Friday, March 15, 2024

Cerpen Ken Hanggara | Hari Pembalasan yang Mustahil

Cerpen Ken Hanggara



Aku membayangkan sejak ratusan tahun lalu bumi membangun suatu sistem yang jauh berbeda dengan hari ini; tiap orang boleh membunuh siapa pun yang mereka ingin habisi.


Tak ada hukum yang dapat membuat manusia-manusia dalam sistem ini terjebak dalam sel tahanan. Membunuh tidak dianggap sebagai dosa atau perbuatan jahat karena membunuh tergolong cara membuat orang-orang berbahagia. Satu-satunya yang paling penting di sini hanyalah bagaimana dapat bertahan. Sungguh tak ubahnya hukum rimba.


Aku kerap membayangkan itu setelah ditinggal pergi Lusiana, seorang wanita yang kutemui di kedai kopi mewah di pinggiran Kota S. Lusiana lahir tujuh tahun setelahku; usia kami tidak terlalu terpaut jauh, tapi jika kami berjalan dan orang-orang yang tidak kami kenal melihat kami bergandengan, mereka pasti mengira lelaki yang bersamanya adalah seorang paman atau lelaki paruh baya yang cabul. 


Aku tahu mungkin itu pikiranku saja, tapi Lusiana tak pernah nyaman bertemu atau mengobrol denganku dan dia selalu saja merawat jarak di antara kami; baik secara fisik maupun nonfisik.


Kami tak pernah bergandengan tangan. Aku sekadar membayangkan saja. Memang aku menyukainya. Bukan hanya karena wajahnya yang nyaris terlihat seperti gadis yang baru menginjak masa puber, melainkan juga tubuhnya yang lumayan gepeng dan nyaris seperti tanpa isi; aku telah bosan mengenal perempuan bertubuh mekar atau yang dapat dibilang seksi dalam pendapat umum para pemuda di Kota S yang gemar menghabiskan waktu di kafe-kafe pusat prostitusi terselubung. Lusiana sangat jauh dari gambaran yang ideal tentang seorang wanita yang ingin seorang lelaki tiduri, tapi aku sangat berambisi untuk mendapatkan dirinya.


Tentu pikiran tentang fisik Lusiana bukanlah satu-satunya yang aku andalkan. Aku memang mulai mencintainya setelah kunjunganku ke kedai kopi mewah itu, di mana ia bekerja selama beberapa bulan terakhir. Aku malah terpikir untuk menikahinya dan aku juga mengangankan memiliki banyak anak darinya. Kubayangkan anak-anak kami yang baru lahir itu menyusu padanya yang bertubuh gepeng. Kubayangkan setiap malam dan bahkan mungkin tiap jam, kudekap tubuh kurusnya untuk memberinya kehangatan yang sangat sensual dan penuh cinta.


Demi situasiku berkat pertemuan dengan Lusiana, aku bahkan menghentikan kebiasaan buruk yang diam-diam kunikmati selama hampir sebelas tahun terakhir, yakni merancap dengan menggunakan foto-foto gadis yang tidak kukenal dari segala penjuru bumi. Aku juga benar-benar berhenti dari sekadar bermain ke kafe remang yang di masa lalu menjadi tempat pertaruhan harga diri bersama teman-teman satu asrama; persoalan seperti ini barangkali hanya dapat dipahami orang-orang bertubuh bugar seperti kami.


Sayangnya, Lusiana terlihat tak pernah tertarik padaku. Selama nyaris empat bulan usahaku tak pernah membuat kami benar-benar keluar berdua; sekadar makan atau pergi ke bioskop. Di suatu malam yang penuh salju, ia terlihat kencan bersama seorang lelaki. Mereka memasuki motel kelas bawah yang tak pernah kusinggahi karena uangku cukup untuk menyewa kamar yang baik dan nyaman untuk meniduri seorang wanita. 


Demi perasaanku padanya, aku membuntuti mereka sampai keduanya tiba persis di depan pintu kamar 160; aku belum ingin menyergap sampai memastikan apa yang Lusiana dan lelaki itu lakukan. Beberapa menit kemudian, dengan tubuhku yang kekar, kudobrak pintu dan kulihat tubuh gepeng gadis yang kudamba selama beberapa bulan terakhir, gadis yang kubayangkan menyusuiku dan anak-anak kami selamanya, berada dalam dekapan lelaki yang terlihat seperti tumpukan lemak.


Tentu kuhajar lelaki itu sampai babak belur. Lusiana mengumpat dan sempat melukai jidatku dengan asbak yang terbuat dari marmer sampai kelopak mataku terbasahi oleh darah yang mengucur. Aku tak tahu pergi ke mana gadis bertubuh gepeng itu; setahuku kami tak lagi bertemu. Kedai kopi itu tak lagi mempekerjakannya sebab ia mengundurkan diri. Aku hanya tahu aku membuat rontok gigi orang yang melucuti pakaian gadis yang lama kudamba.


Sejak itu hidupku benar-benar hancur. Lusiana memblokir jalanku ke tubuh dan pikirannya. Aku tak bisa mendapatkan informasi tentangnya. Aku tak tahu harus mencari ke mana lagi jejaknya?


Pada akhirnya satu-satunya yang tersisa tentangnya, yang adalah sebuah foto, kusimpan. Dengan foto itulah aku berlayar kembali ke masa lalu; mengurung diri dalam kamar dan merancap sembari membayangkan wajah perempuan yang menolakku tanpa ampun!


***


Jika sistem kehidupan manusia di muka bumi saat ini menghendaki hukum rimba, sosok yang pertama kubunuh adalah Lusiana.


Aku memang harus menghabisinya sebab dialah yang mengubah hidupku; aku tak lagi fokus bekerja dan orang-orang di sekitarku seakan menertawaiku untuk sesuatu yang memalukan. Tak seharusnya pria yang jelas-jelas tidak diinginkan seorang perempuan mendobrak kamar motel di mana perempuan itu hendak bersetubuh dengan lelaki lain sedemikian rupa demi harga diri. Justru karena itu harga diriku tercoreng. Setidaknya begitulah yang kemudian seorang teman katakan.


“Semua orang tahu soal kejadian di motel itu, Bung. Bukankah kamu juga sempat dipanggil polisi?” katanya.


“Mereka belum benar-benar menikah.”


“Tapi mereka sudah berpacaran lebih dari enam bulan. Sejak kapan kau naksir dia? Empat bulan yang lalu?”


“Omong kosong. Dia tak pernah bilang punya hubungan dengan siapa pun.”


“Atau dia enggan membiarkanmu tahu.”


Sejak obrolan itu, aku menjauh dari siapa pun. Aku tak lagi bergaul dengan orang-orang kedai; bahkan mengutuk dan bersumpah tak akan lagi kembali ke sana.


Jika saja Lusiana telah mati di tanganku, yang berikutnya mendapat giliran tentu adalah tiap orang yang mencoba menyembunyikan Lusiana. Orang-orang yang menertawaiku juga layak mati, termasuk teman yang menyudutkanku dengan dalih gadis itu sudah menjalin hubungan dengan lelaki lain.


Seluruh kejadian ini barangkali terlalu sederhana untuk memicu sebuah hasrat jauh dalam diriku untuk menjadi seorang pembunuh yang bebas berkeliaran tanpa harus ada hukum yang mengekang.


Mungkin tak perlu tindakan seekstrem itu untuk membalas apa yang Lusiana perbuat; membunuh seluruh orang yang kukehendaki mati di permukaan bumi ini, sedang sebagian dari mereka belum tentu tahu perkara Lusiana yang tidak sudi menerimaku? Yang benar saja!


Sesosok setan suatu malam singgah di jendela dan berbisik, “Tidakkah akan jadi lebih baik seandainya kamu dan Lusiana saja yang mati? Kamu habisi dia, lalu tembak kepalamu sendiri. Bagaimana?”


“Bagaimana kalau aku masih berharap menemukan sekali lagi perempuan berdada gepeng yang bersedia menjadi pasanganku sampai kiamat?”


“Membunuh perbuatan dosa yang menyenangkan. Membunuh setiap orang di bumi itu tak mungkin. Tapi, kamu bisa memilih sembarang korban, acak, atau seperti yang sempat terlintas padamu: membunuh orang-orang keparat yang membuat masalah denganmu.”


Kubayangkan itu benar-benar terjadi. Maksudku, membunuh semua orang yang tak kusukai. Benar-benar membunuh semua orang yang tak kusukai. Apa yang akan terjadi?


Jika saja hukum rimba berlaku, aku akan berangkat saat ini juga. Aku bisa menghilangkan nyawa dengan hanya bermodal tangan kosongku. Aku punya banyak uang; aku bisa membeli senjata untuk membunuh seseorang dari jarak jauh, dan aku tak perlu ketahuan. Bahkan, jikapun ketahuan, toh hukum yang berlaku adalah hukum rimba.


Hanya saja, utopia bagi kekacauan kepalaku jelas tak bakal terwujud. Aku paham bumi akan berlaku seperti ini sampai barangkali ratusan tahun ke depan; manusia akan tetap terjerat oleh kekangan hukum supaya tak banyak yang bisa berbuat seenak mereka. Tak semua orang layak mendapat hal-hal yang mereka inginkan, bukan? Seperti halnya diriku.


Aku tidak layak mendapat semua hal yang kudamba dan layak memperoleh apa yang memang ditakdirkan untukku; aku tak layak menikahi wanita bertubuh gepeng, tapi layak meniduri tiap pelacur yang dengan senang hati menyerahkan tubuh mereka untuk uang yang kubayarkan. Benar-benar keparat.


Bagaimana seandainya aku yang membangun sendiri sistem itu, dalam kepalaku? Biarlah utopiaku itu berada di kepalaku belaka dan orang-orang yang membuat masalah denganku mati oleh tanganku, sementara kelak penegak hukum bakal memburuku yang kabur entah ke mana. Bagaimana kalau itu saja yang layak terwujud? Bagaimana kalau itu yang semestinya aku upayakan?


Aku seharusnya tak cemas akan penjara. Di sana aku menetap untuk bertahun lamanya, dan mungkin saja bakal berakhir dengan hukuman mati. Aku terus membayangkan tentang itu berhari-hari, berminggu-minggu, sampai satu kali kubakar foto Lusiana untuk menyudahi kebiasaan buruk yang membuatku merasa kian tak berguna saja.


Menatap foto Lusiana yang terlahap oleh liukan api membuatku menyesali banyak hal. Aku tak bisa mengakui sebagian dari itu. Aku hanya bisa mengakui bahwa aku bisa saja mewujudkan seluruh pikiranku setelah ini atau menunda itu untuk beberapa waktu atau bahkan sama sekali tidak melakukannya dan hanya menjatuhkan diriku dari balkon setinggi ratusan meter untuk menemui setan dan membuat perhitungan dengannya sebab menganggapku takut untuk sekadar mati.


Lagi pula semua sudah tidak lagi penting. 


Gempol, 2019--2023



________

Penulis


Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), Buku Panduan Mati (2022), dan Pengetahuan Baru Umat Manusia (2024).


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com