Friday, February 9, 2024

Puisi-Puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi Rifqi Septian Dewantara 



Aku Sibuk untuk Lahir, untuk Pergi


Lagi; satu buku sebelum tidur, lewat mimpi yang mengejar hidup. Aku tidak punya kata-kata di bawah sana, kesadaran meninabobokan diriku pada 1998


Kemudian aku terbangun, bersama 32 tahun kepala negara; turun. Entah bernyanyi memanggil kepergian, atau menyiasati tanggal-tanggal kepulangan


Di sini, seorang aku; menulis puisi dan membekap payudara ibu. Dari kota yang kehilangan papan. Dari kota yang kehilangan mapan — balik


Aku membadik, arah menangis; hardik

Aku kembali dari cengkeraman senjata. Hutan. Codet. Membelot dalam desing kesunyian

Aku mendesis kepalan ini mengeremus cobaan itu dan nanti

Aku meringis, kepalang diri menyudahi kehidupan itu dan nanti


Di singgahan kuburan; denda pati.

ada keraguan

di ujung bantal

ia selalu bermimpi kelabakan


Aku mau susu lagi; hari ini

tetapi payudara ibuku

dirampas oleh tuan pembungkus kardus

orang-orang itu mempergauli ibuku.

Mimpi-mimpiku, di buku-buku puisiku


Hari ini aku menangis lagi,

tidak minum susu lagi,

tidak tidur lagi


Hari ini aku berkemas lagi, memelas lagi,

lahir dan pergi kembali, itu dan nanti; jadi mati.


2023



Program Singkat 28 Kg


Memasang puing metal di dalam tubuhku, seperti melewati aroma kematian masa depan


Kutinggalkan sejenak 28 kg tubuh ini di Jalan Banda, lalu kubiarkan diriku menjadi orang gila yang menerobos kehidupan


Di hari itu, apa yang bergerak di kaki — tidak menjadi pagi lagi.


2023



Borneo


Kini derita,

sehitam legenda

insan pendatang bangsa

datang dari peta ketamakan


Kini,

tinggallah sekian

berpulanglah orang utan

Terus lahap! tanpa sisa

lebur-tembus! hunus!

enggan kubur! lebur!


Terimalah dendam ini, anak-anakku

leluhur meronta-ronta

kemajuan lahan tambang,

melunjak saja!


Tulislah sajak ini

sebelum binatang mati

tulislah satu puisi

sebelum tamat kehidupan ini


Saudagar-saudagar

di mana pun kau mengerabik

ingatlah hari ini!

tempel kelapa sawit di mana saja,

asal jangan di karangan sajak


2023


________


Penulis 


Rifqi Septian Dewantara asal Balikpapan, Kalimantan Timur Mei 1998. Karya-karyanya pernah tersebar di beberapa media online dan buku antologi puisi bersama. Kini, menetap di Halmahera, Maluku Utara. Bisa disapa melalui Facebook: Rifqi Septian Dewantara.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com