Friday, January 13, 2023

Puisi-Puisi Firman Fadilah

Puisi Firman Fadilah





Sepanjang Pesisir Tanggamus 


Sepanjang jalanmu, yang kulihat hanya laut

aroma garam yang begitu kental,

gelegar ombak yang rindu kaki wisatawan,

dan rumpun buih putih, seputih tawa anak-anak pesisir dan penjual ikan yang lebih banyak menjajakan kenangan laut; basah keringat pemancing yang tak kering diamuk angin

sepasang camar menukik ke pasir putih,

adakalanya mereka paling tahu,

bagaimana menghabiskan sisa-sisa yang

tertinggal di bibir pantai: badai cinta semalaman, kata-kata bualan, dan surut pasang harapan dari bisik gemuruh laut

mengguguh tiap dada yang melewatinya

manakala kudatangi lagi jalanmu,

jalan kecil yang berbatu,

apakah masih sepetak kebun kelapa itu,

rumah-rumah rapuh di dusun asing,

dan lanskap teduh lengang siang,

jadi potret bisu yang terus kukenang

dalam samar tua ingatan


Tanggamus, 11 Mei 2022



Di Atas Kapal Feri


Di atas Kapal Feri, angin memiuh dari

gelegar ombak ke atas anjungan

pelabuhan diam-diam menjauh menahan

tiap kaki yang ingin menyeberang,

serta menyerahkan nyawa pada laut

biru yang menyala, langit begitu tua

menjadi rumah bagi camar, bagi yang rindu rinai hujan, juga bagi siapa saja yang tak bisa menggapai awan


Di atas Kapal Feri, tak ada batas selain cemas, sebaris pulau pun menyusut, menyisakan tremor tubuh yang kalut

pada pagar besi orang asing berfoto, sementara bocah kecil berharap senang seseorang melempar koin, lalu gelombang biru laut yang menggoda menenggelamkannya ke dasar tanpa takut


Laut akan selamanya menjadi laut, mencipta selat untuk kita seberangi

dan bila malam menjelang, kerlip lampu itu barangkali adalah engkau yang ingin kujangkau


Pada embus angin lautnya yang menyatukan juga memisahkan, akan selalu

kularungkan rindu betapa di sini, di atas Kapal Feri, laut itu tak bertepi hingga sampai

ditambatkannya jangkar di bibir Bakauheni akan kusuakan juga sehampar dadaku

yang lama tak kaurengkuh


Tanggamus, 05 Desember 2022



Di Tubuh Kita Tumbuh Sebatang Pohon


Di tubuh kita tumbuh sebatang pohon,

tiap kali seseorang menghidu harumnya,

ia lahirkan sedetik untuk kita nikmati;

ruang-ruang dengan suasana yang teduh,

hangat matahari, dan ozon dengan dada

busung menangkis emisi karbon


Adakalanya pohon itu rindu zat hara,

bila tanah tandus, katak tak lagi

berdengkang, dan kabut tipis seolah-olah

ujung pisau siap menyayat tiap-tiap detik

yang disuarakan lewat tulisan

di atas kertas, sementara pohon itu

hanya tinggal beberapa saja


Masihkah ada serimbun pohon di dada,

dengan kijang yang berlarian atau burung

yang bersembunyi dari busur pemburu?

atau hanya ada kita dengan tangan panjang

yang melulu terlambat

menyesali sesuatu


2022



Lukisan yang Diterjemahkan oleh Lelaki Patah Hati


Di dinding itu, seekor murai menukik

tepat di wajahku, seolah-olah ia

kehilangan dahan dan udara

seolah-olah tempatnya bukan lagi

pada reranting yang dulu mengguyurkan

tempias dan kepakan sayap yang piawai

menembus cakrawala ia tanggalkan

pada sunyi senyap dedaunan gugur

sebelum musimnya


Di dinding itu, ia kepakkan kepergian

tanpa menoleh ke masa yang sebelumnya

menggeleparkan hasrat ke masa

yang kini ditujunya tanpa rumpang

ruang sendiri

ketika pagi beranjak tiba


2022



Terkenang Usia


Usia memang pendek, tapi ia cukup

panjang untuk mengingat; sejauh mana

kita sekarang?


Mungkin kau akan bertanya-tanya,

ke mana lagi arah tujuan, selain menjadi

langit mendung yang menumpahkan hujan

untuk anak-anak pohon tumbuh tinggi,

menjadi ruang pengap atas ingatan

yang enggan disebut-sebut.


Kelak barangkali hanya tersisa tatapan sayu, senyum yang tak lagi secemerlang

perjaka dan gadis-gadis dusun kala

menyisir rambut


Lalu, kecemasan-kecemasan luruh

pada akhirnya saat berlabuh selepas

menitipkan sajak-sajak pada yang akan

datang kemudian


Usia memang pendek, tapi ia begitu

panjang untuk mengucap syukur dan mengingat-ingat nikmat apa yang

tak pernah Ia beri


Atas Dipan, 4 Augustus 2022


________

Penulis


Firman Fadilah, tinggal di Lampung. Karya-karyanya dimuat di media cetak dan online


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com