Senin, 05 Desember 2022

Karya Guru | Honor, Doa, dan Jiwa Petualang | Rofif Syuja' Mu'tasyim

Oleh Rofif Syuja' Mu'tasyim



Di luar sana, kadang banyak yang mengira saya “enak banget” bisa jalan-jalan ke sana kemari. Mereka kepo apa saja kerjaan saya dan berapa gaji saya sehingga saya bisa begitu intens jalan-jalan. Walaupun memang saya mengajar dan kalian mungkin tahulah berapa honor seorang guru, tapi tetap saya jelaskan bagaimana saya bisa dan suka jalan-jalan. Tapi anehnya, mereka tetap tidak bisa jalan-jalan bebas karena beberapa hal. Memang cukup unik manusia tipe-tipe begitu. 


Baik, saya coba jelaskan ya.


Pertama, honor mengajar saya di sekolah tidak sampai satu juta. Lumayan saja kalau saya selalu hadir tanpa ada izin dan alpa karena bentrok beberapa hal. Dari situ timbul pertanyaan “emang cukup?”. Kalau ditanya cukup atau tidak, yang namanya manusia, pasti kurang. Selalu ingin yang lebih. Tapi saya selalu ingat perkataan salah satu ustaz, “kalau ente mencari dan terus mencari, ente gak akan puas. Tapi coba ente perbanyak bersyukur”. Kata-katanya simpel, tapi masuk ke dalam sanubari.


Kedua, jalan-jalan saya itu dibayar. Lalu, timbul pertanyaan lagi “kok bisa sih?”. Jadi begini, konsepnya adalah hobi yang berbayar alias dibayar. Selama ini saya bersyukur ada rekan-rekan yang mengajak saya jalan-jalan, mereka paham dan mengerti, apa saja pengeluaran dan uang tip buat saya. Oke, saya berikan satu contoh ketika naik gunung. Saat pendakian itu saya memosisikan diri menjadi leader dan porter, menyiapkan alat-alat pendakian, bahkan transportasi. Semua itu saya kalkulasikan menjadi satu. Ketika mendaki gunung, saya mulai jumlah pengeluaran dan rinci satu per satu, mulai dari simaksi, logistik, dan transportasi. Kemudian setelah tahu berapa jumlahnya, saya sampaikan ke teman-teman. Kebanyakan dari mereka itu tidak mau ribet. Mereka ingin instan. Teman saya selama ini selalu memberikan pemasukan lebih sembari bilang “uang capek buat lu nih”.


Ketiga, ini yang suka dilupakan: “sedekah”. Semenjak saya duduk di bangku SMP, guru saya sering bilang “setiap rezeki yang diberikan Allah ada harta milik orang lain maka sedekahkanlah 2,5%”. Semenjak itu setiap saya mendapat sedikit rezeki saya selalu sisihkan entah lewat kotak amal masjid atau sedikit memberi kepada orang yang meminta-minta. Namun, pada kenyataannya berlaku baik dan sedekah memang tidak membuat kita miskin. Terkadang Tuhan membalasnya dengan berbeda-beda, seperti dimudahkan dalam setiap urusan, atau selalu diberikan diri dan keluarga sehat.


Terakhir, saya selalu memberikan pendapatan kepada orang yang saya cintai, yakni ibu. Memang tidak banyak, tapi pada kenyataannya bukan nominal yang jadi pertimbangan, tapi doa-doa beliau setelah saya berikan sebagian rezeki yang saya punya. Ibu saya hanya menjawab, “Alhamdulillah Mas (Ibu saya memanggil saya dengan Mas).  Semoga Allah berikan kemudahan dalam menjalani aktivitas, selalu lancar dan berkah rezekinya”. Itu doa yang saya percaya langsung mengguncangkan langit dan terijabah. Meskipun berbakti kepada ibu tidak hanya soal harta. Selama ini semakin sering saya berbaik hati sama ibu, kemudahan dan rezeki selalu aja hadir. Saya berikan satu contoh. Ketika yang di dompet saya tinggal 150 ribu, kemudian ibu ingin membeli kebutuhan  dapur, saya langsung menemani ibu ke warung dan membayar apa yang ibu beli saat itu. Lagi-lagi ibu tidak pernah pelit untuk memberikan doa, "semoga Allah ganti yang berlipat-lipat”. 


Percaya tidak percaya, selang dua hari setelah itu, ada teman ayah saya meminta tolong untuk mengantarkannya mudik, jenguk orang tuanya di Jawa selama dua hari. Singkatnya saya tidak memberikan jumlah yang harus dibayar. Saya berpikir yang penting bensin full dan mobil bersih. Tak disangka, saya diberikan uang cash yang lumayan banyak. Saya sampai kaget dan tidak percaya. Lalu, saya mengucapkan terima kasih. Beliau menjawab santai, “harusnya saya yang terima kasih sama Mas karena mau anter saya sekeluarga, mungkin ini gak seberapa sama waktu dan tenaga Mas yang dikeluarkan, semoga cukup.” 


Tabik.


Pipitan, 1 Desember 2022


_______

Penulis


Rofif Syuja' Mu'tasyim, lahir di Tangerang 8 Desember 1997.  Anak kedua dari empat bersaudara, sang ayah bernama Maryatno dan ibu bernama Supiyati. Saat ini mengabdi sebagai guru di SMP IT Darussalam Pipitan. Aktif di IKALISASI (Ikatan Alumni Sastra Indonesia Universitas Pamulang), kemudian FPA (Forum Penggiat Alam) Tangerang Raya.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com