Selasa, 25 Oktober 2022

Proses Kreatif | Penulis Kena Mental

 Oleh Encep Abdullah



Kediman adalah guru menulis yang hebat. Ia selalu menjadi teladan bagi muridnya, bahkan bagi para rekan sejawatnya di dunia pendidikan. Dalam berbagai even menulis dan kesusastraan tidak diragukan lagi, sederet piala dan penghargaan, juga karya-karyanya baik yang diterbitkan di buku maupun yang tercecer di koran-koran. Terakhir, ia mendapatkan Juara I Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional.


Setiap kali Kediman menang dan mendapatkan penghargaan, orang-orang selalu merasa wajar dan selalu terpesona akan karyanya, padahal bagi saya biasa-biasa saja. Beberapa pertarungan Kediman itu bagi saya bukan pertarungan yang istimewa juga. Yang saya lihat dari beberapa lawannya, adalah lawan yang ecek-ecek untuk dikalahkan.


Suatu hari Kediman kena mental. Anak-anak didik yang diasuhnya dalam sebuah pertandingan even menulis antarsekolah tidak ada yang masuk juara. Padahal sebelum Korona, anak-anak didiknya selalu menyabet juara, bahkan sekolahnya sudah dikenal sebagai sekolah juara di bidang menulis. Kali ini, entah mengapa nol. 


Sebenarnya Kediman sudah tahu akan kemampuan anak-anaknya kali ini. Ia sudah menilai sendiri sejak dalam latihan bahwa karya anak-anaknya masih jauh dari harapan untuk menjadi pemenang. Namun, baginya kemenangan bukan prioritas. Menurutnya proses latihan dan sebagainya sudah dilakukan, hasil bukanlah yang utama, melainkan prosesnya—bagi Kediman pernyataan ini cukup klise sekali, taik!


Kediman memang sudah memprediksi sejak awal bahwa anak-anak didiknya kali ini tak seperti anak-anak didiknya yang tahun-tahun lalu. Kediman sudah siap dengan segala risiko. Namun, semua itu berubah saat di tempat lomba, ia bertemu dengan rekan-rekan seperjuangannya. Para rekannya itu berkata, “Wah, calon juara nih. Inimah sudah terlihat dari gurunya.” Hampir semua merendah di hadapan Kediman, seolah juara sudah berada di tangan anak-anak Kediman sebelum perhelatan usai. 


Perilaku rekan-rekan Kediman malah membuatnya kurang nyaman. Sanjungan-sanjungan itu di satu sisi menguatkan, di satu sisi melemahkan mental. Kepada para rekannya itu, Kediman memberikan senyuman sambil berkata, “Janganlah berkata begitu. Gurunya hebat, belum tentu muridnya. Semua punya kesmpatan menjadi juara.”

 

Dalam hatinya juga ada rasa ngeri, “Bagaimana kalau memang nanti anak-anaknya tidak ada yang menang?” Sejak dari sekolah, ia sudah siap menerima segala hasil. Namun, semua berubah menjadi kengerian-kengerian yang membuatnya gelisah. 


“Kenapa jadi begini,” ujar batin Kediman.


Lomba menulis puisi dan cerpen pun usai. Saat melihat pengumuman, tak ada satu pun nama anak didiknya yang menjadi juara, padahal ia mengerahkan 8 muridnya untuk bertarung di sana. Pada tahun-tahun sebelumnya, bahkan pernah hanya mengirim 1 muridnya dalam lomba, tapi bisa masuk ke tingkat nasional. Ini ada 8 orang yang dikerahkan, tapi satu pun tak masuk juara, 10 besar pun tidak. Padahal ia sudah melatih sebisa mungkin. 


Sepulang dari kegiatan itu, Kediman tak bisa tidur. Ia cukup gendek dengan pernyataan rekan-rekannya itu. Baginya, sanjungan-sanjungan sebelum pertarungan dimulai itu adalah sesuatu yang membuatnya menjadi tertekan. Atau segala prestasi yang dimiliki Kediman itu seolah tiada guna bila anak-anak didiknya tidak mendapatkan juara. Kediman sudah sangat paham dan selalu memberikan arahan kepada anak-anak didiknya bahwa kemenangan bukan yang utama, yang penting mengerti arti sebuah proses dan perjuangan. Kediman selalu berkata kepada rekan-rekan sejawatnya itu bahwa tak selalu yang juara terus juara, pasti ada waktunya kalah.


Ada salah satu rekan Kediman yang juga biasa membimbing anak didiknya menjadi juara. Kediman pun iseng WA kepada rekannya itu. 


“Tumben tidak juara.”


“Berikan kesempatan kepada yang lain. Tak selamanya kita juga harus juara. Bagi saya, anak-anak saya tetap juara di mata saya walau tidak mendapatkan piala.”


Meskipun seperti apa yang dikatakan dalam diri Kediman bahwa jawaban semacam itu cukup klise, hatinya cukup lega ketimbang sebelum ia mendapatkan pesan balasan WA temannya itu. Kediman juga minta maaf kepada pimpinan sekolahnya karena belum bisa memberikan yang terbaik, tidak seperti tahun yang sudah-sudah. Pimpinan yang saleh pasti menjawab “Tidak apa-apa Pak, yang penting anak-anak sudah diberikan pengalaman berkompetisi.” Dan itu membuatnya semakin lega.


Akhirnya, Kediman pun bisa tidur nyenyak. 


***


Dari kisah Kediman di atas, saya jadi teringat perkataan Ray Ammanda dalam sebuah ruang diskusi. Ray mengatakan bahwa dalam sebuah komunitas menulis yang saya dirikan, saya diibaratkan seorang masinis yang mengemudi di gerbong utama. Gerbong utama masinis tegak sebagai pribadinya, tapi gerbong yang di belakang berjalan terseok-seok. Ia dipaksa ikut berjalan dengan masinis. Gerbong belakang tidak seperti gerbong masinis yang ajeg. Dan itulah yang terjadi antara saya sebagai pemimpin komunitas dengan Ray dkk. sebagai penghuni gerbong belakang.


Ray merasa seperti dipaksa berjalan mengikuti gerbong masinis. Padahal gerbongnya tidak sama. Saya katakan kepada Ray bahwa meskipun ia terseok-seok, minimal ada usaha untuk ikut jalan ketimbang tidak sama sekali. Artinya, gerbong utama dan gerbong belakang adalah satu tubuh yang menuju satu tujuan yang sama. 


Adapun mengapa bisa terseok-seok, itu sudah suratan takdir. Atau bisa juga ada suatu kendala yang perlu dicek dan dibenahi bersama. Kita lihat model terseok-seoknya macam apa. Kalau terseok-seok karena memang gerbongnya sudah tak layak dan rusak, tentu saja lebih baik diganti dan dibuang. Kalau terseok-seok karena memang sudah tidak satu arah tujuan, barangkali gerbongnya perlu dilepas atau putar arah ke gerbong lain, atau pindah posisi. Kalau terseok-seok sebagai bentuk pembelajaran dan proses, sebagaimana murid yang belajar kepada guru, bagi saya itu perlu. Kediman dan anak didiknya barangkali juga begitu.


Salam!


Kiara, 23--25 Okt 2022


______

Penulis


Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi NGEWIYAK, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Buku kolom proses kreatifnya yang sudah terbit Buku Tanpa Endors dan Kata Pengantar (#Komentar, April 2022).