Tuesday, January 23, 2024

Proses Kreatif | Restu Ingin Menulis

Oleh Encep Abdullah



Restu: Aku baru mulai kepanggil lagi untuk nyoba nulis nih, Kang. Lahan yang pas untuk aku cuap-cuap apa ya? Apakah web gitu ya?


Encep: Cuap-cuapnya apa dulu bentuknya?


Restu: Paling gak jauh dari cerpen atau puisi gitu, Kang. Cuma, aku penasaran juga sama esai.


Encep: Tulis saja dulu apa yang kamu bisa dan mampu. Jaga konsistensi menulis dulu. Apa pun bisa ditulis. Kalau sudah istikomah, misal 7 hari pertama nulis (apa aja ya), terus nanti lanjut 15 hari, lanjut 30 hari, lanjut 100 hari, dst. Kalau aku nggak nulis-nulis, nggak jadi soal, sekali nulis bisa saja langsung jadi. Tapi, bagi yang tidak terbiasa, butuh banyak latihan dulu biar lancar. Nanti untuk jenis tulisan apalagi yang mau ditulis akan mengikuti. Termasuk tulisan-tulisan yang belum pernah kamu tulis genrenya. Tentunya perlu diimbangi dengan banyak membaca. Biasanya akan otomatis mencari bacaan yang sesuai dengan konsen dan minat kita menulis apa. Untuk menjadi penulis tidak cukup dengan kata "pengen". Harus eksyieen. Tapi, kata "pengen" itu sudah menjadi pintu awal untuk memasuki pintu eksyieen.


Restu: Iya Kang. Aku sebenarnya seneng tulisan yang langsung jebrad-jebred, tapi enak dibacanya. Gak begitu seneng dengan tulisan yang prolog atau penyampaiannya gak langsung kepada inti persoalan. Oh, iya, aku baca di buku B. Indo SMA kelas XI, ada cerpen Awit Radiani yang berjudul ”Hatarakibachi” yang pernah terbit di koran Kompas. Kira-kira ada rekomendasi bacaan yang genrenya begitukah, Kang?


Encep: Dua tahun terakhir ini, aku menulis tentang proses kreatifku menulis. Buku-buku yang aku baca juga tentu seputar itu. Kenapa? Karena aku konsennya sedang di situ biar energi menulis nggak habis. Nah, ketika aku gak baca-baca buku proses kreatif lagi, energiku ke arah sana meredup. Aku lagi seneng baca buku-buku sufistik. Maka, jiwaku bergerak ke arah sana juga. Tulisanku tergiring ke arah sana juga. Begitulah. Oh, iya, yang kayak mana cerpennya itu, aku belum baca. Coba nanti aku baca dulu cerpen itu. Genrenya apa kalo boleh tahu?


Restu: Kang Encep ngajar di SMA kan ya? Ada di buku B.Indo kelas XI yang materi cerpen.


Encep: Bukunya mungkin beda.


Restu: Apa ya Kang, dia [Awit Radiani dalam ”Hatarakibachi”] nulis cerpennya kayak tentang pengalaman dia, tapi di dalamnya ngebahas sindiran berbagai persoalan hidup. Coba baca di sini nih https://ruangsastra.com/2663/hatarakibachi/.


Encep: Terlepas dari genre apa pun, tentu menulis dimulai dari diri kita dulu. Yang dekat dengan kita. Kalau menulis seperti cerpen di atas, untukmu berat. Karena itu pengalaman tubuhnya di Jepang. Kita mau seperti itu perlu pengalaman tubuh yang sama--meskipun kita bisa juga tak harus ke Jepang, misalnya baca buku tentang Jepang. Cuma, pengalaman tubuh, bacaan, jam latihan menulis, itu yang akan memengaruhi tulisan kita. Tidak apa-apa baca cerita apa pun sebagai bentuk upaya kita mencari. Tapi, kembalikan lagi kepada diri kita, apa yang dekat dengan kita, itu yang kita tulis. Misal, aku pengen menulis cerita seperti Nidu banget atau Triyanto Triwikromo banget, sekalipun kita hatam gaya menulisnya, tetap tidak bisa ditiru. Itu bakat dan style mereka dalam menulis. Kita? Kita gak tahu style kita kayak apa kalau kita tidak terus menulis dan mencari. Nah, barangkali percakapan malam ini pun bisa aku olah jadi bahan tulisan.


Restu: Mantul.


Encep: Kamu sadar gak, coba, aku udah nulis beberapa paragraf di atas? Kita diskusi di sini juga bagian dari latihan menulis dan berpikir. Makanya, coba balas WA-ku seperti sedang belajar menulis. Bisa dengan pernyataan, sanggahan, dsb. 


Restu: Iya Kang. Aku baru dapat ide. Selama ini banyak unek-unek soal apa pun. Mungkin aku ketik langsung aja ya cerita yang "tubuhnya" ada di Kota Serang. Apalagi soal kelas yang berkaitan dengan anak-anak, biar lebih terasa sama pembaca. Gimana?


Encep: Tulis saja dulu semua yang ada di kepala. Jangan perhatikan struktur dulu. Jangan perhatikan itu genre apa. Jangan perhatikan ejaan. Tulis dengan cepat. Jangan berhenti sebelum selesai. Atau patok waktunya, misal dua jam harus selesai. Acak-acakan juga gak apa-apa. Nanti tutup dulu laptopnya. Kalau udah fresh, buka lagi. Edit. Rapikan strukturnya. Ngetik gak harus di laptop kan? Di HP juga bisa. Ketik cepat.


Restu: Jadi begini, Kang, aku itu sekarang jadi pembina ekskul B.Indo, sempat terpikir, masa iya guru pembinanya belum ada karya yang bisa dijadikan contoh untuk anak-anaknya. Dari situ, barulah akhir-akhir ini terpanggil untuk mencoba membuat karya walau mungkin masih ecek-ecek. Barangkali kalau dari gurunya sudah terpanggil, anak-anak bisa semakin semangat untuk berkarya.


Encep: Betul sekali. Guru adalah role model. Kita menyuruh mereka begini dan begitu. Kalau tubuh kita tidak mengalami, pasti tidak sampai ruhnya. Bikin anak pintar menulis itu gampang, tapi jadi teladan itu yang berat.


Restu: Maka dari itu, tempo hari aku pernah bertanya soal mengisi materi di sekolah kan, ya, Kang. Aku rencana mau bikin pelatihan di sekolah untuk anak-anak yang punya bakat di bidang penulisan ini, Kang. Bener banget, ya Kang, kayak kena tamparan kalau semisal ada yang nanya, "Ibu udah punya karya apa?"


Encep: Waktu itu aku pernah nulis ”Beginikah Ekstrakurikuler di Sekolah Anda?”. Kamu Udah baca belum? Nih, coba baca dulu: Proses Kreatif | Beginikah Ekstrakurikuler Menulis di Sekolah Anda? - www.ngewiyak.com


Restu: Baik, izin aku baca ya, Kang.


Kiara, 23 Januari 2024


________

Penulis


Encep Abdullah, penulis yang memaksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit berjudul Diet Membaca, Ketiban Inspirasi (Maret 2023).