Friday, June 9, 2023

Puisi-Puisi MH. Dzulkarnain

Puisi MH. Dzulkarnain




Rubaiat di Meja Tamu


Pada kelopak matamu aku memilih untuk terbenam 

Sejenak ingin merasakan bagaiman nikmatnya pulkam

Hari di mana aku bisa membungkus sehelai rindumu

Dan beberapa lelucon yang sempat kutinggalkan di meja tamu


Sungguh waktu memang keterlaluan padaku

Membiarkanmu untuk tanggal dalam palung pikiranku yang tunggal

Itu mungkin hukuman bagiku karena terlanjur menuhan kamu

Dan biarkanlah aku untuk tetap begitu 


Kau terlalu aduh bagiku yang pecandu 

Dan aku terlalu rapuh bagimu yang pilu

Kau terlalu sorga bagiku yang neraka

Dan aku terlalu murka bagimu yang jenaka

Kau terlalu puisi bagiku yang obituari

Dan aku terlalu padi bagimu yang kulminasi


Bandung, 2023


 

Rubaiat Rintik Hujan


Kau yang yang Maha Penghujan

bawalah aku ke dalam sebuah ruang

di mana aku bisa bertemu

dengan nikmat-Mu di meja tamu


Di kota kepalaku yang bertuhan

rintik masih terus berjatuhan 

dengan deras layaknya doa-doa terulurkan

ya, pada saat itu pula

aku butuh sebuah pelukan


Rintikmu telah meredah

namun kenangannya masih meraba-raba

cericit burung pun mulai terdengar di telinga

dari jendela cahaya juga mulai meremang di mata


Di luar rumah banyak cerita yang telah basah

bocah-bocah berlarian saling kejar-mengejar doa

begitu amat menyenangkan bagi mereka 

atas rintik hujan-Mu yang menghendakkan untuk meredah


Bandung, 2023



Rubaiat Kopi


Ketika aku bertamu pada sunyi 

kopi dan segenap obituari

ruang di mana aku menikmati 

pekat hitamnya yang abadi, sehingga 

aku berkesempatan menunaikan

puisi di meja kafe tengah malam hari


Raka’at demi raka’at puisi 

kubaca ayat-ayat hujan bulan Juni

bentuk ziarahku pada Sapardi 

sambil berdoa, 

ya Tuhan, lindungilah aku dari kebisingan

yang menjerit di telinga dan menjerat di kepala,

kumohon jadikanlah berpuisi sebagai ibadahku pada-Mu

dan menyeduh kopi sebagai rukun berpuisiku


Semoga bertamunya aku 

dan beribadah yang seperti ini

dapat mengantarkanku pada palung kaki ibu 

dan dijauhi dari segala kebisingan itu 


Bandung, 2023



Engkau yang Kelam


Datanglah engkau 

pada setiap halaman yang terbuka

daksa telah tabah 

merindukanmu yang iba

kala waktu meraba kepala

Riuhlah bising perkotaan

bersama riuh hening suatu ruang

rubaiat yang kubuat

bukanlah sekedar azimat

pembawa nikmat

namun ia adalah ayat-ayat

dari doa yang kau panjat

Suatu kecup adalah penutup 

dari cakap yang tak ingin cukup

Di atas tungku waktu

wajahmu yang maha aduh

mengutukku sebagai pecandu rindu

yang berkasih hingga berkisah

memeluk segala resa

terkadang aku pun terpejam 

dalam renjana ciuman

yang kelam


Bandung, 2023



Di Kening Malam Minggu

: Syafa Putri Nabila


Di kening malam minggu

aku menyeduh pekat waktu 

ada sebuah kehangatan di sana

entah apa itu, mungkin Tuhan sedang menyapa

kusimpan sejenak beberapa obituari di atas meja

bersama lembaran-lembaran peristiwa

juga tak lupa ada dompet di sana

yang hanya berisi mimpi;

mimpi yang terparkir di dalamnya


Ada banyak cakap yang tak terasa cukup

dari sebutir katamu yang tak berhasil 

kukecup

di mana pada setiap ceritamu yang penuh alur 

aku mencoba untuk lembur

tanpa merasakan libur maupun tidur


Bandung, 2023



_________

Penulis 


MH. Dzulkarnain, nama pena dari Yoga Zulkarnain. Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pemuda kelahiran Sumenep Madura. Salah satu kontributor puisi pada Antologi Puisi DNP (Dari Negeri Poci) Ke-11 KHATuLISTIWA 2021 (KKK Jakarta, 2021), Antologi Puisi DNP Ke-12 Raja Kelana 2022 (KKK, 2022). Beberapa karyanya pernah dimuat di media online, majalah, koran harian dan dalam buku antologi bersama lainnya.


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com