Jumat, 05 Agustus 2022

Cerpen Rumadi | Lelaki Bercahaya di Kandang Domba

 Cerpen Rumadi



Betapa para perempuan menginginkan bercinta dengan Sam. Lelaki yang kini tumbuh makin tampan dan tegap kalau berjalan. Kau tak akan percaya atas apa yang akan kuceritakan ini. Aku melihat sendiri bagaimana para perempuan tergila-gila dengan Sam.

 

Ia berjalan menyusuri jalanan ketika matahari agak meninggi. Sekitar pukul tujuh pagi. Saat ibu-ibu kompleks perumahan sedang belanja sayur, saat para pembantu sedang membersihkan halaman rumah, atau para perempuan eksekutif muda sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca koran. Saat Sam lewat, detik serasa berhenti. Mata mereka terpaku pada satu orang. Sam. Betapa para lelaki cemburu, setiap kali istri-istri mereka melihat Sam dengan liur menetes dan mengigit gigir bagian bawah seolah menahan desah. Entah kenapa para lelaki tolol itu tak berani bertindak macam-macam, atau setidaknya menegur istri mereka. Jika mereka yang melakukan hal yang demikian, mereka akan disiksa sepanjang hari. Sekali saja ketahuan melirik seorang gadis lewat, tak ada makanan di hari itu, ditambah, tidak ada jatah pergumulan di atas ranjang. Yang lebih parah, para lelaki disuruh untuk tidur di luar rumah, dengan tikar plastik ala kadarnya, membuat kulit para lelaki itu berbintik-bintik merah pada pagi harinya dikarenakan digigit nyamuk semalaman. Nyamuk di kompleks itu lebih ganas dan mengerikan meskipun mereka telah membeli obat nyamuk atau obat semprot pembasmi nyamuk yang paling mahal sekalipun. 


Jika Sam melewati ujung kompleks dan sudah dekat ke arah jalan raya, kau akan melihat rumah pelacuran di seberang jalan. Setiap kali Sam lewat, seolah para pelacur itu langsung memamerkan tubuhnya. Mereka akan menaikkan roknya sedikit, dan mereka mengigit lidah dengan lirikan yang teramat menggoda. Hal semacam itu membuat para tukang ojek datang ke sana sambil bertanya.


"Gratis, Neng?" tanya tukang ojek sambil berkekeh kemudian berlalu. 


"Gratis Mbahmu!" jawab mereka ketus.


Tukang ojek itu akan dilempar sandal, diolok beramai-ramai, atau akan disiksa sedemikian rupa. Memohon ampun agar para perempuan itu tidak mempermalukannya di pinggir jalan. Setelahnya tukang ojek itu sudah tak berani lagi untuk menggoda pelacur itu.


Aroma tubuh Sam sangat mudah dikenali. Ia beraroma wewangian yang tidak dikenal oleh hidung manusia mana pun. Aroma semacam itu hanya berasal dari tubuhnya. Orang-orang menduga Sam bukan manusia. Ia malaikat. Bagaimana mungkin seorang manusia beraroma sedemikian harum? Dan tubuhnya akan berkilat, bercahaya, jika diterpa sinar matahari. Beberapa orang pernah menjadi saksi, betapa bercahaya, seperti berlian dan mutiara yang teramat kecil ketika sinar matahari menerpa kulitnya. Namun, Sam lebih sering memakai baju lengan panjang, atau ditutupi dengan jaket. Seolah Sam tidak pernah ingin orang-orang tahu, tubuhnya demikian bersinar dan bercahaya. 


Ia akan menunggu bus kota. Dan pelacur itu terus menggodanya, bahkan sesekali ada satu atau dua orang yang mendekat dan berusaha untuk menyentuhnya dengan suara manja. Suara mereka diperdengarkan di telinga Sam dengan desahan yang membuat laki-laki biasaa akan mendesah dan menggelinjang. Namun, Sam tidak. Ia masih kukuh dengan penolakan sejak tiba di sini. Ia hanya ingin menikmati perjalanan. Tidak seorang pun mengganggu dan menggodanya. 


Para perempuan tahu belaka bahwa Sam adalah lelaki yang benar-benar seorang perjaka yang tidak pernah disentuh perempuan. Setiap perempuan yang telah menikah atau setidaknya memiliki kekasih akan meminta suami atau kekasih mereka diam. Perempuan itu akan memanggil nama Sam lirih dengan desah yang menggairahkan. Laki-laki itu tak berdaya karena hampir semua perempuan di kota itu atau bahkan negeri itu, yang telah melihat Sam, pasti akan mengkhayalkan Sam dalam setiap percintaannya. 


Tidak ada laki-laki yang masih perjaka ting-ting. Betapa para perempuan di kota itu, sering kali menyembunyikan persetubuhan gila yang tidak pernah dilakukan di negeri mana pun. Saudara kembar pernah ditemukan tewas sambil berpelukan, dengan keduanya masih telanjang, dan kemaluan mereka masih menyatu. Tak ada napas. Orang-orang yang tahu memilih bungkam daripada harus dicecar pertanyaan-pertanyaan tolol dari kasus yang sebenarnya bukan dari dia.


Seorang perempuan menyetubuhi keponakannya, seorang ibu menggauli anak laki-lakinya, tentu jika para perempuan itu bosan dengan suami mereka sendiri. 


Begitulah, hubungan-hubungan terlarang, bebas terjadi ke kota itu, asalkan tidak ada yang buka mulut. Polisi meski tahu, asalkan tidak sampai kepada pemuka agama. Persetubuhan semacam itu dibiarkan saja. Bahkan tak jarang polisi itu sering kali diberi jatah untuk meniduri perempuan mana pun yang ia suka asalkan kasus yang demikian itu tidak ada yang tahu. 


Para pelacur sering menggoda para pelajar yang pulang sekolah. Awalnya hanya satu remaja yang mau. Ia pun menceritakan pengalaman pertamanya menggagahi perempuan kepada teman-temannya. Teman-temannya yang mendengar cerita yang demikian itu bahwa ada kenikmatan pada liang senggama perempuan, mereka langsung datang ke pelacuran beramai-ramai. Tak jarang, karena terlalu banyak jumlah para pelajar, satu perempuan bisa digauli oleh empat sampai lima orang pelajar laki-laki yang memilih bolos sekolah demi mencikmati pengalaman mereka meniduri perempuan. Begitulah cerita itu beredar dari mulut ke mulut yang akhirnya hampir semua pelajar di kota itu datang ke pelacuran dan tak perjaka lagi. Nahasnya, mereka mencoba untuk mempraktikkan hal tersebut kepada pacar-pacar mereka. Akhirnya, mereka bercinta tanpa pernikahan yang sah. Perempuan-perempuan di kota itu pun menyukai pengalaman barunya, dan ketika sudah bosan, mereka mencari pelampiasan dengan mencari teman sekelas atau teman sekolah yang lain untuk memuaskan hasrat berahinya yang menggebu-gebu. 


Demikianlah, akhirnya tak ada lelaki yang tak perjaka di kota itu. Hingga Sam terlahir di kendang domba di pinggiran kota. Seorang penggembala menemukannya ketika hendak memberi makan domba-domba yang dipelihara di kandangnya. 


Dan ia dicintai setiap orang yang memandangnya. Namun, bagi perempuan, entah bagaimana, mereka akan tetap berahi terhadapnya, meski ia masih mewujud sebagai bayi. 


Penggembala itu menamai si bocah yang bercahaya ketika ditemukan itu dengan nama Sam. Sejak kecil, sejak masih bayi, sejak ditemukan oleh penggembala itu, kulitnya tidak pernah bersentuhan dengan perempuan. Setiap perempuan yang berusaha untuk sekadar menggendongnya, dalam hatinya pasti terbersit untuk menyetubuhi Sam jika kelak sudah dewasa. Namun, mereka akan terbakar. Semakin dekat tangan mereka dengan kulit Sam, semakin panas hawa yang memancar dari tubuhnya. Seperti disiram api dari neraka. 


Akibatnya, Sam hanya tumbuh dari pelukan para lelaki. Setelah merasa cukup dewasa, ia berpamitan kepada penggembala itu yang hidup sebatang kara, dan menganggapnya sebagai seorang guru, kemudian ia pergi. Ingin mengadu nasib, mencari pekerjaan sendiri, mencari pemasukan sendiri. 


Akhirnya, ia mendapatkan pekerjaan di tengah kota. Menjadi penjaja produk kecantikan yang ditawarkan dari rumah ke rumah. 


Setiap perempuan yang ditawarinya pasti akan memberi entah satu atau dua produk yang ditawarkannya. Mereka tergiur dengan sosok Sam yang demikian menggairahkan. Betapa Sam selalu menolak,meski ditawari dengan harta yang paling mahal sekali pun. Setiap kali mereka memaksa mendekat, ingin meraba tangan Sam, mencoba untuk mencium pipi, bibir, juga pagutan-pagutan mesra yang tidak mereka dapatkan dari suami atau kekasih mereka. Nyatanya, tubuh Sam tidak pernah mereka dapatkan. 


Sering kali para perempuan itu, jika tidak mendapatkan kepuasan dari suaminya, mereka menculik anak-anak pelajar yang pulang sekolah demi memuaskan hasrat mereka. Tentu pelajar-pelajar itu senang mendapatkan kenikmatan semacam itu tanpa harus membayar. Saat perempuan-perempuan itu masih belum puas juga, mereka akan pergi ke kamar mandi dengan tangan mereka sendiri. Menyusup dan membelai kulit mereka sendiri. Mereka akan mengerang, merintih, sekaligus menangis, sambil membayangkan Sam.


Setiap perempuan akan betah berlama-lama di samping Sam. Seolah mereka ingin selalu mencium keharuman, yang berasal dari tubuh Sam. Begitulah, Sam hidup ala kadarnya meski para perempuan sering membeli lebih karena ketololannya yang tergila-gila kepada Sam. Namun, Sam tidak pernah berniat untuk memperkaya diri. Ia masih tinggal di rumah di kontrakan tiga petak yang airnya sering mati. 


Perempuan yang dibakar berahi kecewa hingga pada suatu pagi. Sam berpamitan hanya lewat secarik surat yang dipasang di depan pintu. Betapa kabar menyengsarakan itu membuat seluruh kota bersedih. Hingga akhirnya kesedihan yang demikian menggema selama berhari-hari, bahkan wali kota sempat berfoto bersama. 


Sam berpamitan dengan hanya tiga kalimat pasti: "Aku pergi. Tak usah lagi mencariku. Terima kasih atas cinta kalian selama ini."


Hingga bertahun-tahun lamanya, kegilaan perempuan-perempuan yang berahi itu juga tak kunjung musnah. Mereka masih mencuri pelajar atau bahkan menculik pelajar yang tak sengaja lewat di depan rumah.


Sam bukan penduduk asli kota itu. sejak kepergiannya, betapa mereka menginginkan sosok Sam yang pendiam, tetapi menyimpan berahi. 


Dan di kota lain, Sam yang sudah bosan di kota lamanya, mungkin tidak akan pernah kembali lagi. Namun, di kota yang baru, sejak awal kedatangannya, perempuan-perempuan yang mencium aroma tubuhnya berkerumun. Sam hanya bisa mendesah, memberikan pengertian bahwa mereka hanya akan bisa menemuinya di jam-jam kerja. Selebihnya Sam akan beristirahat. 


Sebagaimana kota pertama tempat ia dilahirkan, kota yang menjadi tempatnya berdiam pun sama. Bahkan keadaannya lebih parah, jijik dan mengerikan. Mereka bercinta di tengah jalan, di tol, di kursi, di kafe, di pom bensin. Tidak ada persetubuhan yang mereka sembunyikan. Mereka bercinta di tempat yang banyak sekali menantunya. 


Tidak ada perempuan yang bisa menyentuhnya. Hawa panas menyeruak ketika seorang perempuan datang mengendap dengan wajah tertutup. Ia menyekap Sam dan tiba-tiba ia diserang rasa panas yang luar biasa. Akibatnya seluruh orang pun tahu, Sam tidak bisa disentuh. 


Keesokan harinya, Sam ditangkap atas tuduhan melakukan kerusuhan di kota itu. Sam dituduh telah mengajarkan ajaran seronok yang membuat para lelaki dan perempuan yang tergila-gila kepada Sam bercinta di tempat umum. Walikota tidak ingin kekonyolan di kotanya menyebar ke kota lain yang sering membuat padang hukum. Ia mendekam di sana tanpa seorang pun tahu. 


Setiap malam, para penduduk kota yang berseberangan dengan keputusan bintang yang berwarna-warni, mereka sering melihat cahaya berpendar dari bawah ke atas, tempat di mana Sam dipenjara. 


Ciputat, 1 September 2021


_______


Penulis


Rumadi, lahir di Pati 1990. Menulis cerpen. Saat ini aktif di FLP Ciputat dan komunitas Prosatujuh. Cerpennya tersebar di berbagai media cetak dan daring. Buku pertamanya berjudul Melepaskan Belenggu. Buku keduanya yang berjudul Luka Tak Tersembuhkan sedang dalam proses penerbitan.


Penulis bisa dihubungi lewat Whatsapp 085711734787 atau instagram @pendekar_hati.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com