Sabtu, 20 Agustus 2022

Resensi Nuraisah Maulida Adnani | Kisah Dunia Kepenulisan dalam Parodi Dongeng-Dongeng Klasik

Oleh Nuraisah Maulida Adnani



Judul: Kumpulan Dongeng untuk Penulis

Pengarang: Lawrence Schimel

Penerbit: Marjin Kiri

Tahun: 2022

Tebal: i-iv + 38 halaman


Buku yang dapat dibaca sekali duduk ini mempunyai kejutan bagi pembacanya. Bagaimana tidak, pembaca dapat menikmati perjalanan segala cerita problematika penerbit, editor, penulis baru, penulis lama, buku, percetakan buku lewat dongeng-dongeng klasik yang biasa dibaca atau didengar saat masih kanak-kanak, seperti Rapunzel si rambut panjang, Sinderela yang kehilangan sepatu kaca dalam pesta, dan sebagainya.


Dalam buku ini terdapat 13 dongeng. Masing-masing dongeng hanya terdiri dari 2--3 halaman, sensasinya seperti membaca caption di Instagram atau status di Facebook. Di samping dongeng yang singkat beberapa pembaca merasa puas—dongengnya tidak terlalu berlebihan juga tidak kekurangan—seperti memakan makanan yang pas, nikmat, dan cukup kenyang.


Di dalam keruhan dunia perbukuan yang toxic, buku ini semacam parodi, seolah buku-buku menertawakan nasibnya sendiri. Seperti dongeng “Kerudung Merah” yang dalam beberapa versi bercerita tentang gadis berkerudung merah berjalan melewati hutan untuk menjenguk neneknya, diam-diam seekor serigala mengikutinya. Yang pada intinya serigala memakan si Nenek kemudian menyamar sebagai si Nenek sehingga Kerudung Merah berhasil dilahap oleh serigala. Lawrence Shimel mengolah dongeng ini menjadi cerita tentang serigala yang menawarkan penerbitan puisi untuk Kerudung Merah dan Nenek. Seorang dosen dari kampus Kerudung Merah mengingatkan bahwa penerbit serigala adalah penerbit nakal, berakal-akalan untuk meraup keuntungan. Kerudung Merah dan si Nenek merasa si Dosen hanya iri pada mereka, hingga keduanya tak sadar telah berada di dalam perut serigala. 


Ada juga dongeng “Putri Tidur” yang banyak orang tahu bercerita tentang seorang putri yang tertidur karena tertusuk jarum tenun oleh kutukan peri jahat. Putri itu tertidur lelap dan hanya dapat bangun dengan ciuman seorang pangeran, cinta sejatinya. Sedangkan dalam buku ini, “Putri Tidur” adalah sebutan untuk penulis baru yang mempunyai semangat yang luar biasa untuk berkecimpung di dunia sastra, namun saat tulisannya dikritik keras oleh orang-orang di sekitar membuatnya berhenti menulis. Kritikan tersebut menidurkannya, lama sekali. Bahkan sampai pangeran tidak perlu membangunkannya.


Dari dua dongeng tersebut pembaca dapat menangkap isu penerbitan dan penulis baru, kasus tersebut memang terjadi dalam dunia nyata. 


Tidak heran jika judul buku ini adalah Kumpulan Dongeng untuk Penulis karena pembaca yang familier dengan dunia kepenulisan pasti langsung dapat memahaminya. Memang begitulah dunia kepenulisan.


Lawrence Shimel—entah apa yang ada di otaknya saat menulis ini—berhasil membuat pembaca menertawakan, merenungkan, mengasihani, dan mempertanyakan dunia perbukuan yang kadang mempunyai masa depan yang tak jelas. Ada beberapa penambahan atau pengurangan tokoh dari dongeng yang diambil, seperti tidak adanya tokoh dosen pada "Kerudung Merah", tapi versi Lawrence Shimel ada. Pengurangan dan penambahan tokoh tidak membuat rasa cerita keluar dari rasa aslinya, malah justru lebih kekinian dan dekat. 


Bagi orang-orang yang menyukai dongeng, buku ini nyaris sempurna walau terkesan singkat dan padat, isi yang meresahkan, menggelikan berhasil membuat pembaca berpikir-pikir, dan lebih paham tentang isu-isu dunia kepenulisan melewati dongeng-dongeng yang unik. 


Memang begitulah dunia kepenulisan. Apakah kalian tertarik untuk membacanya?



_______

Penulis

Nuraisah Maulida Adnani, lahir di Tulungagung, Jawa Timur, 27 Januari 2001. Ia berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mataram. Bergiat di Komunitas Akarpohon, juga pengelola Perpustakaan Teman Baca, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com