Friday, September 9, 2022

Puisi-Puisi Imam Khoironi

Puisi Imam Khoironi 




Adakah Sajak


Di kepak sayap capung

Merawat mendung, hujan dan sejuk

Adakah kau baca sajakku

Mengepung semesta yang gelap gulita?


Di sawah, nyiur bergoyang mendengar

Sajakku pada guratan sayap capung

Sajak itu berisi mantra

Supaya dunia gelap gulita

Dan hanya sajakku nanti bercahaya

Adakah kau lihat itu bekerja?


Apakah tiap penyair punya mantra

Sebagai jejaknya bersaksi pada intuisi?

Dan mengapa kau tak mau membacanya?


Adakah sajakku berkunang serupa rupamu di gelap gulita?

Adakah sajakku kau baca, dengan sengaja atau tidak sengaja?

Adakah kepak itu abadi merawat sajakku?

Adakah kau mau membacannya untukku?

Sebuah sajak berisi mantra supaya kita tak gelap gulita.


Lampung, Februari 2020



Atas Nama Sajak yang Kunyanyikan Bersama Sunyi


Di kamar berukuran tiga kali luas kotak nasi ini

Aku baringkan sajak-sajak

Yang aku tulis di waktu pagi menjemputmu

Dari kebisingingan mimpi yang menggambar masa lalu di kepalamu


Tak akan lagi kubiarkan detak

Mengguruimu dan pula detik

Memaksamu melangkah

Rebahkan segala kata

Yang ingin segera kau ungkap

Pada puisi kosongmu itu


Bagimu tiap kata itu sajak

Tiap sajak adalah puisi

Segala puisi tak akan mengkhianati

Kata-katanya sendiri


Tapi kau bukan puisi

Dan atas nama sajak yang kunyanyikan

Bersama sunyi di kamar ini

Izinkan aku menjadikanmu sebagai puisiku


Way Halim, Juli 2019



Di Kota Tua Aku Membaca Usia


“Kembalilah dan kenang aku sebisamu”

Bahkan di tempat ini aku bersimpuh

Maafkan aku yang sudah terlalu lapuk

Mengingatmu yang berbusa-busa mengingatkanku


Ratusan tahun engkau berdiri tegak

Menceritakan padaku: darah dan usia

Tembok warna cokelat dan eropais yang kentara

Dibubuhi satu per satu meriam dan serabut suara tembakan


Pergilah jauh-jauh dari kebisingan

Tenang dan hidupkan cinta kita

Pada rindu usia muda


Potret wajahmu sudah layu

Saat nyonya meneer berdiri dan mengenalmu


Aku bukan pencerita dan kau cerita agung

Bagiku tubuh usia tidak lain hanyalah

Daging dan darah bermuka seribu

Yang setiap tahun akan berganti

Hingga mencapai akar tubuhmu


Lampung, Juli 2019



Desember


Kuhitung-hitung

Kukira-kira, rintik hujan pagi itu

Desember masih belia


Kupilah-pilah

Rintik manakah yang paling tepat

Untuk kutitipi pesan

Kepada tahun depan


Sebelum desember menelan tahun

Dan hujan menyeberang ke permukaan januari

Kusampaikan salamku

Bagi para pencari suaka harapan-harapan


Desember 2019



Lembayung


di antara bukit di antara langit,

di batas petang serupa kembang,

mekar tegar mengitar suar,

bertahta tanpa cinta harta.

dari barat terlihat serat mirat,

tak bersumbu pun tak bertumpu,

menyambut surut surya di laut.

terindah, menggugah, merayah gundah,

terkurung dalam palung lembayung.

merekam, meredam pandang tajam.

suara camar berdera atas muara,

kicau bangau terdengar parau,

ketika senja bermanja, warna merona,

saat gelombang laut berurut menuju sudut.


Lampung Selatan, Juli 2022


________


Penulis 


Imam Khoironi, lahir di desa Cintamulya 18 Februari 2000. Status sebagai mahasiswa S-1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Raden Intan Lampung. Tidak terlalu suka seafood dan durian. Penggemar mi ayam dan bakso garis keras. Suka nulis puisi, cerpen, kadang-kadang juga esai.


Buku puisinya berjudul Denting Jam Dinding (ada di Tokopedia). Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai online seperti simalaba.com, marewai.com, cerano.id, kawaca.com, scientia.id, milenialis.id, duniasantri.co, mbludus.com, suarakrajan.com dan media cetak seperti Malang Post, Riau Pos, Radar Mojokerto, Banjarmasin Pos, Bangka Pos, Denpasar Post, Pos Bali, Bhirawa, dan lainnya. Puisinya masuk dalam buku Negeri Rantau: Dari Negeri Poci 10 dan banyak antologi puisi lainnya.


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com