Friday, August 25, 2023

Puisi-Puisi Zulfadhli

Puisi Zulfadhli



Berjalan di Pelupuk Kenangan


(Mengenang cerita nenekku, tentang segerombolan pemberontak, menyatroni orang-orang kampung, mengambil harta benda dan ternak, suatu waktu dulu). 


Berjalan-jalan di pelupuk kenangan

Ia mengeja peluru yang jatuh dari bumbungan rumah


Mengapa selaksa tawa

Tak bisa membuncah kegetiran?


Langkahnya terhenti di petilasan rumah bertingkat

Pintunya mengurat rayap 

Daun jendelanya timbunan sayap kupu-kupu


Apa yang bisa menghilangkan kenangan,

Selain dari mendakwakan kenangan itu sendiri?


Ia tersedu

Lalu tertatih menjauh. 



Pemakluman


Akankah suratku sampai?

Sedangkan kantor pos ini begitu tentramnya.

Angin-angin pun tak sudi melintas. 


Kau katakan tentang khabar

Sebuah pemakluman lewat kata-kata dan untaian doa

Kau harapkan di penghujung usia

Jelang menua


Kini aku takut pada diriku sendiri


Bukan kehabisan dawat

Atau lembaran papyrus


Aku hanyut di perairan bergelombang

Kau tumbuh di pelukan bukit


Di belanga mana kita berpadu?



Tentang Huruf


Huruf-huruf itu harus beratur

Tegaknya lurus

Jangan terlalu panjang


Menekannya jangan terlalu keras

Bisa robek kertasmu


Begitu juga, jangan terlalu lembut

Hurufnya jadi tidak nampak


Alunkan jarimu selazimnya

Jangan keluar dari kotak-kotak


Aduh, jangan terlalu pendek!


Begitu pesan Bu Guru itu di depan kelas

Yang diingatnya sepanjang tahun


Sehingga, halaman bukunya polos sampai sekarang.


Bagansiapiapi, 11 Agustus 2023


________

Penulis


Zulfadhli, lahir 18 September 1981, adalah sastrawan di Rokan Hilir (Rohil) Riau yang sehari-hari menjalani profesi sebagai wartawan harian Riau Pos. Merupakan nominator Ganti Award (2006) dengan judul novel Kehilangan Jembalang, meraih Anugerah Jurnalistik Sagang (2012). 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com