Thursday, December 21, 2023

Esai Krisna Wahyu Yanuar | Menembak Ide

Esai Krisna Wahyu Yanuar



Semua penulis pasti akan mengalami yang namanya writer blocks (kebuntuan menulis). Tidak apa- apa karena itu juga merupakan proses penting dalam meraih gagasan baru untuk dituliskan. Kedinamisan serta kemajuan yang signifikan terkadang membuat kita terlena meraih sesuatu atau berusaha memahami realitas. Tetapi, untuk tetap produktif, beberapa penulis seharusnya harus memahami eksistensi dirinya dengan kapasitas serta gagasan apa yang layak atau ingin diperjuangkan dengan kata.


Dunia kata adalah dunia yang berhenti sejenak dengan titik. Tetapi, pasti "Kapital" huruf pertamanya dilanjutkan paragaf selanjutnya, artinya spirit menulis harus disertai ambisi akan sesuatu yang layak untuk ditulis. Beberapa hal akan mempengaruhi ambisi tersebut. Pertama adalah proses pemahaman. Pemahaman tidak beranjak dari satu kata, bukan suatu literal, tetapi harus ada proses akurasi dan presisi akan sebuah gagasan dibentuk. Akurasi tulisan akan dilihat sebagaimana kejelian penulis memilah- memilih kata dan menyusunnya sebagai sebuah logika yang runut, kemudian diuji kembali. Sedangkan presisi adalah sejauh mana tulisan tersebut berdasarkan data fakta atau reaksi.


Reaksi yang timbul bisa dari apa pun. Bisa dari pemahaman satu paragaf memunculkan keinginan menuliskan review. Atau, pemahaman dari makan yang dekat, seperti membaca buku, yang berganti- ganti kemudian muncul titik pertemuan. Atau ,ada juga yang berusaha menggali makna menurut perspektifnya. Ada juga hasil dialog dia dengan manusia, alam, atau dirinya sendiri. Maka dari itu, menembak ide itu memerlukan senapan yang berbeda- beda sesuai selera.


Kalau saya, lebih suka membaca karya- karya lama kemudian membaca karya yang relevan. Dari itu ada proses imajiner di dalam nalar, yang menggerakkan saya untuk menuliskan sesuatu. Ada juga penulis yang menuliskan dahulu, lalu ide muncul secara tiba- tiba setelah melihat sesuatu atau merasakan pengalamannya akan sesuatu. Ada yang lebih aneh, yakni seseorang yang mengagumi berlebihan akan sesuatu kemudian menjadi “fetish” lalu dituliskan. Ada juga yang sekadar dari emosionalnya menuliskan tulisan sebagai reaksi peristiwa yang ada atau yang lalu. Tetapi begitulah dunia tulisan ibarat globe, dari manapun ia bisa melihat sesuai perspektifnya.


Yang paling penting dari dunia tulisan adalah semangat gigihnya juga konsistensinya. Menulis tidak perlu pintar, pintar juga bisa menulis. Dua kalimat ini seperti tidak nyambung tetapi begitulah adanya, semua indah jika dituliskan. Gerakan intelektual dahulu selalu disertai tulisan, bukan hanya sekadar ucapan. Tetapi yang disayangkan ucapan terkadang jauh dari makna atau terlalu bebas.


Merasakan Kehadiran Kata


Jika ingin menembak burung ada hal yang lebih penting dari sekadar mempersiapkan alat untuk menembak, yakni merasakan kehadirannya. Sebaiknya begitu. Dalam dunia menulis, kita harus merasakan kehadiran kata, bukan sebagai taklid, tetapi sebagai keinginan dan ketidaktahuan. Kemudian daripada itu pertanyaan-pertanyaan akan muncul, yang mana ada pilihan dituliskan atau mencari jawaban dahulu, terserah. Tetapi cepat atau lambat segera tembak saja. Karena burung akan mudah pergi dan menghilang, seperti sebuah ide atau gagasan, tuliskan nanti akan cepat lupa. Tetapi kalau memiliki prinsip kuat sih tidak apa-apa. Tergantung style masing- masing.


Dalam dunia tasawuf proses tajali atau merasakan kehadiran Tuhan, itu cukup sulit dan lama, sama juga seperti dunia kata, ada yang perlu digali lebih dari sebuah makna, yakni inovasi dan kontribusi untuk dunia yang penuh paradoks ini. Tapi semua boleh belajar untuk menulis terlepas dikritik atau tidak, jangan takut, tuliskan saja, semua ada nilai positif di baliknya. Maka dari itu, terkadang proses menulis juga sebagai evaluasi diri. Kita menulis karena ada harapan yang ingin diubah.


Menulis Diritualkan


Dalam dunia tulis menulis pernah mendengar  Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghozali? Konon katanya tulisannya itu diritualkan atau ditirakati, yang mana juga terkadang menentukan sebuah gagasan dapat terilhami banyak orang. Dalam dunia ini perlu upaya khusus untuk memfokuskan sebuah “sebab” (kejadian, pengalaman, penglihatan) kemudian dilanjutkan proses infiltrasi. Infiltrasi adalah bahasa ilmiah yang dipakai Siklus Hidrologi untuk peresapan air ke dalam tanah. Tetapi sederhananya proses tersebut memerlukan waktu yang lama dan mempertajam proses analisis. Makanya seorang Ibnu Khaldun yang memelopori Ilmu Sosiologi dalam Magnum Opusnya, “Muqodimah”, itu memerlukan waktu untuk menyendiri untuk menuangkan gagasannya itu. Maka sebab itu “Pelan- pelan Pak Sopir”. Fokus dulu sama keinginanmu dulu.


Dunia tulis menulis adalah dunia asyik. Kita bisa berbicara kepada siapa pun tanpa dibatasi ruang dan waktu. Di sanalah kita bisa melihat diri kita sendiri atau melihat dunia dengan segenap isinya. Dan membaca memang kunci pokok. Membaca untuk kata per kata dahulu kemudian membaca lainya. Bisa saja membaca hati doi, kemudian bisa menjadi novel, wkwk. Sekian, semoga bermanfaat.


______


Penulis


Krisna Wahyu Yanuar, seorang pejuang pena dan mahasiswa UIN SATU Tulungagung, Karya saya ada di Instagram @krisnawahyuyanuar. Bukunya Mahabbatul Haq, Kekasih Mimpi dalam Doaku, Fly Away With My Faith. Ia juga seorang jurnalis dan kolumnis ulung.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com