Jumat, 02 Desember 2022

Puisi-Puisi Lilin

 Puisi Lilin




Waktu Bergerak di Kotaku


Siang yang api membakar kulitku

Menghitamkan pipi, kemudian bola mata, dan bibirmu

Kita melewati barisan rumah-rumah tanpa penghuni

Hanya nama bertulis tanpa warna

Pemilik kehidupan telah merampas mimpi-mimpi mereka

Lalu mengempaskannya ke lubang tanah

Ke dalam tumpukan telur cacing atau selembar kain tanpa pola

Kemampuan, keakuan, keindahan tak lama-lama bertahan 

Ada yang hilang sejauh tiga langkah


Dersik dedaunan!


Apakah yang masih bertahan?

Dari keikhlasan kota ini

Tanah yang meranggas, burung-burung pemakan bangkai, atau penjual kelamin sendiri

"Tahu apa kau perihal pergerakan tanah kering dari musim kehilangan?"


Aku terus bergerak mengitari bumi

Berpacu poros kemiskinan masa kecilku

Penyair yang kehilangan kaki dari puisi-puisinya

Dersik dedaunan melambaikan tangan

Melemparkan kata-kata

Yang bergerak di kotaku adalah waktu


Surabaya, 12 Agustus 2022



Manusia Tanpa Perbekalan


besok kaumau jalan ke mana

sementara portal-portal berbaris rapi di ujung jalan

hal yang pergi tak pernah akan kembali

kecuali kau adalah anakan samudera

di mana ada ombak yang terbahak yakinkan hati akan bertemu hari


hidup adalah milikku, bagaimanapun tantangannya 

menindih atau ditindih, yang mati akan tertimbun tanah


pergi sajalah dahulu

buktikan tak ada tanah yang menolak kita 

mesti jalanan buntu menghalang pandang

satu yang pasti

waja tak lebur dalam setiti


perihal jalan

kami melawan waktu yang tak henti berotasi

mengusir keluh yang acapkali berbicara

mengingatkan mati dan hidup setelahnya

kami adalah manusia-manusia tanpa perbekalan


Surabaya, 21 Agustus 2022



Kata Kita Mengerang


masa depan menguap

yang tiba-tiba bergerak keluar dari bibir secangkir kopi

tak tampak sama sekali bayang-bayang selinting rokok membawa bara diujung laras

semua tenggelam bersama-sama warna merah di ujung barat 

memakan cahaya dari mata-mata hari

tak sedikit pun meninggalkan jejak bahagia meski 

secuil kata-kata pemenang


sedih ditahan--kekhawatiran berlompatan dari tembok rumah berdinding kaca

hidup dipermainkan dalam kotak kenangan

mereka hanya punya segenggam warisan yang dipertanyakan waktu


lampu temaram 

puisi-puisi mengerang

di sini 

nyaris mati 

dibanting-banting si tuan tanah

di rumah berdinding kaca

puisi menghilang bersama hening


Surabaya, 02 November 2022



______

Penulis 


Lilin adalah nama pena dari perempuan kelahiran Surabaya. Baginya, menulis adalah salah satu cara mengubah kepahitan menjadi sesuatu yang manis. 


Karyanya masuk dalam antologi bersama Pemuisi Jatim (2020), Sajak di Tepian Senja (SPI, 2021), Jejak Puisi Digital (HPI 2021), Puisi Dua Bahasa (2021), Antologi Puisi HUT ke-62 RSUP Sanglah (2021), dan juga bersama kawan-kawan di Komunitas Sastra Nusantara, di antaranya Wajah-Wajah Asing ( April, mop 2021), Surat untuk Ibu (2021), Kaki-Kaki Tanah (2021), Perempuan yang Menyeduh Hujan (2022) dan masih banyak antologi lainnya. 

 

Kirim naskah

redaksingewiyak@gmail.com