Kamis, 15 September 2022

Berita | #Komentar Sukses Gelar Bedah Buku NGEWIYAK Vol. I di DPK Banten

 



NGEWIYAK.com, SERANG -- Komunitas Menulis Pontang Tirtayasa (#Komentar) gelar diskusi buku NGEWIYAK Volume I Mencintai Ingatan, Orang Gila, dan Jiwa Anak Desa pada Kamis (15/6) di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten.


#Komentar menghadirkan Rahmat Heldy HS atau Rahel (Duta Baca Banten) dan Sul Ikhsan (Pemimpin Redaksi NGEWIYAK). Para peserta terdiri atas guru dan siswa dari 20 sekolah tingkat SMP/MTs. & SMA/MA/SMK yang ada di Banten.


Menurut Encep, selaku Ketua #Komentar, dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini sebenarnya dalam rangka Milad NGEWIYAK yang ke-1 tahun pada Agustus kemarin. 


"Saya sengaja mengundang para guru se-Banten karena untuk mengenalkan #Komentar dan NGEWIYAK lebih dekat. Kami juga punya beberapa program yang barangkali cocok dengan para guru dan murid, salah satunya pelatihan menulis #Komentar Masuk Sekolah yang nanti setiap agendanya bisa diliput oleh NGEWIYAK," tambah Encep.



Selain itu, Encep juga mempersilakan kepada para peserta, bila ada yang tertarik menjadi anggota #Komentar dan ikut kegiatan menulis bisa langsung datang tiap hari Minggu ke Markas #Komentar yang berlokasi di Kp. Pasar Sore/Burak, RT 004, RW 001, Ds. Singarajan, Kec. Pontang, Kab. Serang.


Buku Mencintai Ingatan ... yang dibedah ini merupakan kumpulan karya terbaik yang pernah dimuat di NGEWIYAK pada periode Agustus 2021 s.d. Februari 2022. Buku ini juga merupakan hasil kurasi orang-orang yang berkompeten di bidangnya (esai oleh Arip Senjaya, cerpen oleh Niduparas Erlang, dan puisi oleh M. Rois Rinaldi).


Menurut Rahel, buku karya M. Asqalani eNeSTe, Kiki Sulistyo, Sulaiman Djaya, dkk. ini sudah habis dijabarkan oleh para kurator di dalam kata pengantar buku.


"Saya sebagai pembicara berat sekali rasanya untuk menyampaikan materi agar bisa melampaui catatan para kurator yang ada di dalam buku ini. Saya harus menyampaikan tentang esai, puisi, dan cerpen sekaligus dalam pertemuan ini. Sungguh sangat berat," ujar Rahel.



Rahel juga mengatakan bahwa untuk menjadi penulis hebat seperti yang ada di dalam buku NGEWIYAK ini tidaklah mudah. Penulis harus merasakan penderitaan agar tulisannya memiliki ruh. 


"Kalau memang tidak punya penderitaan, bisa rasakan penderitaan orang lain, tuliskan segera," ujar Rahel lagi. 


#Komentar meluncurkan NGEWIYAK, salah satunya tujuannya, sebagai wadah ekspresi para penulis, khususnya penulis yang ada di Banten. Namun, sejauh ini malah kebanyakan penulis yang mengirim karya berasal dari luar Banten.


Sul Ikhsan, Pemred NGEWIYAK, mengatakan bahwa NGEWIYAK juga punya "Kolom Sekolah", khusus penulis dari kalangan guru dan siswa. 


"Pada pertemuan bedah buku ini, selain berbagi buku NGEWIYAK, juga salah satunya untuk memberi kabar bahwa kami punya ruang untuk Bapak/Ibu dan anak didik Bapak/Ibu. Silakan kalau punya karya, boleh dikirim ke alamat redaksingewiyak@gmail.com. Untuk 'Kolom Sekolah' terbit hari Senin," ujar Sul Ikshan.



Acara bedah buku ini berlangsung sangat seru. Selain Rahel, selaku narasumber utama, yang bersemangat menyampaikan materi dan pembawaannya cukup menghibur para peserta, para guru juga tak kalah ikut memeriahkan. Ada Mamat (SMA Darurrahman) dan Hendri (SMPN 6 Kota Serang) yang memberikan sumbangsih pembacaan puisi pada pembuka acara dan penutup acara. Tak kalah juga ada penampilan puisi dari siswa. 


Dalam sesi tanya-jawab, para guru juga sangat antusias bertanya. Salah satunya Sofia Dewi (SMPIT Al-Izzah) yang mengaku bahwa ia kesulitan menulis lantaran hidupnya sudah tak menderita lagi. 


"Bagaimana cara saya menulis kalau saya sudah tidak menderita lagi?" ujarnya.


Pertanyaan ini sangat relevan dengan apa yang disampaikan oleh pemateri dan juga mewakili pertanyaan dari semua peserta terkait kegelisahan menulis. 


Acara yang dimulai pukul 13.00 ini selesai bada asar. Ditutup dengan sesi foto bersama.






____

Fotografer: Sibro Malisi


(Redaksi)

___