Friday, March 15, 2024

Puisi-Puisi Andi Wirambara

Puisi Andi Wirambara



Mencatat Rindu dari Magetan


jikalau rindu perlu notula

maka pada tipis kabut, 

kucatatkan untukmu

deru klise tersebut 

pada garis jumpa

tengah dan timur

di mana celah hutan-hutan

dengan pipi semu tersipu

meminta pagi

tak pernah terbit ragu-ragu


kamu bisa menjadi hutan,

kamu bisa menjadi kabut 

kamu juga bisa menjadi seutuh-utuh 

rindu yang menempias 

di sunyi hutan dan kabutku. 


(Magetan, 2018)



Sebelum Tubuhku Benar-benar Ambruk


aku terbangun dalam keadaan benang

di otakku menyala-nyala 

berwarna-warna dalam remang cuaca 


bau minyak kayu putih menguap ke atas langit

kemudian menjatuhkan pelukan-pelukan

sebagai hujan yang meniru hangat

senyummu yang genahar


nanti, atau barangkali esok 

jika tubuhku benar-benar ambruk

demi remuk guling dan kusut selimut 

biarlah kutumbalkan segala puisi rindu

pecah di lantai

dan merekat kepingnya satu-satu

menjadi mataku dan matamu


sebagai sepasang antibiotik 

dan paracetamol 

yang saling memandang.


(Malang, 2014)



Surat dan Ketukan Pintu


Katakan, bahwa segala ketukan pintu di hatiku adalah sia-sia. 

Dan gagang pintu telah usang. Mendebukan namamu.


Sekarang, kubuka lagi jendela 

tempat pertama pagi mengenalkanku kepadamu. 

Kepada kekosongan di pagi-pagi lain.


Jendela itu, katamu, tempat terbaik melihat terbit pagi. 

Namun belakangan, aku tahu, pagi melihatmu sebaliknya.

Hingga malam turun, aku hanya mampu memanggil

dan memanggul tatapanmu di muka daun-daun basah.


Daun yang ditumbuhi embun kemudian merayap ke jendela

namun kala kusibak tirainya, kau sudah tak ada.


Di balik jendela ini, layar ponselku mematikan sinyalnya sendiri. 

Barangkali, seperti kau. Jika aku yang datang.


Maka kupecahkan jendela ini. Lalu wangi bulan berbondong 

masuk ke kamarku. Bulan pun. Ke pangkuan dan berkisah, 

mendongengiku tentang pangeran yang pergi ke istana, 

namun tak pernah singgah.


Sekadar melesakkan panah berisi surat-surat 

yang kubaca dengan braille air mata. Kusesap dengan keheningan.


Sambil menantimu kembali. Untuk kukembalikan surat ini. 

Sebagai panah balasan, yang akan mampir di dadamu.

Dan tentu kau takkan pernah membalasnya lagi


(2023)


_______


Penulis


Andi Wirambara, lahir 24 September di Ambon dan berdomisili di Malang. Praktisi hukum yang menyenangi sastra. Karya-karyanya telah dimuat di sejumlah media nasional dan lokal baik cetak maupun daring. Karyanya juga terhimpun pada sejumlah buku antologi bersama. Buku tunggalnya yang telah terbit: kumpulan puisi Harmonika Lelaki Sepi (2010), kumpulan cerpen Sekeping Tanda (2011), kumpulan puisi Lengkung (2012), dan kumpulan cerpen Tentang Pertemuan (2014).


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com