi cinta untuk dirinya sendiri.


***


Hingga malam ini.


Rojiin berjalan gontai dari dapur menuju ke sumber suara. Suara rerumputan seperti terinjak orang, tetapi tidak sedang berjalan, hanya di satu tempat. Pintu rumah perlahan dibuka berkesan sangat berhati-hati. Matanya sembab dan tampak lelah. Rasa kantuk langsung hilang tatkala menyaksikan apa yang dilihatnya di balik kegelapan.


Di tanah lapang depan rumah, Gadis sedang menari dengan gemulai. Namun tidak sendiri. Sepasang kekasih melakukan tarian yang begitu indah. Diterangi rembulan malu-malu mengintip.


Secepat kilat ditariknya parang yang biasa disembunyikan di balik pintu, lalu ia segera berlari ke tengah lapang.


Criaaaatttt.


Kaos putih yang dikenakannya berubah merah. Darah membasahi wajah. Namun wajah itu tampak tersenyum tidak sama sekali menampilkan apa yang telah dilakukannya. Wajah yang mengesankan cinta luar biasa pada sang putri, Gadis. Sementara dua tubuh telanjang dihadapannya semakin membiru. Di tanah sanggar layung Gendis akan di bangunnya.


Surabaya, 28 Oktober 2021


Ket:

Lincak: Bambu panjang yang terbuat dari bambu


______

Penulis

Lilin adalah nama pena dari ibu rumah tangga 37 tahun kelahiran Kota Surabaya ini pengagum sunyi dan sendiri.

Jejaknya bisa dilacak di akun instagram @lilinmey


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com