Kamis, 19 Januari 2023

Esai Bandung Mawardi | Buku Sastra (Tak) Laku

Esai Bandung Mawardi



Berita lama membawa nostalgia. Kita membaca diselingi memejamkan mata. Sekian hal teringat saat membaca berita: mendapat lanjutan nostalgia dengan menutup mata. Benda, tokoh, suasana, tempat, dan waktu bermunculan. Nostalgia tak lengkap tapi sempat membuat orang “hadir” sejenak.


Nostalgia itu buku dan toko buku. Kita mengingat buku-buku dianggap baru, ditata dan dijual di toko buku. Kita belum mengingat buku-buku lama atau berdebu di perpustakaan sering sepi. Pada suatu masa, buku baru di toko buku mengundang orang-orang berdatangan untuk mendapat predikat pembeli. Dulu, pembeli buku dianggap sadar pengetahuan dan hiburan. Orang rela menukar duit dengan bacaan. Konsekuensi telanjur gandrung buku.


Di pelbagai kota, toko buku itu bangunan cukup apik dan bersaing dengan toko sepatu, toko busana, toko elektronik, dan lain-lain. Toko buku menjual buku. Toko buku pun kadang menjual sekian benda tambahan belum tentu berkaitan dengan peristiwa membaca buku. Masa demi masa, toko buku turut dalam babak-babak perubahan di kota. Toko buku menjadi tempat bermakna bagi orang-orang mengalami hari-hari sebagai pembaca. Di situ, orang-orang membeli buku atau bercakap. Di toko buku, orang kadang cuma memandang dan membaca sejenak buku tanpa harus membeli.


Sekian nama toko buku “melegenda”. Tempat terindah dan terkenang setelah dunia berubah. Kota-kota tak memerlukan lagi toko buku. Kota makin sesak tapi toko buku malah tutup gara-gara sepi dan perubahan tata cara perdagangan buku. Di gawai, orang-orang merasa “mengunjungi” toko buku. Mereka bisa membeli tanpa pergi.     


Di majalah Tempo, 20 Oktober 1990, berita mengenai toko buku. Pada masa lalu, berita termasuk agak penting. Berita bisa masuk dalam urusan bisnis atau perbukuan. “Buku laris umumnya bukan buku sastra,” pembuka di Tempo. Kita mengerti itu bukti nasib para penulis buku sastra tak terjamin terang dan makmur. Dulu, Ajip Rosidi pernah mengingatkan bila penerbitan buku-buku sastra berkonsekuensi rugi tapi “terganti” kebahagiaan susah dipahami awam. Semula, buku-buku gubahan Ajip Rosidi diterbitkan Pembangunan, Gunung Agung, dan Balai Pustaka. Pada masa 1970-an, ia mendirikan dan menggerakan Pustaka Jaya: berpamrih besar menerbitkan buku-buku sastra.


Kita mengingat masa lalu dengan membaca berita lama: “Kutu buku barangkali jenis makhluk yang paling tidak menjengkelkan. Mereka setidaknya menciptakan pasar yang sedap bagi penerbit. Maka, agak menyedihkan bahwa para pembaca buku yang getol kini berkurang, terutama dalam soal mutu.” Buku tak sekadar laku. Pihak-pihak selalu memuliakan buku ingin buku-buku laku itu bermutu. Di toko buku, mutu kadang berada di belakang bagi orang-orang memerlukan bacaan hiburan. Buku sastra tak laku itu wajar.


Sekian toko buku di pelbagai kota memiliki data penjualan buku. Jumlah dikutip di berita: “Dalam tiga tahun terakhir, buku dari penulis remaja Hilman ini memang jadi primadona di beberapa toko buku. Sejak Janui lalu, novelet (Lupus) ini laku 21.000, sementara buku Hilman yang lain, Dancing on the Valentine dan CafĂ© Blue, laku belasan ribu eksemplar.” Indonesia sedang dilanda Lupus. Semua gara-gara majalah Hai dan Gramedia. Lupus laris dan menghasilkan untung besar, susah disaingi buku-buku sastra dihasilkan Rendra, Mochtar Lubis, Danarto, atau Sapardi Djoko Damono.


Pada abad XXI, buku-buku persembahan Hilman itu nostalgia saat kaum remaja mulai menggemari buku-buku gubahan TL, BC, atau FB. Dulu, buku-buku Sapardi Djoko Damono sulit laku. Pada masa berbeda, buku-buku diterbitkan Gramedia Pustaka Utama sering cetak ulang. Pada usia tua, Sapardi Djoko Damono membuktikan buku-buku sastra laku.


Kita kembali ke berita lama. Lacakan data di sekian toko buku menghasilkan pendapat: “… pembaca sekarang – anak-anak sampai orang dewasa – rata-rata tak ingin berkerut kening.” Konon, buku sastra biasa membuat pembaca berkerut kening. Buku sering tak laku. Begitu.


_________

Penulis

Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi. Penulis buku Silih Berganti (2021), Titik Membara (2021), Tulisan dan Kehormatan (2021), Bersekutu: Film, Majalah, Buku (2021), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020), Terbit dan Telat (2020), Pengisah dan Pengasih (2019).


redaksingewiyak@gmail.com