Jumat, 05 Agustus 2022

Puisi-Puisi Imam Budiman

Puisi Imam Budiman




Seandainya Keledai dan Telur


/I/

bila aku keledai; tiada nama terlahir

dari jadwal absensi, setidaknya ilah

menumbuhkan ranum di kantung 

susu dan kemihku.


tubuh tiada tumbuh, peluh tiada patuh.

cinta sudah diatur dengan terstruktur 

cermat dan teliti dalam daftar 

belajar rutin bulanan.


/II/

bila aku telur; bersusun purna di antara

keasingan rak dan keisenganku yang

tiba-tiba membuat kegaduhan kecil

di antrean meja kasir. 


: aku tak pernah memesan sejumlah usia,

tetapi aku mesti membayar harga serta

pajak sepuluh persen dalam struknya.


aku membeli diriku

untuk kupeluk sendiri.


Ciputat, 2022



Sebuah Drama Asing


seorang yang malang, pepori kulitnya ditumbuhi ilalang—ia tidak pernah yakin apakah cinta bertahan menjadi entri di dalam kamusnya. keluar—dikeluarkan. kesedihan, puan, masih seperti yang lalu, selalu pandai menisbatkan dirinya sendiri kepada apa—siapa saja. separuh cerita disimpan. rapat—tanpa sirat. tetapi, setiap lakon mesti tetap diperankan. seumpama duka pandemi; apakah nyata adanya atau sekadar drama tanpa titik tanpa tepi.


Ciputat, 2022


_______

Penulis

Imam Budiman, kelahiran Samarinda, Kalimantan Timur. Semasa kuliah, Ia bergiat aktif di Komunitas Sastra Rusabesi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kini Ia mengabdikan diri sebagai Pengajar di Pesantren Hadis Darus-Sunnah dan SMA Adzkia Daarut Tauhiid Jakarta. Buku kumpulan puisinya: Kampung Halaman (2016) dan Pelajaran Sederhana Mencintai Buku Fiksi (2021).